Category Archives: sejarah

Riwayat Kabah

 

Kabah  awalnya dibangun oleh Adam dan kemudian anak Adam, Syist, melanjutkannya. Saat terjadi banjir Nabi Nuh, Kabah ikut musnah dan Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membangun kembali. Al-Hafiz Imaduddin Ibnu Katsir mencatat riwayat itu berasal dari ahli kitab (Bani Israil), bukan dari Nabi Muhammad.

Kabah yang dibangun Ibrahim pernah rusak pada masa kekuasaan Kabilah Amaliq. Kabah dibangun kembali sesuai rancangan yang dibuat Ibrahim tanpa ada penambahan ataupun pengurangan. Saat dikuasai Kabilah Jurhum, Kabah juga mengalami kerusakan dan dibangun kembali dengan meninggikan fondasi. Pintu dibuat berdaun dua dan dikunci.

Di masa Qusai bin Kilab, Hajar Aswad sempat hilang diambil oleh anak-anak Mudhar bin Nizar dan ditanam di sebuah bukit. Qusai adalah orang pertama dari bangsa Quraisy yang mengelola Ka’bah selepas Nabi Ibrahim. Di masa Qusai ini, tinggi Ka’bah ditambah menjadi 25 hasta dan diberi atap. Setelah Hajar Aswad ditemukan, kemudian disimpan oleh Qusai, hingga masa Ka’bah dikuasai oleh Quraisy pada masa Nabi Muhammad.

Continue reading

Sejarah Hari Ibu

Hari Ibu bermula ketika organisasi-organisasi perempuan 22 Desember 1928 mengadakan Kongres Perempuan di Yogyakarta dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Organisasi perempuan ini dibentuk atas semangat perjuangan pahlawan wanita abad ke-19, seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutiah dan RA Kartini. Melalui Dekrit Presiden No 316 tahun 1959, Presiden Soekarno menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu, dan dirayakan secara nasional.
Sementara di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan dan Hongkong, Hari Ibu dirayakan hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional diperingati setiap bulan Maret.
Dalam bingkai sosial, Hari Ibu dinilai sebagai bentuk konkret peran seorang perempuan dalam membangun moral generasi bangsa, baik melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, teladan, maupun etika bermasyarakat. Perayaan Hari Ibu adalah cermin dari perjuangan dan pengorbanan yang telah ditunjukkan oleh perempuan-perempuan terbaik negeri ini.
Konon, tugas dan tanggung jawab perempuan hanya sebatas menyelesaikan pekerjaan rumah. Keberadaan perempuan dinilai menjadi polemik dalam tatanan sosial masyarakat. Bahkan, seringkali perempuan dianggap seperti bola, dipermainkan ke kanan dan ke kiri. Demikian mainstream yang terbangun di mata masyarakat. Kaum hawa adalah kaum marjinal, terpinggirkan dan selalu nomor dua. Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), penganiayaan dan pembunuhan TKW, perkosaan, perdagangan manusia dan segudang problematika lain yang memasung kemerdekaan wanita sebagai manusia, adalah teror sosial memilukan dan memalukan.
Hari Ibu merupakan momentum besar untuk melihat kembali tugas dan tanggung jawab seorang perempuan, sekaligus meletakkan posisi perempuan pada tatanan sosial yang luhur dan mulia. Perempuan ikut andil dalam memerankan tugasnya sebagai penggerak di berbagai aspek kehidupan, pemenuhan terhadap kebutuhan hidup, baik primer, sekunder maupun tersier dalam bidang keamanan, kesehatan, ekonomi, pemerintahan, pendidikan, bahkan pemberdayaan hak-hak kaum wanita sendiri yang masih compang-camping, menjadi mutlak adanya.
Hari Ibu adalah hari dimana seluruh kekuatan sosial bertumpu kepada satu tujuan, yakni mengembalikan kemuliaan ibu sebagai sekolah pertama bagi anak, dalam rangka membangun moral generasi penggenggam masa depan bangsa. Walhasil, Hari Ibu dapat dimaknai tidak hanya sebatas hari kasih sayang, hari bebas tugas rutinitas di rumah, hari senang-senang, ataupun hari perayaan semata. Lebih dari itu, Hari Ibu merupakan kebangkitan kaum perempuan

sumber [http://cerobongdimensi.blog*spot.com/2010/12/sejarah-hari-ibu.html]

UNDANGAN: Pameran Sejarah Bioskop Indonesia


Sebagai bagian dari acara Sejarah adalah Sekarang 4 – Bulan Film Nasional 2010
Kineforum, Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, dan Karbonjournal.org
mempersembahkan:

PAMERAN SEJARAH BIOSKOP INDONESIA
1 – 31 Maret 2010
Pameran dibuka setiap hari pukul 14.00 – 20.00

Dibuka dengan Konferensi Pers
Sejarah adalah Sekarang 4 – Bulan Film Nasional 2010
1 Maret 2010, 15.00 WIB

Bioskop adalah saksi bisu bagaimana masyarakat pernah dipilah berdasarkan ras dan kelas, bagaimana impor film ditukar dengan ekspor tekstil, distribusi film yang dimonopoli, atau film nasional yang hanya bisa diputar di bioskop kelas bawah. Di ruang gelap, bioskop telah memutar banyak hal, dari film sebagai berita, propaganda, hiburan, hingga film sebagai ekspresi dan kritik artistik, serta menjadi ruang diskusi. Bioskop selalu aktif menemani sejarah masyarakat dan kotanya.

Pameran ini merekam sejarah panjang bioskop di Indonesia yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Melalui rangkaian teks dan foto, kita akan mengingat betapa bioskop memiliki banyak wajah; dari sebuah rumah biasa, arsitektur megah pada zamannya hingga menjadi gedung tua yang dihancurkan atau beralih fungsi, retail dalam mal, sampai sebuah ruang pemutaran mungil.

Pameran Sejarah Bioskop Indonesia yang diadakan setiap tahun sejak 2008 ini merupakan pameran yang tumbuh seiring bertambahnya arsip sejarah yang berhasil diteliti. Pada pameran ketiga di 2010, selain merangkai sejarah panjang bioskop dari 1891 secara singkat, pameran ini juga menampilkan sejumlah sejarah film, politik, dan sosial di Indonesia, sebagai usaha untuk membaca kembali hubungan sejarah bioskop Indonesia di tengah gejolak zaman dan masyarakatnya.