Bianglala Orang Bugis-Makassar (Kuasa dan Usaha di Gatra)

Sembilan pakar mengulas berbagai aspek social-budaya sejumlah etnis di Sulawesi-Selatan. Walau berupa makalah, isinya cukup memadai sebagai upaya pengenalan.
Ada citra yang melekat pada orang Bugis dan Makassar. Mereka dikenal sebagai pelaut yang tangguh, perantau yang gigih, dan pemeluk agama islam yang taat. Selain ini juga penganut demokrasi yang patuh pada kekuasaan yang dibentuk berdasarkan bentuk social.
Citra seperti itu muncul tentu saja berdasarkan kajian-kajian yang telah dilakukan, dimulai sejak zaman penjajahan. Keunikan etnis Bugis dan Makassar tak habis-habisnya digali. Dalam buku ini dua etnis itu disoroti dalam struktur budaya, struktur kekuasaan, dan peranan mereka dalam dunia usaha.
Ada Sembilan pakar yang menyumbangkan pemikirannya tentang potret social-budaya, politik, dan ekonomi kedua suku itu. Salah satunya Christian Pelras, yamg selama puluh tahun meneliti suku bugis.Karyanya dalam buku ini boleh dibilang sebagai ringkasan dari bukunya yang berjudul Manusia Bugis, terbitan 2006.Cuma,dalam tulisannya ini,Pelras lebih memfokuskan bahasannya pada masalah hubungan sosial-politik dan ekonomi masyarakat Bugis.
Ia menggali hubungan dan ikatan patron-klien yang mewarnai kehidupan masyarakat Bugis.Dia melihat keunikan-keunikan dalam menjalin hubungan ini.Salah satunya adalah sifat sukarela yang mendasari ikatan hubungan “tuan” dan “pengikutnya” dalam masyarakat yang dikenal berkarakter keras tapi peramah ini.
Dalam hal politik,ikatan yang bersifat sukarela ini sangat memungkinkan rakyat meninggalkan rajanya bila sang raja dinilai berlaku sewenang-wenang.Sebab,dalam ikatan tuan-pengikut dalam masyarakat Bugis berlaku semacam kontrak sosial yang mengatur timbal balik hak dan kewajiban masing-masing.Raja sebagai penguasa wajib melindungi dan menyejahterakan rakyatnya,rakyat pun wajib mengabdi kepada raja.
Pelras melihat pola ikatan patron-klien ini masih hidup dalam bentuknya yang berbeda,sungguhpun sudah terjadi transisi radikal pada masyarakat Bugis sekarang.Pakar lainnya,Koos Noorduyn,memusatkan perhatiannya pada masyarakat Wajo.Kelompok ini boleh dibilang mewarisi darah dagang lewat profesi mereka sebagai saudagar yang berdiam di Makassar.
Menurut Noorduyn,orang-orang Wajo bermukim di Makassar jauh sebelum perang melawan Belanda,pada pertengahan abad ke-17.Mereka pengikut setia raja-raja Makassar.Tapi,berbeda dari paparan Pelras,Noorduyn lebih memfokuskan pembahasannya pada struktur kekuasaan masyarakat Wajo di Masa lalu dan model-model kegiatan perekonomian yang mereka jalankan.
Noorduyn mencatat,dibandingkan dengan dengan orang Bugis,pelapisan sosial dalam masyarakat Wajo tidak kental betul.Kebangsawanan bukan menjadi tolok ukur baku bagi pengangkatan seorang pemimpin,karena prinsip dasar yang mereka anut adalah consensus.Ini boleh dibilang sebagai prinsip yang mengarah pada konsep bersifat demokratis pada masyarakat Wajo.
Penulis-penulis lainnya ada yang lebih memfokuskan pada studi kultural orang Gowa di Sulawesi Selatan.Martin Rossler,misalnya,menyoroti hubungan simbol kepemimpinan,benda pusaka,dan fungsi ritual dalam kaitannya dengan model kepemimpinan masyarakat,terutama di dataran tinggi Gowa.Dia membedah peranan kalompoang yang bermakna “ kebesaran” dalam perubahan aspek kepemimpinan masyarakat Gowa.
Yang tak kalah menarik ,ada juga pakar yang khusus mengkaji kiprah orang-orang Bugis dan Makassar di perantauan.R.Z. Leirissa,misalnya, membandingkan peran mereka di dua kawasan, yakni Ambon dan Ternate. Ia menemukan kemiripan, bahwa peran orang Bugis dan Makassar sangat besar dalam perdagangan dengan pihak luar. Ia juga menemukan adanya pertalian mereka dengan struktur kekuasaan tanah perantauan. Beragam topic yang tersaji dalam buku ini sangat menarik, terutama untuk mengenal lebih jauh etnis-etnis yang di Sulawesi Selatan. Tentu saja tidak tertutup kemungkinan untuk kajian yang lebih komprehensifi. Terutama, untuk melengkapi kajian tentang etnis lain di Sulawesi Selatan, seperti Mandar, Toraja dan Kajang.

Erwin Y Salim
(sumber: Gatra No. 34/2-8 Juli 2009)

Related Posts

About The Author

Add Comment