Berbagi NGObrol asik PejuangnasI atawa #NGOPI2016

“Jangan-jangan pulang dari sini kita tak dapat apa-apa. We got nothing here”

Cece Melan, satu dari seratusan peserta Ngopi2016 mengungkapkan kekhawatirannya. Terasa wajar jika Cece, panggilan akrabnya, merasa khawatir tak mendapatkan apa-apa sepulang dari kegiatan bertajuk Ngobrol Asik Pejuangnasi Indonesia 2016 yang disingkat dengan tagar #Ngopi2016 ini. Jauh-jauh ia datang dari Batam ke Mojokerto, tentu berharap akan mendapat sesuatu pada kegiatan ini.

Saya merasakan hal yang sama. Sesi berbagi cerita atau sesi ‘Sharing’ seperti yang tertulis di rundown acara tak berjalan sebagaimana mestinya. Agenda di mana seharusnya para pejuangnasi (sebutan bagi anggota BerbagiNasi) saling berbagi cerita dan pengalaman selama bergabung di gerakan BerbagiNasi di kota masing-masing digantikan oleh pemaparan tentang website resmi BerbagiNasi.com, agenda yang tak ada dalam jadwal yang peserta terima sebelum berangkat.

Harapan saya dan teman-teman yang mewakili BerbagiNasi Makassar akan mendapatkan banyak pelajaran berharga dari pejuangnasi kota lain pun tak terpenuhi. Awalnya, saya mengira pemaparan tentang website ini hanyalah item selipan sebelum memasuki sesi berbagi sebagai (atau seharusnya) menjadi agenda utama dari #Ngopi2016 yang berlangsung pada Sabtu malam, 3 September 2016. Adanya website resmi sebagai saluran resmi seluruh gerakan Berbaginasi se Indonesia memang penting tapi bisa dikomunikasikan melalui tempat atau cara lain. Tak perlu menggusur agenda utama pertemuan #Ngopi2016 yaitu sesi berbagi.

“Mungkin sesi berbaginya akan diadakan di lapangan” begitu pikir saya. Sebelumnya, panitia memang menyiapkan sebuah sesi lagi di bukit yang memiliki hamparan luas di atas villa tempat kami menginap. Sore harinya saat kegiatan games, saya sempat melihat panitia menyiapkan alat pengeras suara dan juga alat pembakaran atau barbeque.

Sayangnya, dugaan saya salah. Tak ada sesi berbagi. Pun tak ada arahan dari panitia apa dan bagaimana yang seharusnya dilakukan oleh peserta. Ini acara bebas. Beberapa orang memilih untuk memanfaatkan pengeras suara yang ada di gazebo untuk bernyanyi dan berjoget. Ada pula yang memilih untuk mengisi perut dengan membakar jagung, bakso dan sosis yang telah disiapkan oleh panitia. Sebagian besar memilih untuk menyalakan dan melepaskan lampion. Sebagian kecil memilih  meninggalkan jejak kehadiran berupa tanda-tangan pada spanduk besar yang disiapkan panitia.

beberapa spanduk peserta #Ngopi2016

beberapa spanduk peserta #Ngopi2016

Setelah menikmati jagung dan sosis bakar, juga menerbangkan lampion saya bergabung dengan beberapa teman yang sudah duduk manis di atas tikar plastic yang telah disiapkan panitia. Beberapa teman dari kota lain menghampiri kami. Ada yang dari Pontianak, Depok, Cikarang dan Batam. Bertanya tentang Makassar, budaya dan bahasa. Cece Melan, peserta dari Batam, kemudian meminta kami berbagi cerita apa saja yang sudah kami lakukan di BerbagiNasi Makassar.

Kami pun akhirnya bertukar cerita dan pengalaman apa saja yang kami hadapi dan lakukan saat menggerakkan Berbaginasi di kota masing-masing. Inilah yang saya secara pribadi dan kami, Berbaginasi Makassar harapkan dan menjadi tujuan kami datang ke acara NGObrol asik Pejuangnasi Indonesia 2016. Kami ingin belajar dari apa yang telah teman-teman pejuangnasi se-nusantara lakukan. Mungkin ada sesuatu yang bisa kami terapkan di kota kami. Sungguh sayang, hal itu tak terwujud.

Hilangnya sesi berbagi ini membuat kami merasa #Ngopi2016 ini tak memberi apa-apa bagi kami. Tak ada sesuatu yang bisa kami bagikan ke teman-teman pejuangnasi Berbaginasi Makassar sebagai pertanggungjawaban. Meski kami menggunakan dana pribadi, rasanya kami tetap harus membagikan sesuatu pada teman-teman di Makassar karena kepergian kami membawa nama mereka.

#Ngopi2016 adalah gelaran ketiga yang mempertemukan pejuangnasi se Indonesia. Sebelumnya, ajang perdana Ngopi2014 diadakan di Bogor dan kedua atau #Ngopi2015 digelar Kudus. Pada #Ngopi2016 ini hadir perwakilan 24 kota Berbaginasi dengan jumlah peserta mencapai seratusan lebih. Saya tak tahu bagaimana #Ngopi2014 dan #Ngopi2015 berlangsung karena saya tak hadir. Tapi semestinya, mengingat #Ngopi2016 adalah gelaran ketiga, panitia dan orang-orang yang mengarahkan #Ngopi2016 ini menjadikan sesi berbagi sebagai prioritas utama pertemuan tahunan para pejuangnasi.

Sepertinya, panitia fokus pada tehnis kegiatan dan kenyamanan peserta sehingga melupakan esensi dan agak mengabaikan rundown kegiatan. Teman-teman Berbaginasi Mojokerto terlalu baik pada peserta. “Ini Ngopi yang paling ribet. Panitia mengikuti kemauan semua peserta” ungkap Cece yang tiap tahun mengikuti gelaran Ngopi.

Hingga sabtu malam, panitia masih disibukkan dengan penjemputan peserta dari titik kumpul di Angkringan Kopinspirasi Mojokerto untuk dibawa ke tempat pelaksanaan di kawasan Pacet yang berjarak sekira satu jam perjalanan dari kota Mojokerto. Ini tentu saja menguras tenaga dan konsentrasi panitia. Harusnya, panitia menentukan lokasi dan batas waktu penjemputan peserta sehingga mereka bisa fokus juga mengawal agenda kegiatan.

Bersama Cece Melan, Humas #Ngopi2017 di Batam tahun depan

Bersama Cece Melan, Humas #Ngopi2017 di Batam tahun depan

Di luar hilangnya sesi berbagi, secara keseluruhan kegiatan #Ngopi2016 ini patut mendapat acungan jempol. Panitia benar-benar memerhatikan kenyamanan peserta. Mereka bekerja keras demi memastikan tak ada peserta yang tak terlayani dengan baik. Mas Widhi, Humas #Ngopi2016, bahkan tak tidur selama dua hari selama penjemputan peserta. Pun dengan panitia yang lain.

Panitia bahkan menyiapkan satu orang khusus untuk melayani makanan saya yang berbeda dengan peserta lain. Mbak Ega, panitia itu, akan mencari saya dan menanyakan apakah saya sudah mau makan atau belum. “Mas sudah mau dimasakkan sekarang?” pertanyaan itu selalu muncul dari Mbak Ega begitu waktu makan tiba. Kebaikan hati teman-teman Berbaginasi Mojokerto selaku panitia ini begitu membekas.

Pun bagi Cece Melan, #Ngopi2016 mungkin tak sesuai harapannya tapi ia tetap merasa mendapatkan sesuatu sepulangnya. “Waaaa… tpi aku get something.. I get to know all of you from Makassar.. aku punya saudara baru Makassar” tulisnya di kolom komentar salah satu akun media sosial saya.

Kebaikan dan persaudaraan. Inilah dua kata kunci dari gerakan Berbaginasi yang bermula dari Bandung dan telah berjalan sejak hampir 4 (empat) tahun lalu ini. Kebaikan hati-lah yang mempertemukan mereka semua. “karena masih banyak orang baik hati” hal yang saya yakini menjadi jawaban mengapa gerakan BerbagiNasi bisa terus hadir. Rasa persaudaraan-lah yang membuat mereka jauh-jauh meninggalkan kota masing-masing dengan dana pribadi untuk datang berkumpul ke Mojokerto.

 

*

Terima kasih tak terhingga untuk teman-teman panitia BerbagiNasi Mojokerto untuk kerja keras, keramahan dan segala upayanya dalam menyambut dan menerima kami. Catatan ini sebagai bahan evaluasi untuk kita bersama demi ‘karena berjuang tak pernah seasik ini’.


Sampai bersua kembali di Batam!

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.