bukan we tenriabeng

Puisi Khrisna Pabhicara ini masih tersimpan di dalam laptop sejak tahun 2005. Saat ditodong membaca puisi pada acara komunitas Malam Sureq, saya ingin membacakan puisi. Sayang, puisi ini tak ada dalam kumpulan Pohon Duka Tumbuh Di Matamu, buku kumpulan puisi Khrisna Pabhicara. Jadilah saya membaca puisi lain.

 

bukan we tenriabeng

kepada yang pernah mencinta: np

 

syahdan, kata la galigo, “jangan berani langkahi pemali. dewata 

takkan berhenti memberi hukuman. karena pertalian matahari dan

rembulan adalah perkawinan sedarah.” tapi engkau, yang bagiku adalah we tenriabeng, pergi: tanpa rindu, tanpa benci

 

acapkali kusampaikan cinta, sekejap rona. merah singgah di

lembut pipimu. sebelum bibirku mencecap indahmu, kau

tuturkan padaku:  legenda sawerigading

 

o, gadis, yang bagiku adalah we tenriabeng: aku ditaklukkan

keinginan tidak sekedar memanggilmu kekasih. atau hanya

menyebutmu puja-puja hati. karena hasratku adalah juga hasrat sawerigading

 

hingga, suatu ketika, aku tak  sehebat sawerigading. yang

berani menantang samudera, bajak laut, dan musuhmusuh.

meski aku nikmati mimpi erotis. tepat ketika tujuh lapis

senyum kau kirim sebelum naik ke langit. o, gadisku, jadilah we tenriabeng bagiku

 

syahdan, kata la galigo, “jangan berani langkahi pemali. dewata

takkan berhenti memberi hukuman. karena pertalian matahari dan

rembulan adalah perkawinan sedarah.” engkau, yang bukan

we tenriabeng, pergi:

tanpa rindu, tanpa benci

loteng biblioholic, agustus 2005

***

dapatkan jutaan lagu gratis secara legal;

Lagu Gratis Untuk Android

Lagu Gratis Untuk iOS

 

 


Related Posts

About The Author

Add Comment