Category Archives: articles

adsense

Google Adsense, Sekali Lagi

Google Adsense, Sekali Lagi – Lelakibugis. Beberapa hari ini milis Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri ramai membincangkan Google Adsense berbahasa Indonesia. Terhitung 1 Februari 2012 Google Adsense kini membuka kesempatan bagi blog berbahasa Indonesia. Tentu ini kabar gembira bagi pemburu dollar berbasis adsense karena tak perlu lagi bersusah payah membuat blog berbahasa Inggris atau bahasa lain yang didukung oleh Google.

Saya pun akhirnya membuka kembali akun adsense yang sempat saya abaikan sejak laman blog yang saya daftarkan tak bisa menampilkan iklan. Kasus ad serving disabled itu menimpa blog utama saya tak lama setelah saya melakukan pencairan uang yang dihasilkan blog saya dalam Google Adsense. Penasaran melihat ramainya pembahasan adsense di milis, saya pun jadi tertarik mencobanya lagi.

Continue reading

Ketersinggungan Orang-Orang di Jalanan

oleh Sudirman HN


Lamunan saya tiba-tiba terlontar ke timbunan sejarah saat membaca dan mendengar dari jauh kemarahan banyak orang yang melekatkan ‘identitas Sulawesi Selatan’ (identitas Bugis, identitas Makassar, atau gabungan semuanya itu), khususnya kemarahan orang-orang biasa di jalanan yang merasa identitas Bugis, identitas Makasar atau identitas Sulselnya cedera. Ya, tentu setelah Alifian Mallarangeng melontarkan pernyataan tak hati-hati itu.

Saya tiba-tiba teringat pada cerita-cerita orang-orang tua biasa di banyak pelosok Sulawesi Selatan mengapa mereka yang jauh dari hiruk-pikuk intrik politik di Jakarta dan Makassar di awal tahun 50-an itu kemudian berbondong-bondong masuk ke hutan-hutan memanggul senjata mengikuti Kahar Muzakkar (KM). Orang-orang tua itu menyebut ketersinggungan dan kemudian merambat jauh pada identitas daerah, kesukuan (juga kemudian agama) yang cedera yang membuat mereka masuk hutan dan ikut berdarah-darah dalam permberontakan bersenjata paling lama dalam sejarah Indonesia itu.

Pada awalnya adalah ketersinggungan. KM, orang Sulawesi Selatan pertama yang menjadi letnan kolonel (overste) dalam revolusi dan dalam ketentaraan negara Indonesia yang masih muda itu, batal diangkat menjadi orang pertama dalam dinas ketentaraan Indonesia di Makassar. Alih-alih, orang-orang dari Sulawesi Utara mendominasi posisi-posisi elit ketentaraan di Makassar. Mereka-mereka yang dari utara itu memang jauh lebih terdidik, termasuk dalam kemiliteran, beberapa di antaranya seperti Alex Kawilarang bahkan konon alumnus sekolah militer di Breda Eropa sana dan sempat menjadi perwira KNIL. Latar belakang pendidikan kemiliteran membuat elit-elit ketentaraan di Jawa yang sedang melakukan rasionalisasi tentara setelah Belanda hengkang menganggap perwira-perwira asal Sulawesi Utara itu lebih berdisiplin ketimbang orang-orang Sulawesi Selatan yang banyak kurang terdidik dan berasal dari layskar-lasykar rakyat. Lasykar-lasykar yang masih segar mengingat bagaimana mereka berdarah-darah bergerilya di Jawa maupun di Sulawesi Selatan menghadapi keganasan NICA dengan persenjataan seadanya. Barbara Harvey Sillars dengan rinci membahas ketersinggungan, identitas dan harga diri yang cedera itu dalam buku monumentalnya ‘Pemberontakan Kahar Muzakkar : dari tradisi ke DI/TII’ (Jakarta : Pustaka Utama Grafiti,1989).

Saya membayangkan banyak anak-anak muda di pelosok-pelosok Sulawesi Selatan dan Tenggara, bahkan mereka yang sebelumnya tidak sempat menjadi lasykar-lasykar melawan Belanda, sulit menahan gejolak darah mudanya ketika mendengar KM putra Sulawesi Selatan legendaris dicederai harga dirinya. Mereka-mereka ini jelas akan sangat sulit memahami kebijakan rasionalisasi tentara yang dilakukan Jakarta, sebuah tempat yang secara geografis dan sosial-politik jauh dari tempat mereka berdiri. Ketersinggungan, romantisme, pesona KM yang konon orator ulung dengan segenap mitos yang melekat pada dirinya menyeret anak-anak muda kampung itu ke dalam gelora gerakan bersenjata. KM beberapa tahun kemudian menambahkan identitas Islam dalam orasi-orasinya dan pemberontakan bersenjata itu semakin menjalar ke mana-mana dan merepotkan Jakarta, sekaligus menorekhkan luka yang dalam dan menelan korban jiwa dan harta benda yang teramat banyak.

Skala kemarahan terkait pernyataan Mallarengeng dan kemudian dampaknya memang mungkin tak seeksplosif kemarahan di jalan-jalan awal tahun 50-an itu, namun tetap saja kita harus waspada. Dalam hal pernyataraan Mallarangeng, kemarahan orang-orang di jalanan (saya tak terlalu tertarik pada kemarahan para elit Sulawesi Selatan yang tentu tak bisa dilepaskan dalam konteks pertarungan pilpres saat ini) mengenai identitas Bugis, Makassar dan Sulawesi Selatan yang cedera tampaknya lebih ‘murni’ ketimbang kemarahan elit-elit Sulsel. Tapi harus diingat pula kemarahan di jalan-jalan juga kerap mudah digiring dan dimanipulasi. Meskipun mungkin banyak dari mereka-mereka yang melontarkan kemarahan di jalan-jalan itu juga sedikit banyak tahu mereka tak akan banyak mendapatkan keuntungan material secara personal bahkan bila seorang Bugis Sulsel menjadi presiden di Indonesia sekalipun. Sejarah menunjukkan pola politik dan kepemimpinan transaksional yang sudah terlalu lama berakar dalam elit-elit mapan perpolitikan di Indonesia sangat sering ‘melupakan’ kepentingan ‘nation’ ketika masa pemilu berlalu. Tapi masalah ‘identitas’ meskipun cair senantiasa peka dan berpotensi membakar.

Makanya untuk segenap elit-elit politik (khususnya elit-elit Sulsel) yang saling berhadap-hadapan dalam konteks kepentingan menjelang pilpres saat ini, hati-hatilah melontarkan pernyataan terutama bila pernyataan itu menyerempet masalah ‘identitas’ yang sangat gampang membakar itu. Masalah ‘identitas’ ini perlu dibicarakan dengan dingin dan cerdas, namun itu tampaknya sulit dilakukan hari-hari ini terutama bila dipicu oleh orang-orang yang kepentingannya sedang saling bertabrakan menjelang pilpres beberapa hari mendatang. Para elit yang hanya berbicara mengenai ‘identitas’ dalam bingkai perebutan kekuasaan dan kepentingan. Orang-orang yang kepentingannya setelah pilpres usai bisa jadi tak banyak kaitannya dengan kepentingan orang-orang biasa di jalanan yang sedang marah karena identitas kedaerahannya dicederai.

sumber [http://www.facebook.com/profile.php?id=1061896897&v=info&viewas=711606326#/note.php?note_id=98559709521&ref=nf]

Pengen Dapat Duit Dengan NgeBlog? Daftar di Sini

Anak Kami Tidak Butuh "Sekolah"

Majalah AERA Senin, 8 Desember 2008
Versi asli ada di sini
Sebagai reaksi penolakan terhadap kurikulum pendidikan nasional Jepang yang
longgar, saat ini ‘perang ujian masuk sekolah dan universitas’ semakin memanas.
Akan tetapi, kaum elit yang berhasil dalam ujian belum tentu sukses di masyarakat.
Para orang tua yang menaruh perhatian pada pendidikan membuang pilihan ber-”sekolah” bagi anak-anak mereka.
.
Ibu A (usia 46) adalah dosen universitas swasta di kota Tokyo.
Sekolah putra tertuanya (8) berada di Distrik Suginami, Tokyo, melewati Taman Sanshinomori yang rindang.
Sekolah itu dari tampak luar hanya rumah biasa. Pukul 8.30 pagi, 19 orang
anak berkumpul di ruangan berlantai tatami, duduk mengelilingi seorang pria
dewasa. Pria yang dipanggil Paman itu bertanya,”Hari libur kalian melakukan apa?”
Seorang anak bercerita ia bertanding judo, lalu seorang anak lain berceletuk,

“Apa itu ‘oosotogari’?”

Oosotogari (major outer reaping) adalah salah satu teknik judo. Maka mereka memperagakannya.

Demikian suasana sekolah Tokyo Community School (TCS) yang didirikan Agustus
2004. Pria yang disebut Paman adalah Riki Ichikawa (45), kepala sekolah.
Acara “Kamar Paman” yang berupaya menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus
mendengarkan cerita orang lain tersebut merupakan acara unggulan pada pagi hari di sekolah.
Kebanyakan topik yang muncul adalah berita yang sedang hangat.

TCS bukan SD yang diatur dalam UU Pendidikan Sekolah Jepang. Dengan
melaporkan kegiatan belajar di TCS, anak-anak yang tetap terdaftar di
sekolah negeri setempat (namun tidak pergi sekolah) diakui catatan kehadirannya dan menerima ijazah kelulusan SD negeri.
Ibu A, sejak putra tertuanya berusia 2 tahun, memilih menyekolahkan putranya di TCS setelah melihat-lihat berbagai SD.
“Keputusan ini memasukkan unsur protes saya terhadap pendidikan yang saya terima di masa kecil. Untuk putra saya, saya ingin dia menerima pendidikan yang baik,” ujar Ibu A.

Pendidikan Jepang yang bergaya penyampaian satu arah tidak akan bisa unjuk
gigi di dunia internasional. Dasar pendapatnya itu ada pada pengalaman masa
ia meneruskan kuliah master di Amerika Serikat. Sebelum kemampuan bahasa Inggrisnya, ia merasa dari
awal tidak punya kemampuan presentasi, dan tidak mampu berpartisipasi dalam diskusi.
Ibu A merasa kalah dan kesal. Ia merasakan bahwa yang paling penting adalah kemampuan menyampaikan pikiran kepada lawan bicara dan
kemampuan belajar secara mandiri.

*Mencapai puncak Gunung Fuji di usia kelas 1 SD

Ibu A juga merasakan sendiri penurunan kualitas mahasiswa di hadapannya
selama ia mengajar di universitas. Suatu kali, ia menantang mahasiswanya.
“Sewaktu saya menceritakan keadaan kalian semua pada suami saya. Ia menanggapi ‘yo mo sue’.”
‘Yo mo sue’ artinya ‘dunia mau kiamat.’

Ibu A mengharapkan reaksi namun para mahasiswanya bengong saja. Ketika ia
mencoba meminta tanggapan pada salah seorang dari mereka, ia malah balik
ditanyai,

“Apa arti ‘yo mo sue’?”

Para mahasiswa tidak punya kebiasaan belajar mempersiapkan bahan sendiri,
juga tidak mampu menguasai buku teks yang sama dengan 10 tahun lalu. Minat
terhadap peristiwa dunia luar sangat rendah. Terhadap masalah dana pensiun Jepang yang hilang pun, tidak paham.
Ibu A tak ayal berteriak marah, “Sudahlah! Kalian semua tidak pantas dapat dana pensiun!”
Para mahasiswa tidak membaca buku maupun koran dengan benar. Mereka ini untuk apa datang ke kampus?

Menurut Ibu A,”Banyak yang bilang bahwa jika nilai-nilai ujian tinggi =
banyak pilihan karir. Tetapi tidak ada gunanya pilihan yang banyak itu, jika
dia sendiri tidak tahu apa yang ingin dilakukannya.”
Seorang guru SMA, Pak B (40), juga memasukkan putra tertuanya (8) ke TCS. Ia
agak tercekik dengan biaya sekolah 720 ribu yen per tahun (87 juta rupiah),
namun ia puas dengan pertumbuhan putranya yang menumpuk pengalaman berharga tak tergantikan.

Putranya mencapai puncak Gunung Fuji usia kelas 1 SD, juga telah melihat
ikan-ikan hidup yang terjaring di perairan Hokkaido.
Musim panas tahun ini, pada pengalaman bertani di Propinsi Nagano, ia mengalami bertudung tikar di tengah-tengah hujan.
Candanya, “Kalau di masa depan jadi gelandangan pun, masih bisa hidup.”
“He-eh,” angguk putranya tersenyum.
Putranya tidak lagi minta dibelikan mainan game Nintendo DS yang tahun lalu begitu diinginkannya.

Di TCS, jadwal pelajaran berganti setiap bulan.
Pagi hari ‘Pelajaran Dasar’, siang intinya ‘Pelajaran Bertema’. Misalnya untuk tema kelas 3 SD: ‘Campuran
Baik dan Buruk’, anak-anak meneliti batu, sungai, dan bentuk tanah guna
mengetahui mekanisme lapisan bumi. Mereka benar-benar pergi meneliti batu di
hulu sungai, lalu pada pekan berikutnya membandingkan dengan batu di antara hulu dan hilir.
Ada anak yang menemukan batu berfosil, ada anak yang meluaskan rasa ingin tahu pada batu pemantik api.
Beginilah cara belajar menyelidiki melalui pengalaman langsung yang menjadi ciri khas TCS.

* Orang Dewasa Menjadi Pendukung Rasa Ingin Tahu Anak

Direktur TCS, Kazuyuki Kubo (42) menyampaikan pikirannya tentang pendidikan
sekolah dasar.
“Yang penting adalah hasrat belajar. Selama hasrat itu berlanjut, manusia
tumbuh dewasa. Anak SD memiliki rasa ingin tahu terbesar. Rasa ingin tahu
bukanlah sesuatu yang dibuat. Yang penting orang dewasa mendukung rasa ingin
tahu itu dan tidak menghancurkannya.”

Ada persamaan pada orang tua yang memasukkan anaknya ke TCS. Tidak hanya Ibu
A, Pak B, Kubo yang kedua anaknya menjadi siswa di sana, semua pernah kuliah
ke luar negeri. Selain itu, ada juga orang tua yang bekerja di perusahaan
asing. Persamaannya yang menonjol adalah mereka para orang tua yang mengetahui dunia di luar Jepang.
Ujar Pak B,
“Saya merasakan pentingnya pembelajaran dengan pengalaman langsung yang
membina kemampuan belajar mandiri, untuk menjadi manusia yang bisa bertahan
hidup pada abad ke-21. Saya tidak ingin benih rasa ingin tahu anak saya dicabut (sekolah biasa).”
Tambahnya, ia merasa jumlah murid satu kelas maksimal 6 orang di TCS sangat
menarik, dibandingkan dengan pengalamannya sendiri bekerja sebagai guru di SMA dengan jam pelajaran standar.

“Meskipun ada anak SD yang tidak bisa menulis namanya sendiri dengan huruf
kanji, kalau didampingi guru di dekatnya, kecepatan kemajuannya akan
mengejutkan. Saya pikir semua anak ingin diakui keberadaan dan kemampuannya.”

* Ikut Terlibat Sesuai Penilaian Sendiri

Dengan jumlah murid begitu sedikit, apakah kemampuan bersosialisasi anak
bisa tumbuh? Ada sementara orang yang khawatir, namun di situlah letak
kelebihannya. Pihak sekolah menjadi mudah memanajemen kelas, dan
dimungkinkan untuk mengadakan kegiatan belajar melalui pengalaman yang bermutu tinggi.

Kubo mengatakan,
“Kalau anak berada dalam kelas 30-40 orang, jika ada teman yang tidak
disukainya, tinggal acuhkan saja. Tetapi, dengan jumlah sedikit, setiap
orang mau tidak mau harus berinteraksi. Dalam kelompok lintas usia ini,
dengan berinteraksi dengan orang lain sesuai penilaian dirinya sendiri, maka
kemampuan komunikasi yang sesungguhnya akan muncul.”

Putra tertua Kubo, tahun ini, akan ikut ujian SMP swasta yang dipilihnya
sendiri. Namun, ia tidak berencana ikut les bimbingan belajar. Ibu A pun,
meskipun anaknya berencana melanjutkan ke SMP swasta, tidak punya niat
memasukkan ke bimbingan belajar. Ia juga berpikir, setelah lulus SMP, lebih
baik anaknya mengalami satu masa trial and error, mencoba bekerja atau yang lain.

Perwakilan Sekolah Alam Yomitan di Okinawa, Hiroki Ogura (36) merupakan elit
akademisi seperti dambaan banyak orang tua. Dari SMP dan SMA swasta elit, ia
lulus Universitas Tokyo, dan bekerja di Perusahaan Marubeni.
Namun, pada usia 27, ia mengundurkan diri.

Menjelang usia 30 tahun, ia tidak tahu apa yang ingin dia lakukan.
“Saya bisa melakukan dengan mudah hal-hal yang ada jawabannya. Namun apa artinya
saya ini, yang tidak mampu mencoba melakukan hal-hal baru? Jangan-jangan ada
masalah pada pendidikan yang saya dapatkan selama ini?”

Waktu itu, perusahaan saham Yamaichi dan lain-lain, perusahaan-perusahaan
besar sedang jatuh bangkrut berturut-turut. Untuk bertahan hidup pada zaman
yang tidak pasti, pendidikan gaya lama tidak akan berhasil. Ia berpikir
untuk melakukan pekerjaan yang terkait dengan pendidikan.
Ia merasakan saat ikut pendidikan alam bebas di masa mahasiswa, betapa
menariknya pelajaran alam di perkemahan anak-anak SD.
Setelah bekerja sebagai pegawai pun, pada hari libur ia ikut kegiatan NPO yang mengadakan
pembelajaran di alam bebas. Dari kenalannya di NPO itu, ia mengadakan
pendidikan alam bebas di Okinawa, dan mengetahui rekrut peserta pelatihan di sana.
Ia tidak merasa bimbang.

Tahun 2000 ia pindah ke Okinawa, dan menikah tahun berikutnya. Anak
perempuannya yang lahir di Okinawa telah berumur 3 tahun.
Ia tidak berniat membesarkan anak-anaknya di kota. Atas kebaikan orang
setempat, ia meminjam tempat, dan April tahun lalu ia memulai Sekolah Alam
Yomitan “Sekolah Kanak-kanak”. Termasuk 2 orang anak-anaknya sendiri, saat
ini ada 7 orang anak yang datang.

* Boleh Saja Percaya pada Anak

Dikelilingi alam Okinawa yang kaya, anak-anak memutuskan apa yang ingin
dilakukannya sendiri. Ada anak yang pergi ke laut, ada anak yang pergi
berburu bibit bunga. Staf sekolah hanya mengawasi di dekat sana.
Suatu kali, Ogura pergi ke laut untuk menangkap ikan bersama anak-anak.
Mereka tidak berhasil menjaring ikan. Ada anak yang menambatkan jala,
kemudian berstrategi menggiring ikan ke jala itu. Anak lain berstrategi
memasukkan rumput laut ke jala, untuk mengkamuflase jala.

Kata Ogura, “Saat dia sedang melakukan kehendak hatinya, ia memikirkan macam-macam ide,
dan melakukan trial and error dari sana. Saya pikir itulah pembelajaran yang
sejati. Orang dewasa boleh lebih mempercayai anak-anak.”

* Pencetus Minat Itu Disebut ‘Sekolah’

Guru sekolah merdeka di Kobe, Tanabe Katsuyuki (64), merupakan veteran 19
tahun di sekolah merdeka. Kepada orang tua yang anak-anaknya menolak
bersekolah, ia menceritakan tentang putra keduanya yang dibesarkannya di
sekolahnya sendiri (sekarang usia 26).

“Putra saya juga mengecat rambutnya pada usia 12 tahun, tetapi akhirnya jadi
hitam kembali. Orang tua tidak perlu bingung, biarkan anak melakukan yang
dia inginkan sampai dia selesai.”

Putra keduanya mogok sekolah saat kelas 4 SD. Tanabe berpikir ia bisa
melaksanakan pendidikan yang tadinya ia serahkan pada sekolah. Tanabe malah
bergembira.

“Saya tidak ingin membiarkan dia tidak bertemu orang dewasa yang baik, tidak
berpikir tentang masa depan, menjalani hidup tanpa berpikir begitu saja.
Untuk itu saya ingin dia bertemu bermacam-macam orang dewasa, melakukan
bermacam-macam pengalaman. “

Setelah masuk sekolah merdeka, putra keduanya asyik dengan pekerjaan di toko
sepeda, dan pergi tur bersepeda dengan orang-orang dewasa. Hampir setiap
hari dia pergi ke tempat mancing, dan diajari oleh pemancing yang ada di
sana. Putranya itu menemukan sendiri guru-gurunya.

Setelah lulus, ia pergi ke India dan Nepal. Dalam perjalanan dengan cadangan
uang minim, bagaimana ia bisa menawar biaya penginapan?

“Yang begitu sih, di seluruh dunia, pakai bahasa tubuh!”

Tanabe merasakan dengan pasti pertumbuhan sosok putranya yang perkasa. Putra
keduanya sekarang, sambil membantu di sekolah merdeka, bekerja di perusahaan
terkait komputer yang sudah diminati dan dipelajarinya sejak usia belasan.

Di sekolah merdeka itu, dipanggil sebagai pengajarnya guru seni manikur
kuku, kameraman yang pernah datang meliput sekolah itu, dan lain-lain.
Karena anggaran yang minim, mereka meminta kerja sama musisi jalanan,
sehingga anak-anak bisa bertemu orang-orang dewasa yang belum pernah mereka
jumpai, dan menyediakan tempat di mana anak-anak bisa menumbuhkan rasa
percaya pada orang dewasa. Setiap tahun, anak-anak diajak pergi ke Filipina
agar mereka merasakan sendiri budaya yang berbeda. Tanabe berpikir bahwa
peran ‘sekolah’ adalah tempat mencetuskan minat dan menemukan hal-hal yang
ingin dilakukan anak-anak.

Sekolah merdeka Kobe sering didatangi mahasiswa relawan yang bercita-cita
menjadi guru. Rata-rata mereka terkejut dengan suasana sekolah. Pada jam
pelajaran sekolah, anak-anak mengobrol di teras, bertani di sawah, bermain
gitar…

Tanabe tidak melupakan kesan yang ditinggalkan seorang mahasiswa.
“Saya ingin sekali lagi, menjadi anak-anak yang sebenarnya.” ###