Brigpol Dewi dan Bagaimana Cara Mencegah Sekstorsi

Sebelum kasus Vanessa Angel menyita perhatian, di Makassar terjadi kasus sekstorsi yang melibatkan seorang anggota kepolisian sebagai korban. Korban tersebut bernama Brigpol Dewi.

Brigpol Dewi menjadi korban kejahatan siber berupa eksploitasi daring yaitu pemerasan atau ancaman untuk mendapat konten seksual berupa foto atau video, bisa juga berupa pemerasan untuk mendapatkan uang, atau hubungan seksual, dengan melakukan paksaan melalui media daring. Kejahatan siber seperti ini disebut sekstorsi atau Sextortion.

Menurut Cambridge Dictionary, Sextortion adalah “the practice of forcing someone to do something, particularly to perform sexual acts, by threatening to publish naked pictures of them, or sexual information about them.”

Awalnya Brigpol Dewi, anggota kepolisian yang bertugas di Polrestabes Makassar, ini berkenalan dengan seseorang yang mengaku perwira polisi berpangkat Kompol yang bertugas di Lampung. Perkenalan itu terjadi di media sosial lalu berlanjut dengan tukar-menukar nomer ponsel. Keduanya kemudian menjadi dekat dan pacaran. Kedekatan itu berlanjut hingga saling berkirim foto. Mungkin sudah kadung jatuh cinta, Brigpol Dewi bahkan mengirimkan foto bugilnya kepada pacarnya itu.

Sang pacar itu malah menggunakan foto bugil itu untuk memeras Brigpol Dewi. Berkali-kali sang pacar meminta uang dengan berbagai alasan. Brigpol Dewi menolak memenuhi permintaan lelaki tersebut, sang pacar pun kemudian menyebarkan foto-foto syur Brigpol Dewi. Foto-foto syur Brigpol Dewi kemudian viral di media sosial dan sampai ke petinggi kepolisian di Makassar.

Brigpol Dewi pun kemudian dipecat karena dianggap melanggar aturan kode etik kepolisian. Sialnya lagi, usut punya usut sang pacar yang mengaku sebagai Kompol tersebut ternyata seorang tahanan kasus pembunuhan.

Nahas nian nasib Brigpol Dewi. Sudah tertipu, diperas dan dipecat pula. Belum lagi media yang begitu gencar memberitakan kasusnya. Sudahlah foto-fotonya tersebar, Brigpol Dewi pun menjadi santapan media yang, seperti kasus serupa ini, hanya mengupas sisi perempuan dan mengabaikan bahwa kasus ini melibatkan perempuan dan laki-laki. Sangat sedikit media yang mengungkapkan identitas, apalagi foto, laki-laki yang telah menipu, memeras dan menyebarkan foto-foto Brigpol Dewi.

Kasus sekstorsi sebenarnya bukanlah hal baru di Indonesia. Pada tahun 2015, seorang guru perempuan asal pontianak diperas 80 juta oleh seorang napi lapas Subang, Jawa Barat. Mereka berkenalan melalui Facebook. Si pelaku menggunakan akun palsu dengan memakai foto seorang lelaki tampan mengenakan seragam dinas Philippine Nautical Training Institute (PNTC). Karena bujuk rayu, korban pun mengirimkan foto bugilnya dan akhirnya diperas oleh pelaku.


Pada April 2018, Jawapos menyajikan berita 89 perempuan yang menjadi korban sekstorsi yang dilakukan oleh tiga narapidana lapas Jelekong, Kab. Bandung. Awal Januari 2019, setidaknya sudah ada dua kasus sekstorsi yang terangkat ke media. Bisa saja kasus serupa jauh lebih banyak yang tidak terungkap dan hadir di media karena biasanya dalam kasus sekstorsi korban malu untuk melapor.

Modus kejahatan siber sekstorsi ini umumnya adalah pelaku mengggunakan akun palsu dengan memasang foto-foto (yang juga palsu) tampan atau cantik, lalu mengajak calon korban untuk berkenalan. Setelah berkenalan melalui media sosial atau aplikasi kencan, biasanya akan berlanjut pada aplikasi percakapan. Segala bujuk rayu akan pelaku gencarkan sehingga korban jatuh cinta.

Baca Juga:  Maya, si Kupu-Kupu dalam Prostitusi Online di Makassar

Saat korban mulai kasmaran, pelaku akan mulai meminta foto atau melakukan video call. Karena cinta dan ingin menyenangkan pasangan, korban tanpa sadar resikonya rela mengirimkan foto dan video bugil. Foto dan video bugil inilah yang kemudian jadi senjata pelaku dalam melakukan pemerasan. Meski kebanyakan korban adalah perempuan, namun ada pula laki-laki yang terjebak modus seperti ini.

Untuk kasus-kasus sekstorsi serupa yang menimpa Brigpol Dewi bisa dilihat di Grup Waspada Scammer Cinta:

Untuk mencegah sekstorsi menimpa, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam menggunakan media sosial;

  1. Jangan membagikan data penting seperti alamat rumah, tanggal lahir, dan no ponsel. Kalau ada yang memerlukannya, berikan melalui chat atau japri.
  2. Kurangi mengunggah informasi atau foto-foto liburan dan aktivitas keseharian. Semakin banyak informasi dan foto semacam ini akan semakin mudah bagi para pelaku untuk mendekati kita.
  3. Jangan menggunakan fitur check in dan geolocation. Memang terlihat keren tapi juga memudahkan orang yang ingin berbuat jahat pada kita dengan mempelajari kebiasaan kita.
  4. Kurangi mengeluh atau menceritakan masalah pribadi di media sosial. Para pelaku bisa memanfaatkan informasi dari status kita yang berisi curhatan itu untuk melakukan pendekatan.
  5. Jangan asal terima permintaan pertemanan. Pastikan keaslian akun dan tanyakan pada diri sendiri “apa manfaatnya saya berteman dengan orang ini?” Periksa dan telusuri dulu akun tersebut. Akun palsu biasanya tak memiliki banyak aktivitas dan interaksi dengan orang lain. Langsung blokir saja kalau ternyata akun palsu.
  6. Jika terlanjur sudah sampai pada tahap melakukan percakapan, jangan pernah mau mengirimkan foto dan video, apalagi dalam keadaan bugil.

Kejahatan siber saat ini semakin beragam dan semakin canggih, maka dari itu teman-teman perlu semakin waspada dan bijak dalam menggunakan media sosial.

Silakan bagikan jika kamu anggap artikel ini berguna bagi orang keluarga, teman atau siapa pun..

Related Posts

About The Author

18 Comments

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Facebook
Facebook
Google+
http://lelakibugis.net/brigpol-dewi">
RSS
Follow by Email