Bukan Penulis Dalam Temu 100 Penulis Makassar

“Menulis adalah perlawanan tanpa harus menjadi pahlawan” Ostav Al Mustafa

Ostav Al Mustafa Temu Penulis Makassar

Seperti generasi kekinian pada umumnya, saat terbangun pagi tadi saya langsung memeriksa ponsel. Sebuah pesan singkat (sms) masuk berisi undangan untuk mengikuti sebuah acara bertajuk ‘Temu 100 Penulis Makassar’. Acaranya, menurut isi sms tersebut, dimulai pukul 09:00 pagi. Saya melirik jam di ponsel, sudah pukul 08:45. Berdasarkan keterangan dalam ponsel, pesan singkat itu sampai pada saya pukul 07:43. Agak ragu saya menanggapi undangan itu, saya belum merasa sebagai penulis yang layak diundang pada sebuah forum seperti itu.

Selama ini saya merasa gagal menjadi penulis. Awal kuliah saat beralih dari diari ke blog, saya mencoba menjadi penyair namun gagal. Cobalah buka arsip tahun-tahun awal blog ini, jangan salahkan saya jika kamu menyesal karena menemukan puisi-puisi norak. Saya sendiri terkadang tersenyum geli saat membaca puisi-puisi itu. Puisi atau sajak yang membutuhkan kemampuan merangkai sedikit kata menjadi sesuatu yang indah ternyata sulit bagi saya.

Saya mencoba beralih menulis cerpen. Mungkin lebih mudah, begitu pikir saya, cerpen memberi sedikit keleluasaan untuk menuangkan ide dengan lebih banyak kata. Dugaan saya salah, tak lebih dari jumlah jari sebelah tangan cerpen yang bisa saya hasilkan. Saya hanya mampu mengingat dua cerpen; satu cerpen yang saya tuliskan untuk seorang gebetan dan satu cerpen hasil pelatihan. Jangan cari cerpen-cerpen itu di blog ini. Tak ada. Satu-satunya jejak cerpen saya ada dalam buku Setapak Salirang terbitan Insist Press Jogja.

Gagal jadi cerpenis, saya berusaha menulis novel. Menulis novel tentu lebih mudah, tak sesulit menulis puisi dan cerpen, sekali lagi begitu pikir saya. Hasilnya? Sebuah draft novel, kira-kira sudah 40% dari selesai, teronggok pasrah di dalam folder bernama ‘Janin’ sejak tahun 2004. Saya tak ditakdirkan sebagai penulis, jika sebuah buku adalah cap stempel bagi seseorang. Beberapa coretan saya memang tersebar di beberapa buku tapi bukan sebuah buku yang berisi semua tulisan saya. ‘Writer wanna be’ mungkin ungkapan yang paling tepat bagi saya.

Kembali ke undangan tadi. Saya memutuskan menelpon nomer pengirim sms undangan tadi untuk memastikan bahwa pesan itu memang untuk saya. Suara perempuan terdengar dengan nada berbisik, sepertinya ia dalam sebuah ruangan formal, meminta saya datang ke acara itu. Saya mengenali suara itu, seorang teman saat di kampus dulu. Sedari mahasiswa ia memang aktif di dunia pers kampus. Saya pun memutuskan untuk bergegas mandi dan menuju ke tempat pelaksanaan acara.

Sungguh beruntung, saya tiba ketika formalitas pembukaan acara telah selesai. Para penulis undangan sedang diminta untuk berfoto bersama sebelum sesi berbagi dimulai. Oleh teman yang mengundang tadi, saya diminta bergabung untuk berfoto bersama namun dengan halus saya menolak. Sekali lagi, saya belum merasa sebagai penulis, apalagi menjadi bagian dari 100 penulis Makassar. Setelah sesi berfoto, panitia mengarahkan kami untuk menikmati coffee break. Tentu saja saya bergegas ke ruang coffee break, saya tak sempat sarapan sebelum ke acara ini.

Saat menikmati segelas kopi dan kepulan kretek, teman menghampiri dan meminta saya untuk ikut berbicara nanti. Berbagi pengalaman, katanya. Saya berpikir keras, apa yang bisa saya bagi pada penulis-penulis senior ini. Wajah-wajah manis berhijab mahasiswi jurusan yang melaksanakan acara itu pun juga membuat saya gelisah. Apa yang akan saya bagi pada mereka? Bagaimana tampil menarik di depan mereka semua? Kegelisahan saya perlahan hilang saat sesi berbagi mulai berjalan.

Satu persatu penulis undangan mulai bercerita tentang sejarah kepenulisan mereka. Saya merasa, forum ini menjadi sekadar nostalgia para penulis senior. Tentu tidak salah jika mereka bertemu kembali dan mengenang apa yang telah mereka lakukan bersama. Hanya saja, saya merasa ada yang kurang tapi saya tak tahu membahasakannya. Di hadapan puluhan mahasiswa jurnalistik yang menjadi pemirsa kegiatan berbagi itu seorang seorang guru besar yang, secara bercanda, mengeluhkan bahwa gajinya tak bisa keluar bila ia tak menulis sebuah buku. Untuk ini saya tak bisa berkomentar di sini. Saya dalam program mengurangi kenyinyiran, belakangan saya merasa terlalu cerewet pun tak bagus. Guru besar itu juga membandingkan gaji yang ia terima dengan gaji sejawatnya di negeri seberang. No comment lagi.

Ada pula penulis yang membanggakan dirinya yang bisa membeli mobil setiap tahunnya. “Saya tidak bermaksud sombong yah, mobil saya yang terparkir di bawah itu CRV keluaran terbaru” ungkapnya sembari menjelaskan bahwa hal itu ia peroleh dari hasil menulis buku-buku biografi tokoh. Apa yang salah? Entahlah. Hanya saja merasa saya ada yang kurang pas. Saya tak menaruh perhatian pada apa yang penulis lain ceritakan. Mereka hanya membawa ingatan saya kembali pada masa-masa awal kuliah, kepala dipenuhi oleh kata-kata atau kutipan motivasi untuk menjadi penulis.

Yang menarik bagi saya adalah saat Ostav Al Mustafa maju bercerita. Ia tampil berbeda dengan undangan lainnya, ia hanya mengenakan kaos. Alih-alih bercerita tentang sesuatu yang ia bisa banggakan dalam dunia kepenulisannya, Bang Ostav –begitu kami biasa menyapanya-, justru membuka dengan pernyataan “Menulis adalah perlawanan tanpa harus menjadi pahlawan”. Bagi Bang Ostav, menulis adalah laku perlawanan pada sesuatu yang zalim. Ia menceritakan bagaimana perlawanan terhadap penggusuran Pandang Raya, selain aksi jalanan, juga dilakukan melalui tulisan di blog dan media sosial semacam Facebook dan Twitter. “Menjadi penulis tak harus terkenal” seakan menyindir penulis-penulis sebelumnya yang bukannya berbagi tentang bagaimana, paling tidak, menulis yang baik atau bagaimana memajukan dunia literasi di Makassar, namun lebih bercerita tentang tulisan-tulisan mereka yang telah dimuat di media atau yang sudah dibukukan.

Saya seperti menyaksikan salah seorang pendiri Unit Kegiatan Pers Kampus Unhas ini sedang orasi, seperti cerita yang sering saya dengarkan dari senior-senior di kampus dulu. Bedanya, Bang Ostav tak lagi berambut panjang dan tak ada lagi gelang yang memenuhi tangannya. Saya mengenal Bang Ostav saat ia tak lagi menyandang gelar mahasiswa. Bang Ostav yang saya kenal adalah figure yang lebih memilih diam menyimak dan mencatat lalu menuliskan ide ketika ia mengikuti sebuah pertemuan. Di acara ini, saya seperti melihat sosoknya sebagai demonstran tapi kini lebih santun.

Pada akhir acara, di sela makan siang, seorang penulis memperkenalkan diri sebagai ketua forum atau lingkar penulis Makassar mengundang penulis-penulis yang hadir untuk bergabung dengan syarat cukup mudah; menyetorkan fotokopi bukti tulisan yang dimuat di koran dan pas foto 2 lembar. Mendengar syarat itu, saya jadi teringat tulisan saya tentang Takabonerate yang dimuat di sebuah koran setelah mengalami pemotongan yang cukup panjang demi menyesuaikan halaman koran tersebut.

Saya writer wanna be ini merasa beruntung bisa hadir di acara ini. Bisa melihat dan mendengar langsung para penulis senior menceritakan kiprah mereka. Untuk itu, saya merasa perlu membaginya di blog ini. Terima kasih bagi kalian yang telah meluangkan membaca coretan seorang bukan penulis yang diundang ke acara Temu 100 Penulis Makassar ini. *catatan: coba hitung berapa kata ‘saya’ dalam tulisan ini? 😀

Related Posts

About The Author

3 Comments

Add Comment