Berjalanlah, Kenali Dan Cintai Indonesia

Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya.
Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan
dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.
[Soe Hok Gie]

 

Pertengahan Juni lalu, seorang sahabat menelpon saya. Senang juga rasanya mendapat telpon darinya. Sudah lama komunikasi kami terputus karena kesibukan masing-masing. Kini dia mencari hidup di ibukota, sedang saya bekerja di Kecamatan Kajang, Kab. Bulukumba, salah satu daerah terpencil di kaki Pulau Sulawesi.
Sahabat tersebut menelpon untuk mengajak saya naik gunung lagi. Tanpa berpikir panjang, saya langsung mengiyakan ajakan kawan itu. Setahun terakhir, saya lebih banyak mengunjungi pulau-pulau cantik nan eksotis di sekitar Sulawesi. Melalui laman web-nya, pada 08 Februari 2012 National Geographic merilis ada 13.466 pulau di Indonesia. Bukan 17.508 pulau sebagaimana selama ini menjadi acuan berbagai pihak di dalam dan luar negeri. Jumlah itu diketahui berdasarkan survei geografi dan toponimi yang berakhir pada tahun 2010 dan telah dilaporkan kepada Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
Saya berkesempatan mengunjungi Taman Wisata Takabonerate pada November 2011, Pulau Samalona lalu gugusan Kepulauan Spermonde pada Mei tahun ini. Menikmati secuil keindahan surga yang dimiliki Indonesia. Begitu banyak keindahan bertaburan di gugusan kepulauan dan daratan negara tercinta kita. Sungguh sayang, jika kita lebih memilih menghabiskan uang dengan berwisata ke luar negeri tanpa menikmati apa yang kita miliki terlebih dahulu. Meski, tentu saja membutuhkan waktu yang sangat panjang jika ingin meresapi seluruh surga yang disajikan negeri ini.
Namun, bagi Afdal Hakim, waktu dan dana bukan halangan untuk mewujudkan rasa cintanya pada Indonesia. Adal, panggilan akrab pejalan berusia 26 tahun itu hanya butuh restu ibu untuk mewujudkan mimpinya: mengenal Indonesia lebih dekat. ”Dari kecil saya menghormati merah putih, kalau tidak melihat sendiri Indonesia itu seperti apa, rugi saya”, ungkap pemuda asal Minangkabau ini.

Adal tdk sekadar menikmati alam Papua Indonesia tapi juga ikut merasakan kehidupan masyarakatnya, termasuk memakai koteka. (koleksi Adalbon)

Adal tdk sekadar menikmati alam Papua Indonesia tapi juga ikut merasakan kehidupan masyarakatnya, termasuk memakai koteka. (koleksi Adalbon)

Melihat langsung bumi pertiwi dari dekat dan merasakan sambutan anak negeri yang hangat menyadarkan Adal bahwa orang Papua adalah orang yang tulus, hangat dan bersahabat, tidak seperti apa yang tampak dalam kotak kaca kita yang gemar menampilkan gambar perang antar suku. Selama setahun ia mengelilingi 14 kabupaten di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat tak sekalipun ia menerima penolakan.

β€œOrang Papua itu baik-baik, asal kita juga baik dan sopan”, ungkapnya pada sebuah kesempatan berteman secangkir kopi Wamena. Saya mengamininya saat itu, meski hanya sebulan saya pernah merasakan kehangatan dari orang-orang Papua di tengah dinginnya Lembah Baliem. Pada tahun 2006 dalam rangka penelitian, saya berkesempatan mengunjungi Kab. Jayawijaya yang beribukota di Wamena, kota kecil yang tepat berada di tengah-tengah Pulau Papua.

Melalui beberapa penelitian pula saya mengenal dan bersentuhan langsung dengan tanah air dan rakyat Indonesia. Dari beberapa daerah yang saya kunjungi, gambaran masyarakat Indonesia serupa dengan apa yang Adal paparkan mengenai orang-orang Papua. Tak peduli suku apapun, kehangatan dan siap menerima siapa saja dengan tangan terbuka dan keindahan alam serta kekayaan budaya adalah hal yang paling Indonesia.

Berbeda dengan apa yang sering televisi tampilkan, orang-orang Indonesia di pelosok-pelosok negeri adalah orang-orang yang tulus dan ramah. Meski, pada beberapa bagian Indonesia, biasanya di perkotaan, hal-hal tersebut mulai tergerus oleh tuntutan dan tekanan hidup yang tinggi, tetap saja hal-hal tersebut selalu menimbulkan kerinduan untuk merasakan dan meresapinya secara langsung.

Kerinduan itulah yang membuat saya langsung mengiyakan ajakan sahabat tadi. Naik gunung untuk mengenalkan anak, dari sahabat yang menelpon, pada alam dan masyarakat Indonesia lebih awal. Anak sahabat itu baru berusia 2.5 tahun. Tanpa memerhatikan kondisi fisik yang tak lagi tangguh untuk naik gunung, kerinduan itu menjadi pemicu semangat dan pemacu tenaga. Juga untuk mengulang kisah konyol kami 13 tahun silam saat masih berstatus mahasiswa baru.

Saat itu, kami berempat mendaki gunung Bawakaraeng tanpa persiapan dan peralatan memadai. Bekal saya hanya satu, semangat yang muncul setelah membaca Catatan Seorang Demonstran – Soe Hok Gie. Ketiga teman saya masih jauh lebih baik, mereka masih segar setelah mengikuti pelatihan dan pendidikan dasar pada kegiatan ekstra kurikuler yang mereka ikuti seperti Korps Pencinta Alam Unhas dan Unit Kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam Edelweis Fak. Sastra Unhas.

di Talung, Bawakaraeng, sesaat sebelum turun ke Lembah Ramma'

di Tallung, Bawakaraeng, sesaat sebelum turun ke Lembah Ramma’

Hasilnya, pendakian kami saat itu tentu saja mengecewakan. Kami tak berhasil mencapai puncak gunung Bawakaraeng. Pendakian itu berakhir pada pos lima. Hujan dan peralatan minim membuyarkan keinginan kami untuk sampai puncak. Tanpa tenda dan sleeping bag, jadilah kami bermalam di pos lima dengan hanya mengandalkan terpal sebagai penahan hujan. Untuk menghangatkan badan, kami tidur bertumpuk bergantian dan saling memeluk satu sama lain. Untunglah kami bisa bertahan saat itu dan tidak mengalami hal buruk, tapi meninggalkan kesan yang amat mendalam; keramahan dan ketulusan penduduk di kaki Gunung Bawakaraeng dan keindahan alam Desa Lembanna.

Baca Juga: Belajar Masa Lalu di Leang-Leang Maros

Pengalaman pertama itu mengendap dalam ingatan dan mendorong keinginan-keinginan untuk mengenal lebih jauh Indonesia. Saya kemudian melakukan perjalanan-perjalanan ke gunung, penyusuran gua dan mengunjungi pulau-pulau Indonesia. Dalam setiap perjalanan saya menemui hal yang sama; keindahan alam, keberagaman budaya dan keramahan Indonesia.

Saya merasa sangat beruntung bisa menginjakkan kaki di sebaran surga bernama Indonesia. Perjalanan-perjalanan itu pula yang menumbuhkan kecintaan pada negeri ini. Kecintaan itu kemudian membuat saya merasa perlu mengabarkan apa yang saya temui, rasa dan dengarkan kepada orang lain melalui ranah media sosial berupa tulisan di blog atau kicauan di twitter. Aktivitas di media sosial yang kini bisa dilakukan meski berada di daerah pelosok dan sulit terjangkau sekalipun karena adanya provider yang juga paling Indonesia, Telkomsel.

 


Related Posts

About The Author

17 Comments

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.