Calabai! Calabai! Calabai!

Sore hujan. Saya melewatkan petang sembari menyesap teh jahe dan sebuah buku digital di laptop. Buku itu berjudul Dunia Kali dan Kisah Sehari-hari, sebuah buku yang berisi catatan – catatan kecil Puthut EA tentang Kali, anak semata wayangnya, dan kehidupan sehari – harinya.

Saat larut dalam cerita – cerita yang diambil dari status facebook Puthut EA itu, saya teringat 10 tahun lalu. Dulu, Komunitas Ininnawa dimana saya banyak bergabung pernah mengadakan semacam workshop menulis. Para peserta, kalau tak salah sebanyak 14 orang ‘dikarantina’ di Pusat Pelatihan Lingkungan Hiduo (PPLH) Puntondo Takalar selama tiga hari. Bekerjasama dengan Insist Press, dalam pelatihan itu Ininnawa mendampingi peserta mulai dari menggali ide cerita hingga ide itu menjadi cerita utuh. Hasilnya adalah 14 cerita pendek yang kemudian terbit dengan judul Setapak Salirang. Puthut EA adalah salah satu pendamping, sekaligus jadi penyunting buku kumcer itu.

Saya sendiri menuliskan cerpen berjudul seperti postingan ini; Calabai! Calabai! Calabai! Ide cerpen ini muncul saat saya menghabiskan malam selama hampir dua minggu di Karebosi, bercengkrama dengan para waria penghuni alun – alun kota kebanggaan Makassar itu. Hasil ‘investigasi’ itu jadi dua tulisan. Satu tulisan dimuat di Panyingkul! sebuah website citizen journalism yang sudah almarhum, satunya lagi terbit dalam buku Makassar Nol Kilometer (Ininnawa, 2005).

Ada banyak hal yang saya temui selama di Karebosi, dan karena berbagai alasan tak bisa saya masukkan ke dalam dua artikel yang saya sebut di atas. Waktu pelaksanaan pelatihan menulis itu tak jauh berselang dengan ‘investigasi’ saya di Karebosi. Jadilah apa yang tidak bisa saya tuangkan ke dalam artikel saya wujudkan dalam bentuk cerpen yang berjudul Calabai! Calabai! Calabai!

Saya ingin membagi cerpen itu di sini. Sebagai penanda bahwa saya pernah bisa menulis cerpen. Juga, sebagai pemicu untuk diri saya sendiri agar bisa menulis dengan baik seperti dulu lagi. Selamat membaca!

***

 

Calabai! Calabai! Calabai!

 

 

“POLISI! Polisi!”

Tiara menoleh ke arah suara itu.

Lariko nia’ polisi, lariko!”

Ia berdiri,  mematikan rokok dengan ujung sepatu. Ada razia lagi.

Matanya beralih pada patung-patung gerbang alun-alun lapangan. Di kejauhan, dua mobil patroli membelah jembatan. Sirene mengaung mengusik malam yang belum menua. Tetenda Sop Saudara[1] masih buka. Di depan tenda, bagian kanan bangunan alun-alun kota, tiga orang yang sedari tadi duduk tampak berdiri. Meninggalkan pertandingan sepakbola yang terpaku pada layar televisi. Hangat kopi berpindah pada tubuh berlarian di sisi timur lapangan. Percakapan di kedai rokok milik Daeng Bunga terhenti.

Semuanya menyelamatkan diri. Sesosok tubuh yang berdiri mengangkang berlari meninggalkan sosok yang jongkok di balik jeruji  pembatas lapangan basket di sudut Karebosi. Belum sempat Tiara berlari jauh, di bahunya sepasang tangan kekar telah merengkuh.  Memaksanya naik ke atas mobil patroli.

Hanya dalam hitungan menit ia sudah berada di ruang sempit. Tiga kali empat. Ada meja tua, dengan sebuah mesin tik yang juga tua. Seorang aparat berseragam coklat. Cahaya pekat. Duduk di kursi kayu berlengan. Diam. Menatapnya dalam-dalam. Ia merunduk. Menatap lantai kotak persegi empat.

Tuk…tuk…tuk! Aparat keparat itu sesekali mengetuk meja, bagai kutuk.

“Nama kamu siapa?” tangan aparat itu beralih ke mesin tik.

“Tiara, Pak…” Masih merunduk. Jarinya memainkan tali tas selempang mungil di atas pangkuannya.

“Umur?”

Ia memilih diam. Rasanya enggan menjawab pertanyaan itu lagi. Berkali-kali ia dihujani pertanyaan serupa setiap ia kena razia. Serupa ia berhadapan dengan nasi basi.

Aparat itu juga diam. Pilihan yang sama. Diam. Perlahan, waktu menarik diri.

Baca Juga: Komunitas Bissu di Segeri Pangkep

I

Sore itu, entah sore yang keberapa, ia hanya mampu memandang mereka melalui jendela rumah panggung tempatnya tinggal. Dari jendela, ia juga bisa mendengar sorak-sorak mereka ketika berhasil membuat gol, membawa bola melewati garis tak terlihat di antara dua tonggak bambu yang berfungsi sebagai gawang. Teriakan-teriakan kegembiraan mereka menembus celah-celah dinding kayu. Lalu menikam hati. Serupa ejekan, juga rambu yang melarangnya memasuki wilayah permainan hanya karena ia lebih gemulai dibanding mereka. Ia juga punya keinginan yang sama dengan anak-anak sebayanya. Bermain layaknya mereka, anak-anak kecil itu. Namun mereka menolak, tak pernah mengizinkan ia turut bermain. Ia merasa bagai melati pada tangkai belati di tepi hari.

Batti’, tamano mannasu’ na’,[2]” terdengar suara Puang Tepu dari balik kamar memintanya masuk memasak untuk makan malam.

Mendengar suara serak Puang Tepu, ia bergegas menurunkan tirai dan menutup jendela. Cahaya lembut kuning keemasan kini tidak lagi menyentuh lantai kayu rumah panggung itu. Di lapangan, serombongan anak-anak perlahan berjalan menjauh. Seorang di antara mereka mengapit bola plastik di ketiak. Mereka tertawa ceria, meski keringat membasahi tubuh mungil mereka.

Pelan-pelan ia langkahkan kaki menuju dapur. Ruang berlantai salima’. Lantai yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Di dapur, ia langsung mengambil kayu kering yang ditumpuk di atas balok melintang. Di bawah tumpukan kayu, ia lalu menyalakan sebatang yang telah diambilnya dan mendorongnya ke tengah. Di antara batu-batu kali yang hanya berjarak tak lebih dua jengkal…. Sebelum api membesar…. Ia mengambil air dari gentong di sudut dapur lalu menuangkan ke dalam panci. Setelah penuh, ia lalu mengangkat dan meletakkan di atas batu-batu. Sudah sejak dua tahun lalu ia tinggal di rumah Puang Tepu.

Semua berawal ketika ia menyaksikan seorang indo botting dalam sebuah acara pernikahan di desanya. Di balik tubuh gemulai, indo botting itu begitu berperan mengatur semua. Dari dapur sampai kamar pengantin. Menyiapkan makanan untuk ratusan undangan sampai merias mempelai perempuan. Ia membayangkan dirinya menjelma seperti Puang Tepu, indo botting itu.

Kedua orang tuanya tak mampu membendung keinginannya. Dengan berat hati melepas Batti. Kini, setelah dua tahun Puang Tepu telah mempercayakan semua pekerjaan dapur padanya. Juga ikut menemani Puang Tepu ke desa-desa bila ada panggilan untuk mengobati seseorang. Batti bertugas menyiapkan segala peralatan dan ramuan obat-obatan yang diperlukan. Semua tugas ia lakukan sepenuh hati. Demi Puang Tepu yang sangat ia kagumi dan hormati.

Sebagai Bissu[3], Puang Tepu memiliki peran penting bagi penduduk desa. Selain sebagai indo botting dan ahli mengobati orang, di pundak Puang Tepu semua upacara adat dibebankan. Upacara itu sangat penting, dilaksanakan demi mencari keselamatan—meminta perlindungan dan juga memuji sang pencipta. Selalu saja ada yang mengundang Puang Tepu untuk melaksanakan upacara adat, seperti menre’ bola atau lele bola, ketika mendiami rumah baru. Para petani pun tidak akan berani memulai menanam padi sebelum Puang Tepu mengirim sesajen pada dewata dalam upacara mappaturung bine’ ketika menebar benih padi di awal penanaman.

Masih segar dalam ingatannya, betapa ia sangat senang bercampur cemas ketika salah seorang penduduk datang meminta Puang Tepu untuk memimpin upacara Mattemu Taung. Ia sangat senang karena akan tampil di samping Puang Tepu dan, tentu anak-anak lain akan iri padanya. Tapi ia juga cemas, jangan-jangan ia gagal mengemban tugas membantu Puang Tepu menyiapkan perlengkapan upacara seperti walasuji, keranjang sesajen yang terbuat dari bilah bambu, menyiapkan nasi, ayam dan daun sirih yang menjadi isinya. Ia sangat takut bila melakukan kesalahan, karena kesalahan kecil apapun dapat membawa akibat buruk terhadap jalannya upacara.

***
bersambung ke Calabai! Calabai! Calabai! Bagian 2

 

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.