Category Archives: Ruang

Panggung Pagelaran Seni. Foto diambil 14 Oktober 2012 Pkl 18:17

Let’s Visit (Sampah) South Sulawesi

Setiap pesta akan menghasilkan sampah…

Saya lupa kapan kapan pertama kali sampai pada kesimpulan seperti kutipan di atas. Kutipan itu teringat kembali saat mengunjungi Fort Rotterdam dalam rangka Piknik Merajut Komunitas Qui’-Qui’ Makassar. Komunitas yang mnghimpun para perajut ini memang rutin mengadakan piknik sebulan sekali di Fort Rotterdam.

Sampah bertebaran usai pesta Pagelaran Seni 11-14 Oktober 2012 di Fort Rotterdam

Continue reading

RM Nike Ardilla; Wujud Cinta Pada Idola

Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang kesepian dan resah. Untuk mengatasi rasa sepi dan resah itulah maka manusia membutuhkan teman tuk berbagi. Pada usia remaja, manusia tak hanya membutuhkan teman tetapi juga membutuhkan seorang idola. Idola adalah sosok yang sempurna dan sesuai keinginan dalam proses pembentukan jati diri.

Sosok yang seringkali menjadi idola adalah para bintang terkenal seperti penyanyi atau sebuah band. Segala tingkah laku dan ucapan mereka menjadi luar biasa karena pemberitaan media. Ketika seseorang, khususnya remaja, menemukan sosok itu maka yang terjadi adalah pengkultusan dan pemujaan akan sosok itu. Seringkali bahkan mengarah pada fanatisme. Fanatisme dan kecintaan pada sosok tertentu seringkali berwujud pada hal-hal yang tidak masuk akal. Seorang penggemar terkadang mewujudkan kecintaan pada sosok idola secara berlebihan.

Continue reading

Sepi Di Tepi Pagi Karebosi

Tulisan ini pernah dimuat di Panyingkul! pada 14-08-2006, saya muat ulang sekadar pengingat bahwa kita pernah memiliki ruang publik bernama Karebosi. Alih fungsi Karebosi dari alun-alun kota menjadi pusat perdagangan tak hanya merenggut hak kita sebagai warga akan ruang publik, tapi juga menyingkirkan saudara-saudara kita para waria!

“Pingkan ini waria yang paling jujur di sini….”
Laki-laki tua berusia 53 tahun yang dipanggil Pak Le` itu terlihat bersungguh-sungguh menyatakan pendapatnya. Sementara Pingkan yang duduk tak jauh dari Pak Le’, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya dengan pujian itu.
Angin menjelang dini hari bertiup pelan. Cuaca awal April terasa segar di tengah malam seperti ini. Kota Makassar yang terlelap menyisakan sedikit geliat kehidupan di sejumlah tempat, termasuk di Karebosi. Di alun-alun kota itu, segelintir orang berusaha melawan sepi. Mereka tetap terjaga untuk urusan masing-masing. Seperti halnya Pingkan, sang waria yang malam itu terlihat berdandan meriah. Juga Pak Le`, sang perawat lapangan Makassar Football School, yang kerap menghabiskan malam di salah satu warung di sudut Karebosi, untuk sekadar bercakap-cakap dengan pemilik warung dan pelanggan.

Pemilik warung, Daeng Bunga namanya, tampak sigap melayani pesanan sejumlah pelanggan, termasuk Pingkan yang bergabung dengan seorang waria dan seorang lelaki yang telah terlebih dahulu duduk di bangku warung yang terletak di sudut barat-selatan Karebosi ini.

Berteman semangkuk mi instan dan secangkir kopi, saya pun membaur dengan pelanggan yang duduk saling berdekatan. Jajajan botol minuman yang dipajang Daeng Bunga, tampak berkilau tertimpa cahaya neon. Tak jauh dari tempat kami duduk, berdiri tiang lampu merkuri yang tak menyala. Sejauh mata memandang, Karebosi tampak gelap.

“Siang hari saya aktif di salah satu lembaga swadaya masyarakat, malam hari saya jualan kondom di sini,” Pingkan bertutur sambil sesekali membetulkan letak duduknya. Ia tampak rileks duduk dengan kaki saling disilangkan sambil mengisap sebatang rokok putih. Wajahnya tidak tampak lelah. Tubuhnya dibalut baju terusan one-piece berwarna merah muda. Suaranya terdengar ramah dan bersahabat.

Continue reading

Sebuah Nama Dan Idola Dalam Plang Salon

semasa kecil saya tak begitu menyukai nama saya. tak keren, begitu anggap saya. terkadang saya ingin menggantinya dengan nama lain. sekarang, meski tak lagi memiliki keinginan itu tetap saja saya beranggapan bahwa nama saya tak memiliki nilai jual. apalagi bila dipakai sebagai brand, tentu sangat tidak menjual bila nama itu dipakai sebagai sebuah merek produk atau nama tempat.

saya selalu memperkenalkan diri dengan nama panggilan, terasa lebih nyaman dibanding nama lengkap. hanya sesekali saya menyebutkan nama lengkap dengan tambahan nama ayah di belakang, bahkan di ajang formal sekalipun. saya hanya menyebutkan atau menuliskan nama lengkap saya di lembaran yang menuntut pencantumannya.

Continue reading

Nike Ardilla Terus Bernyanyi di Wonomulyo

Masih ingat Nike Ardilla? Artis yang melejit namanya di era 1990-an, yang tewas dalam kecelakaan mobil pada tanggal 19 Maret 1995 itu ternyata masih terdengar suaranya di Wonomulyo, Sulawesi Barat. Suara Nike yang mendayu tiap hari terdengar di Rumah Makan Nike Ardilla yang dikelola oleh Muhammad Takdir di kota itu. Kata pria lajang ini, kecintaannya terhadap idolanya itu diwujudkan melalui usaha rumah makan dan juga dengan meneruskan cita-cita artis asal Bandung itu.

Menurut Takdir, awalnya ia menunjukkan kekaguman dengan cara mengumpul kaset, foto, suvenir, guntingan berita koran dan segala pernak-pernik Nike, serta bergabung di Nike Ardilla Fans Club Makassar. Namun, ketika koleksinya tak menyisakan ruang dalam kamarnya, Takdir mulai berpikir bagaimana caranya agar koleksinya bisa dinikmati masyarakat, khususnya sesama penggemar Nike Ardilla. “Saya melihat tempat yang banyak dikunjungi masyarakat adalah rumah makan. Saya mulai berpikir untuk membuka sebuah rumah makan lengkap dengan galeri yang memajang koleksi saya,” tutur Takdir.

Uniknya, pemilik rumah makan ini mengaku menjadi fans Nike Ardilla setahun setelah pelantun tembang “Biarlah Aku Mengalah” ini meninggal. Perkenalannya dengan Nike diawali oleh sebuah foto dan kaset yang diberikan oleh seorang teman. Lagu pertama yang ia dengar justru lagu terakhir almarhumah yang meninggal 19 Maret 1995 ini, yakni “Mama Aku Ingin Pulang”. Tak lama setelah album itu keluar, Nike Ardilla meninggal karena kecelakaan yang dialaminya. “Kebetulan kaset itu kaset karaoke, jadi bisa dengar suara aslinya yang serak serak gitu… Saya mulai suka sejak itu,” tuturnya mengenai perkenalannya dengan artis yang meninggal 19 Maret 1995 ini.

tulisan lengkap dapat dibaca di Panyingkul!