Bermain Kata di Kedai Pojok Adhyaksa

Senin, 04 Agustus, sore di Kedai Pojok Adhyaksa, dalam pertemuan Kelas Menulis Kepo kami sepakat untuk bermain kata. Aturannya sederhana; setiap peserta menyodorkan satu kata lalu peserta merangkai semua kata usulan menjadi sebuah tulisan.

Kata – kata usulan itu antara lain; angin, perahu, bernafas, gerbang, merah, kenangan, baca, detik, akar, sembilu, dan telpon.

Saya pun turut bermain dan inilah hasil rangkaian kata – kata itu..

*

Angin berhembus perlahan. Sepoi – sepoi saja. Hembusannya menyapu wajahku. Di kejauhan, sebuah perahu tertambat di tepi danau. Tentu ada tali tak terlihat yang mengikatnya agar perahu itu tak pergi terbawa air. Tali itu mungkin terikat di sebuah pohon yang tak jauh dari perahu itu.

Saya bernafas lega, setidaknya saya tak seperti perahu itu. Terombang – ambing di atas riak danau tapi tak bisa kemana-mana karena terikat sesuatu. Saya membayangkan betapa tak menyenangkannya menjadi perahu itu.

Seharusnya ia berada di tengah danau, mengarungi danau bersama seorang nelayan yang mencari ikan. Mungkin juga menjadi saksi sepasang kekasih memadu asmara di tengah danau itu. Tapi kini, ia tertambat, terombang – ambing tak bisa kemana-mana. Tali yang tak terlihat itu mengekangnya.

Mungkin seperti itulah kenangan, mengikat orang – orang yang tak mau berdamai dengannya. Tak bisa beranjak dari masa lalu. Gagal move on kalau kata anak – anak sekarang.

Ingatan saya kembali pada seorang perempuan penyuka warna merah. Semua aksesoris yang melekat di tubuhnya berwarna merah. Baju, rok, celana bahkan jam tangan dan mata kalungnya pun berwarna merah.

Dulu kami bertemu pertama kali di gerbang kampus, tak jauh dari danau itu. Saya tak menaruh perhatian padanya saat itu. Barulah pada pertemuan kedua, di sebuah pelatihan menulis yang diadakan oleh sebuah kafe baca, saya menyadari ada sesuatu yang berbeda dari perempuan itu.

Masih terbayang jelas detik – detik pertemuan itu. Ah, setiap detik kebersamaan kami selanjutnya pun masih bisa saya gambarkan pada kalian. Tapi apa gunanya?

Setiap kali mengenang kebersamaan akan semakin menguatkan akar ingatan. Saya tak mau ingatan mengekang langkah. Seperih apapun, tak boleh meninggalkan luka, meski ia menyayat hati serupa sembilu.

Tiba – tiba telepon genggam di dalam tas berbunyi. Dengan malas, saya merogoh tas dan mencoba meraih telepon genggam itu. Di layar telepon, sebuah nama terpampang. Tanpa ragu saya mematikan telepon genggam itu.

*

 

Silakan bagikan jika kamu anggap artikel ini berguna bagi orang keluarga, teman atau siapa pun..

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Facebook
Facebook
Google+
http://lelakibugis.net/bermain-kata-di-kedai-pojok-adhyaksa">
RSS
Follow by Email