Catatan [atawa Review] Film Athirah

Saya percaya kisah seorang ibu, siapa pun itu, pasti mengandung cerita inspiratif di dalamnya. Terlebih jika ia ibunda seorang Jusuf Kalla, sosok yang sudah dua kali berada pada posisi 02 di negeri ini. Bagaimana seorang Athirah, ibunda Jusuf Kalla, mendidik anaknya hingga bisa meniti pencapaian itu tentu menarik. Apalagi jika kisah itu dituangkan ke dalam film oleh duet Riri Riza dan Mira Lesmana.

Riri Riza, nama ini sendiri sudah bisa jaminan akan kualitas film Athirah itu sendiri. Tak banyak sineas di Indonesia yang bisa menghasilkan film yang sukses di pasaran alias disukai penonton dan juga berhasil menembus berbagai festival, dan, Riri Riza mampu menggabungkan keduanya.

Sutradara kelahiran Makassar 2 Oktober ini, oh iya berarti besok hari ulang tahunnya, selamat ultah Kak Riri, bersama sahabatnya Mira Lesmana berhasil menorehkan nama di industri perfilman nasional dan internasional.  Sebut saja film yang mereka garap bersama; ‘Eliana, Eliana’ (2002) yang menuai pujian banyak kritikus film dan meraih penghargaan Young Cinema Award dan Netpac/Fipresci Jury Award di Singapore International Film Festival, Special Mention dalam ajang Dragons and Tigers Award di Vancouver International Film Festival, dan penghargaan Best Actress di Deauville International Film Festival, Perancis.

Belum pernah mendengar film ‘Eliana, Eliana’ ini? Baiklah, mari menyebut judul (sebagian) film garapan Riri – Mira yang tergabung dalam Miles Film ini. Petualangan Sherina (2000), Gie (2005), Laskar Pelangi (2008), Sang Pemimpi (2009) dan Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016). Silakan cari sendiri kesuksesan apa yang telah film-film itu tuai. Bisa intip di sini kalau kamu malas googling.

Cukup untuk bahasan mengenai mereka berdua. Mari kita ke film Athirah itu sendiri.

Publik (atau pecinta film) Makassar belum sepenuhnya lepas dari euphoria kesuksesan film Uang Panai yang berhasil menembus box office dengan perolehan penonton sebanyak 496.138 per 25 September. Jumlah penonton itu adalah akumulasi penonton Uang Panai di studio-studio Cinema 21, CGV Blitz, dan Cinemaxx.  Lengkapnya bisa liat di kicauan akun twitter @BadanPerfilman.

Ada Athirah, eh Cut Mini..

Ada Athirah, eh Cut Mini..

Uang Panai sendiri masih tayang di salah satu layar XXI Mall Ratu Indah saat acara Special Screening film Athirah diadakan pada tanggal 28 September malam. Sebanyak lima layar digunakan untuk menampung  undangan. Momentum Athirah sungguh tepat, belum usai pembicaraan tentang film Uang Panai yang mengangkat isu sensitif di kalangan suku Bugis dan Makassar, film ini hadir menyajikan kisah tentang perempuan Bugis nan tangguh dan inspiratif.

Athirah adalah film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Alberthiene Endah. Film ini mengangkat kisah kegetiran sekaligus perjuangan Athirah, ibunda Jusuf Kalla, yang mencoba bangkit saat suaminya memilih berpoligami demi keutuhan  keluarganya. Juga, bagaimana Ucu’ (panggilan Jusuf Kalla remaja) menjaga dan melindungi ibunya agar tetap tegar menghadapi masalah keluarga mereka.

Film ini dibuka dengan cuplikan perkawinan suku Bugis yang ditampilkan secara hitam putih sebagai pengantar. Cerita bermula dengan pindahnya keluarga H. Kalla ke Makassar untuk mengembangkan usahanya sebagai pedagang. Semuanya baik-baik saja, kehangatan keluarga ini terlihat dengan adegan di mana mereka selalu makan bersama. Hingga Puang Aji (panggilan H. Kalla) memutuskan untuk menikah lagi tanpa meminta persetujuan Athirah, sang istri.

Penggambaran ketertarikan Puang Aji pada wanita lain digambarkan secara halus oleh Riri Riza melalui  adegan-adegan singkat minim dialog saat Puang Aji menghadiri sebuah pesta dan tersenyum pada seorang perempuan yang wajahnya tak ditampilkan. Pun, pada satu momen di mana Puang Aji menghadiri pernikahan putra Mattulada, budayawan Sulsel, hanya menampilkan gambar di mana Puang Aji berjalan beriringan dengan istri keduanya tanpa menampakkan wajah perempuan itu kepada penonton. Mungkin untuk menghargai keluarga yang masih hidup.

Athirah, perempuan lembut namun tegar, tergambarkan dengan bagus melalui tuturan  yang hadir melalui visualisasi yang indah, dan juga tentu saja karakter yang berhasil dibangun dengan baik oleh Cut Mini yang memerankan Athirah. Juga, Jajang C Noer yang tampil –sangat perempuan Bugis- melalui tokoh Mak Kerra’, sosok ibu dari Athirah. Mereka berdua mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek Bugis-Bone tanpa membuat penonton yang merupakan penutur asli menertawakannya atau merasa aneh mendengar. Cut Mini dan Jajang C Noer mampu melampaui ketakutan pada hasil sebuah film yang berlatar budaya dan bahasa tertentu.

Ketabahan, kesabaran dan kekuatan Athirah hadir melalui ruang yang sangat personal; ruang makan dan tempat tidur. Demi keutuhan keluarganya, Athirah yang saat itu sedang hamil memilih untuk bertahan dan memastikan anak-anak mereka baik-baik saja dengan selalu menyiapkan makanan di meja makan mereka. Ketegasan Athirah pun hadir dengan adegan yang sangat lirih. Tanpa mengucapkan satu kata pun, Athirah meminta Puang Aji untuk pergi justru di saat suaminya itu mencoba membujuk di atas ranjang.

Meski terluka oleh penghianatan suaminya, Athirah mencoba bangkit dengan berdagang sarung sutra. Ia terinspirasi oleh ibu-nya, Mak Kerra’, yang menceritakan bahwa ayah Athirah rela menempuh perjalanan ke Enrekang selama tiga hari tiga malam untuk mencari kokon agar ibunya (nenek Athirah) bisa memintal benang dan menenun sarung demi bisa menikahi Mak Kerra’. Sebagai istri keempat.

Usaha jualan sarung ini perlahan –lahan membuahkan hasil. Sedikit demi sedikit, Athirah menabung keuntungan penjualannya dengan membeli emas dan menyimpannya di bawah kolong ranjangnya. Kelak, ketika perekonomian Indonesia tak menentu pada masa itu, tabungan emas inilah yang menyelamatkan usaha Puang Aji dari kebangkrutan. Tanpa emas-emas Athirah, mungkin kita tak bisa melihat perusahaan warisan Haji Kalla seperti sekarang ini.

Tetap berfokus pada Athirah, film ini juga menampilkan bagaimana Ucu’ menjaga ibunya sebagai pengganti ayahnya. Peran itu ia ambil meski masih bersekolah. Ia mengantar Athirah ke pasar, menemani ke acara pernikahan, bahkan mengantar ibunya ke rumah sakit saat akan melahirkan tanpa memberitahukan ayahnya.

Film ini adalah film biopic namun mampu menghadirkan dua sosok, Athirah dan Jusuf Kalla, tanpa harus memujanya mereka secara berlebihan. Tak ada upaya pengkultusan. Riri Riza menyajikan sosok manusia biasa dan tak menutupi bahwa Athirah pun percaya dukun, yang ia tampilkan melalui beberapa tanpa dialog.

Film yang naskahnya ditulis oleh Riri Riza dan Salman Aristo ini berjalan lambat dan minim dialog namun puitis, juga indah. Riri Riza berbicara melalui gambar, melalui detail-detail  latar waktu dan tempat, suasana dan properti.  Seperti sosok Athirah yang tenang dan lembut, tak ada emosi yang meledak-ledak dan airmata yang terurai di film ini namun mampu mengaduk-aduk perasaan melalui tatapan mata, gestur tubuh dan totalitas akting para pemainnya.

Athirah, film ini sangat kaya akan khazanah budaya Bugis, mulai dari makanan, coba perhatikan makanan-makanan yang tersaji di atas meja makan yang begitu sering tampil. Adegan-adegan meja makan ini niscaya akan membuat perantau-perantau Bugis akan merindukan makanan khas buatan ibu mereka seperti pallumara dan ikan bakar.

Scoring film yang digarap oleh Juang Manyala dari Milesmatis, band asli Makassar, memadukan petikan gitar dengan alat musik tradisional suku Bugis dan Makassar seperti gendang dan pui-pui. Maestro gendang, Daeng Serang, pun bahkan dihadirkan oleh Riri Riza dalam film ini. Belum lagi elong kelong yang ditembangkan oleh Jajang C Noer yang membawa ingatan ke masa kecil saat dininabobokan ibu.

Satu hal lagi, Film Athirah tak hanya mengangkat sosok perempuan Bugis yang terwakili dalam diri Athirah dan Mak Kerra’, dan budaya Bugis yang tercermin dalam keseharian keluarga Athirah dan Puang Aji, dalam Riri Riza melibatkan banyak sekali anak muda Makassar dalam penggarapannya. Mulai dari kru syuting yang merupakan mahasiswa atau alumni Institut Kesenian Makassar, bagian artistik, asisten sutradara, pemain hingga pemeran utama seperti aktor teater dan pegiat film independen Makassar, Arman Dewarti yang berperan sebagai Puang Aji. Film Athirah ini memberi kesempatan dan pengalaman pada potensi-potensi lokal Makassar untuk kemudian berbicara lebih banyak di industri perfilman nasional.

Jadi, tontonlah film Athirah di bioskop terdekat sesegera mungkin. Karena seperti film bagus lainnya, kemungkinan masa tayang film di bioskop ini akan pendek.

tips: makanlah sebelum nonton 😀

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment