Berlabuh di Nusantara

Sebuah taman bundar menjadi titik pertemuan tiga jalan; Riburane, Ujung Pandang, dan Nusantara. Di ujung Jalan Nusantara berdiri Gedung money changer Haji La Tunrung. Dulu, di sini terdapat lokasi pelacuran yang sangat terkenal, “Jambas” atau Jambatan Bassi (Makassar: Jembatan Besi) kini kawasannya menjadi Pelabuhan Soekarno-Hatta.

“Pelankan motornya,” teman yang kubonceng di belakang menepuk bahuku. “Banyak cewek tuh, seksi-seksi lagi,” ia menepuk sekali lagi, kali ini lebih keras. Mau tak mau kuturuti keinginannya. Memuaskan hasratnya untuk cuci mata. Rupanya ia tak puas melihat penampilan gadis-gadis kampus yang tak kalah seksi dengan gadis-gadis mall.

Sepanjang sisi kanan jalan tampak beberapa gadis berdiri di depan sebuah bangunan pub, bar dan massage. Mereka sangat seksi, pakaian serba minim dengan make-up mencolok. Wajar saja mata temanku itu tak bisa diam. Di sisi kiri, kontainer-kontainer besar berderet sepanjang Jl Martadinata yang sejajar dengan Jl Nusantara.

“Singgah dong, Mas. Minum kopi atau bir,” sapa seorang gadis muda yang duduk di sebuah kursi plastik di bawah sebuah tenda plastik kepada kami. Kutaksir usianya baru 15 tahun. “Singgah yuk,” ajaknya.

Tak kuhirau permintaannya. Kami harus segera menjemput teman. Entah sejak kapan kawasan ini dipenuhi gadis-gadis penghibur, pikirku. Tak kutemui jawaban sampai kubelokkan motor ke pintu gerbang pelabuhan. Setelah membayar uang masuk, kuarahkan motor ke tempat parkir. Buru-buru kuparkir motor lalu bergegas masuk pelabuhan.

“Mbak, kapal dari Surabaya sudah masuk belum?” tanyaku pada petugas informasi.

“Maaf Pak, kapal apa?” petugas itu malah balik bertanya.

“Kirana. Katanya tiba pukul delapan malam ini,” kataku. Kulirik arloji di pergelangan tanganku, sudah sepuluh menit lewat dari pukul delapan. Harusnya kapal itu sudah berlabuh.

“Maaf Pak, kapalnya belum datang. Mungkin agak telat, sekitar dua tiga jam lagi,” terang perempuan petugas informasi itu tersenyum.

Temanku pun cuma tersenyum, seperti memaklumi keterlambatan ini. Kurogoh saku jaket mencari rokok, tak ada. “Beli rokok yuk,” ajakku. Kami pun memutuskan untuk membeli rokok di luar areal pelabuhan. Selain harga rokok dalam pelabuhan agak mahal, sekalian untuk memuaskan keinginan temanku. Kami berjalan keluar dan menyeberang ke sebuah toko depan pintu gerbang pelabuhan, motor tetap kusimpan di tempat parkir.

Kami memasuki sebuah bangunan dengan plang bertuliskan ‘Toko Pelabuhan’. “Mau beli apa, Pak?” seorang pramuniaga menyambut kami. Aku meminta sebungkus rokok padanya. Rasa ingin tahuku akan maraknya tempat hiburan di kawasan ini kembali muncul ketika menunggu uang kembalian. “Ci’, sudah lama buka toko di sini?” tanyaku pada seorang perempuan keturunan Tionghoa yang duduk di meja kasir.

“Sudah lama Dik, dari tahun 1962. Dulu di Jalan Martadinata ikut sama Angko’,” jawabnya sembari menunjuk suaminya yang duduk di kursi yang ada di depan kami. “Sallo tommi’ di[1]” tanyanya pada Angko yang menyambutnya dengan sebuah anggukan. Lelaki tua itu mencoba berbicara namun suaranya begitu sulit keluar. Mungkin kena aphasia[2] atau alzheimer[3].

Inne Wijaya, perempuan kelahiran tahun 1943 itu kemudian bercerita padaku dalam bahasa Indonesia yang kadang diselingi bahasa Makassar. Masa kecil dilewatinya di Sungguminasa, ibukota Kabupaten Gowa yang terletak di sebelah selatan Makassar, bersama kedua orangtuanya. Setelah menikah, Ia pun pindah mengikuti suaminya yang tinggal di Jl Martadinata.

Dulu, daerah sekitar kawasan pelabuhan ini adalah Kampung Melayu dan Pecinan. Sepanjang Martadinata dan Nusantara dihuni oleh beberapa kepala keluarga keturunan Tionghoa. Orang-orang Tionghoa ini berprofesi sebagai pedagang grosir barang kebutuhan sehari-hari. “Duaji’ toko yang jual eceran. Tokonya Angko’ dan Toko Rejeki,” tambah ibu yang mempunyai enam anak ini.

Kawasan yang terletak di bagian utara Makassar ini memang dikenal sebagai kawasan pelabuhan. Kawasan yang berada di Kecamatan Wajo ini diramaikan oleh kehadiran penjual buah-buahan dan penjual sarung yang berjualan di depan rerumah penduduk. Sebagai kawasan pelabuhan, Nusantara tak lepas dari transaksi barang dan transit manusia yang berlangsung setiap saat. “Banyak juga  pa’kappalatallang[4] beroperasi di sini,” tambahnya.

Kehadiran para penjual buah, penjual sarung, dan Pa’kappalatallang ini sangat marak di tahun 80 hingga 90-an ketika pelabuhan masih ramai. Di era itu, angkutan laut masih menjadi pilihan utama untuk bepergian ke luar pulau. Orang-orang masih banyak menggunakan kapal laut karena harga tiket pesawat teramat mahal. Hal itulah yang membuat aktivitas sekitar pelabuhan sangat hidup.

Pelabuhan pun diperluas dengan mengambil area Jl Martadinata. “Semua tanah dibeli oleh perum (pelabuhan), ndak tau pindah ke manami semua,” tambah Inne Wijaya. Ia pun membeli sebuah rumah di Jl Nusantara. Selain puluhan penjual buah-buahan dan sarung, tempat hiburan malam dan hotel pun bermunculan. Kehadiran tempat hiburan ini diikuti pula perempuan-perempuan penghibur.

Malam mulai beranjak ketika kami keluar dari toko. Sayangnya hujan turun. Kami pun hanya berteduh di depan toko sebuah gerobak ditutupi terpal biru. Kata Inne, milik seorang penjual buah-buahan yang tutup jualan karena pembeli makin sepi. Kawasan pelabuhan ini tambah sepi lantaran makin berkurangnya orang yang memanfaatkan pengangkutan laut. Harga tiket pesawat terbang yang semakin murah membuat orang lebih memilih naik pesawat terbang.

***

Arloji di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 21.10 Wita. Tak kulihat tanda-tanda yang menunjukkan sebuah kapal segera sandar. Untuk membuang waktu kami menyusuri Jl Nusantara. Rintik-rintik hujan berhenti, jalan mulai ramai. Di sepanjang jalan kulihat puluhan mobil dan motor terparkir. Di depan sebuah pub, tampak beberapa perempuan berpakaian seksi, tank top yang memperlihatkan belahan dada juga lekuk-lekuk tubuh mereka. Adapula yang memakai kaos sangat ketat hingga pusarnya terlihat jelas. Mereka sedang ngobrol dengan pengunjung di antara motor-motor yang terparkir.

“Mampir mas …” seorang di antara mereka menyapa ketika kami melintasi gedung itu. Temanku mengajak mampir tapi kutolak. Kulihat nama gedung: Madonna Pub. Ramai juga, itu kulihat jumlah motor yang terparkir. Tak begitu jauh dari Madonna Pub, Mirama Pub juga terlihat ramai dengan jejeran motor terparkir di depannya.

“Mending kita minum kopi aja dulu di tenda itu,” ajakku ke tenda perempuan yang menyapa kami tadi. Sebuah tenda berwarna oranye dengan aneka minuman kaleng dan makanan kecil tersaji di atas meja kayu sepanjang dua meteran.

“Kopi susu dua gelas,” temanku memesan pada perempuan muda rupawan yang memakai kaos ketat biru muda dan rok mini merah. Ia pun segera membuatkan pesanan kami, “Cukup ndak kalo susu segini?” tanyanya ketika menuangkan susu kaleng ke gelas tinggi yang biasanya dipakai untuk minum bir. “Madonna dan Mirama memang paling ramai di sini,” ia sepertinya bisa menebak isi pikiranku.

Kulayangkan pandangku ke jalanan. Jalan ini dipenuhi berbagai tempat hiburan, aku mencoba menghitung tadi sewaktu menyusuri jalan ini. Ada sekitar dua puluhan pub, begitu pula bar and massage yang hampir dua puluh jumlahnya. Belum lagi tempat karaoke yang tak sempat kuhitung. Di depan gerbang pelabuhan, ada dua hotel yang letaknya berdekatan.

Selain tempat-tempat hiburan, jalan ini juga dipenuhi oleh bangunan lainnya seperti gedung bank, wartel, dan agen tiket. Ada pula bangunan-bangunan tua yang dulunya dipakai sebagai rumah tinggal kini dijadikan sebagai tempat karaoke tanpa merubah bentuk aslinya.

Tenda-tenda warung yang jumlahnya belasan bahkan puluhan berjejeran sepanjang jalan. Selain menjajakan kopi dan makanan ringan, ada juga tenda-tenda yang dijadikan tempat mangkal gadis penghibur. “Yang di luar itu biasanya lebih mahal, tapi tergantung negoisasi sih,” jelasnya sambil melirik perempuan-perempuan yang berdiri di pinggir jalan.Entah berapa kali perempuan ini membujukku untuk mentraktirnya makanan dan minuman jualannya sendiri. Tiba-tiba pesawat seluler di kantongku berbunyi. “Halo, kamu di mana nih? Katanya mau jemput aku ?” Suara di seberang mengingatkan aku pada tujuan awalku ke sini. Kurogoh dompetku, “Kopi dua gelas, kacang dan wafer satu, teh botol dua. Semuanya tigapuluh lima ribu,” jawabnya, mantap. “Gila, kok mahal amat,” pikirku. Aku membayarnya dengan hati yang dongkol. Harusnya aku berhati-hati. Paling tidak menanyakan dulu harga sebelum memutuskan makan atau minum. Kami kemudian bergegas kembali ke pelabuhan, menjemput teman dari seberang pulau itu.[*]

Tulisan ini juga dimuat di Buku Makassar Nol Kilometer, Ininnawa (2005)

[1] “Sudah lama juga yah” (Bahasa Makassar)

[2] Diindonesiakan menjadi Afasia, penyakit yang disebabkan oleh kerusakan otak yang mengendalikan pusat kemampuan bicara.

[3] Penyakit yang dialami seseorang akibat degenerasi sel-sel otak. Umumnya menyerang orang tua, tapi dalam beberapa kasus juga menyerang orang usia muda. Gejalanya adalah pikun dan kesulitan bicara.

[4] Pa’kappalatallang adalah sebutan untuk penjahat yang menipu dengan cara menghipnotis korbannya.

Related Posts

About The Author

Add Comment