Tulisan ini pernah dimuat di Panyingkul! pada 14-08-2006, saya muat ulang sekadar pengingat bahwa kita pernah memiliki ruang publik bernama Karebosi. Alih fungsi Karebosi dari alun-alun kota menjadi pusat perdagangan tak hanya merenggut hak kita sebagai warga akan ruang publik, tapi juga menyingkirkan saudara-saudara kita para waria!
“Pingkan ini waria yang paling jujur di sini….”
Laki-laki tua berusia 53 tahun yang dipanggil Pak Le` itu terlihat bersungguh-sungguh menyatakan pendapatnya. Sementara Pingkan yang duduk tak jauh dari Pak Le’, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya dengan pujian itu.
Angin menjelang dini hari bertiup pelan. Cuaca awal April terasa segar di tengah malam seperti ini. Kota Makassar yang terlelap menyisakan sedikit geliat kehidupan di sejumlah tempat, termasuk di Karebosi. Di alun-alun kota itu, segelintir orang berusaha melawan sepi. Mereka tetap terjaga untuk urusan masing-masing. Seperti halnya Pingkan, sang waria yang malam itu terlihat berdandan meriah. Juga Pak Le`, sang perawat lapangan Makassar Football School, yang kerap menghabiskan malam di salah satu warung di sudut Karebosi, untuk sekadar bercakap-cakap dengan pemilik warung dan pelanggan.
Pemilik warung, Daeng Bunga namanya, tampak sigap melayani pesanan sejumlah pelanggan, termasuk Pingkan yang bergabung dengan seorang waria dan seorang lelaki yang telah terlebih dahulu duduk di bangku warung yang terletak di sudut barat-selatan Karebosi ini.
Berteman semangkuk mi instan dan secangkir kopi, saya pun membaur dengan pelanggan yang duduk saling berdekatan. Jajajan botol minuman yang dipajang Daeng Bunga, tampak berkilau tertimpa cahaya neon. Tak jauh dari tempat kami duduk, berdiri tiang lampu merkuri yang tak menyala. Sejauh mata memandang, Karebosi tampak gelap.
“Siang hari saya aktif di salah satu lembaga swadaya masyarakat, malam hari saya jualan kondom di sini,” Pingkan bertutur sambil sesekali membetulkan letak duduknya. Ia tampak rileks duduk dengan kaki saling disilangkan sambil mengisap sebatang rokok putih. Wajahnya tidak tampak lelah. Tubuhnya dibalut baju terusan one-piece berwarna merah muda. Suaranya terdengar ramah dan bersahabat.
Continue reading →