Bokis Daeng Maman di Kedai Pojok Adhyaksa

Obrolan Santai Maman Suherman - Paccarita

Mungkin tak banyak yang tahu siapa Maman Suherman sebelum acara Indonesia Lawak Klub (ILK) tayang di salah satu stasiun tv nasional. Acara ILK ini sendiri adalah parodi dari Indonesia Lawyer Club (ILC). ILK dan ILC menyuguhkan pemirsanya dengan tontonan sarat emosi. Bedanya, ILC sarat dengan perdebatan dengan nuansa kemarahan, ILK hadir dengan gelak tawa lalu ditutup dengan catatan yang tak jarang mengundang keharuan.

Catatan ini adalah rangkuman acara penuh candaan yang sekilas tampak kosong. Di tangan Kang Maman (panggilan akrab Maman Suherman), rangkuman itu menjadi sebuah catatan yang sarat makna. Lelaki plontos ini berperan sebagai notulen, tukang catat. Kang Maman tak sekadar tukang catat ILK, ia jugalah sang konseptor dari acara yang menyedot perhatian banyak pemirsa tv di Indonesia ini. Beberapa catatan ILK ada dalam buku Notulen Cakep yang diterbitkan oleh Kompas Group.

Lelaki kelahiran Makassar, ini pulalah salah satu penggagas dari Panasonic Gobel Awards (awalnya, Panasonic Awards). Berawal dari kekecewaannya pada media yang menuhankan rating, ia menggagas pemilihan acara penghargaan tahunan bagi insan dan program televisi terfavorit di Indonesia berdasarkan jajak pendapat tabloid Citra. Jajak Pendapat Citra itu disebarkan di berbagai media massa untuk kemudian diisi secara tertulis dan dikirimkan kembali oleh masyarakat melalui pos.

Panasonic Awards pertama kali ditayangkan pada 1 Juni 1997 di salah satu stasiun tv untuk memberikan kesempatan kepada pemirsa memilih program acara atau para insan pertelevisian yang dipandang terbaik. Sayangnya, pada tahun 2004, metode pemilihan pemenang kemudian berganti menjadi melalui survei Nielsen Media Research dan hasilnya ditabulasi oleh Ernst & Young.

Tentu saja perubahan metode ini mengecewakan Kang Maman, acara yang ia gagas sebagai bentuk perlawanan pada ‘rating’ akhirnya justru menggunakan rating Nielsen. Kekecewaan itu terungkap dalam bincang – bincang yang digelar oleh Komunitas Blogger Anging Mammiri. “Saya menyesal, sempat tidak aktif, sehingga Panasonic Awards malah ikut memakai Nielsen utk tentukan 5 terfavorit nominasi Panasonic Gobel Awards”

Dalam acara yang dikemas secara santai di Kedai Pojok Adhyaksa (16/03), Kang Maman mengungkapkan banyak hal. Berbagai pengalaman selama 15 (1988-2003) tahun di dunia jurnalistik, mulai dari reporter hingga menjadi pemimpin redaksi di Kelompok Kompas Gramedia. Malam itu, diselingi celetukan – celetukan yang mengundang tawa. Daeng Maman, malam itu kami memanggilnya ‘Daeng’ panggilan bagi ‘kakak’ atau orang yang dihormati dalam suku Bugis – Makassar, berbagi banyak kisah.

Maman Suherman, aslinya bernama M. Suherman dimana M adalah singkatan dari Muhammad. Karena ‘kreativitas’ gurunya saat SMP, nama M. Suherman berubah menjadi Maman Suherman. Kang Maman mengecap pendidikan di SMP 6 Ujung Pandang (sekarang Makassar) lalu pindah ke SMP 1 Sumedang. Dalam ijazah yang ia terima dari SMP 1 tertera nama Maman Suherman. Sejak itulah ia resmi menyandang nama Maman Suherman.

Bagi alumni Jurusan Kriminologi FISIP UI ini, kerja – kerja jurnalistik dan penulisan, haruslah melibatkan hati. Ia lalu bercerita bagaimana ketika seorang pria datang ke kantornya dan menyodorinya sebuah rekaman aborsi seorang pesohor ternama. Saat itu ia menjabat sebagai pimpinan redaksi sebuah tabloid. Rekaman itu tentu saja akan menjadi ‘big news’ dan bisa meningkatkan tiras tabloidnya. Namun, ia menolak memberitakannya. Sebuah keputusan yang terbukti benar di kemudian hari.

Pengalaman panjang sebagai reporter hingga pimred tabloid membuat Daeng Maman dekat dunia selebrita. Beragam cerita seputar dunia gemerlap itu ia tuangkan dalam kumpulan cerita berjudul Bokis. Kata ‘bokis’ adalah kosa kata slang generasi 70-an. Terdiri dari kata ‘bisa’ dan sisipan ‘ok’, kata ‘bisa’ setelah disisipi ‘ok’ akan menjadi ‘b-ok-is’ dengan penghilangan huruf ‘a’. Arti bokis adalah ‘bisa-bisaan’ atau ‘bisa-bisanya’. Kata lain yang memiliki prinsip yang sama bisa ditemukan dalam ‘bokap’ atau ‘plokis’ dll. Bokap misalnya, dari kata ‘bapak’ dan sisipan ‘ok’, ‘plokis’ dari kata ‘polisi’.

Obrolan Santai - Daeng Maman - Kepo ADHYAKSA - lelakibugis

Dalam Bokis: Kisah Gelap Dunia Seleb, jurnalis infotainment kawakan ini menyingkap berbagai kisah di balik gemerlap dunia selebritas. Juga tentang godaan dan rayuan yang ia alami. Ada 33 kisah yang mengalir penuh rasa humor tapi juga terselip empati. Beberapa kisah dalam buku itu ia paparkan di depan puluhan pengunjung yang memadati Kedai Pojok Adhyaksa untuk mengikuti acara obrolan santai malam itu.

Dengan gaya khasnya, behind the scene beberapa kisah itu mengalir. Kadang membuat peserta obrolan menjadi tergelak, tak jarang pula bertepuk tangan. Dalam beberapa cerita, yang ia tuturkan sembari berdiri, selalu terselip pesan – pesan inspiratif.

Lalu jika Daeng Maman mampu memberi inspirasi bagi banyak orang, darimana sumber inspirasi lelaki kelahiran 10 November 1965 ini? Jawabnya: Ibu. Bagi Daeng Maman, Ibu adalah sosok yang sangat penting. Ibu adalah segalanya, sumber segala inspirasi.

Malam itu, Daeng Maman banyak berkisah tentang Ibu-nya. Tentang bagaimana ibu-nya, yang kelahiran Bontonompo, Gowa, membesarkan anak – anaknya sepeninggal suaminya yang berpulang saat Maman menginjak kelas 1 SMA. Pun, ketika ia mengalami kebuntuan saat menulis, sosok ibu inilah yang akan jadi dewi penolong. Setiap kali Daeng Maman mengalami writers block, ia akan menghubungi ibu-nya dan biasanya setelah itu ia akan mampu menulis dengan lancar.

Selain berbagi banyak cerita, Daeng Maman juga berbagi tips dunia kepenulisan jurnalistik. Menurutnya, hal terpenting saat menulis adalah cek dan konfirmasi. Sesuatu yang justru kini banyak diabaikan oleh jurnalis kita demi meningkatkan tiras atau klik pengunjung. Untuk mengasah kemampuan menulis, Daeng Maman menyarankan agar kita rajin membaca. Kebiasaan membaca itulah sehingga Daeng Maman memiliki koleksi 10.000 lebih buku dari berbagai genre.

Di depan peserta obrolan, Daeng Maman pun mengajak untuk menekuni dunia kepenulisan. Blogger itu profesi yang menjanjikan, apalagi jika tulisan – tulisan itu diterbitkan dalam bentuk buku. “Kalau mau bikin buku, tulislah yang bersifat personal. Biasanya penerbit menyukai yang seperti itu” ungkapnya. Tak hanya mengajak, Daeng Maman pun bersedia menjadi tempat berkonsultasi bagi yang ingin menulis buku.

Tak terasa, obrolan santai itu berlangsung sekira 2 (dua) jam. Lelaki Bokis (BOtak tapI Seksi) ini sepertinya memiliki banyak simpanan energi dan semangat. Selepas obrolan dan tanya jawab, Daeng Maman tak beranjak dari Kedai Pojok Adhyaksa. Ia masih tinggal dan melayani permintaan foto bareng dan tanda – tangan penggemarnya. Juga melayani beberapa orang yang sekadar ingin bercakap.

Daeng Maman, dan rombongannya, baru meninggalkan tempat diskusi saat  jam menunjukkan pukul 11 malam untuk kemudian melanjutkan wisata kuliner ke Songkolo Bagadang di Pannara Antang.

Related Posts

About The Author

4 Comments

Add Comment