Berbagi Nasi, Belajar Jadi Manusia..

Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 

dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan. 

-Soe Hok Gie-

#BerbagiNasi-tile

Seorang lelaki tua berbaju lusuh terbaring di atas becak. Tubuhnya meringkuk, menyesuaikan dengan sempitnya becak. Tangannya memeluk lutut. Selembar sarung tak bisa mengusir dingin malam itu. Perlahan saya menyentuh kaki lelaki itu untuk membangunkannya. Ia lalu duduk dan menatap saya yang menjulurkan sebungkus nasi. “lebba maki’ nganre daeng?”  Saya menanyakan apa ia sudah makan atau belum dalam Bahasa Makassar. Ia segera membuka sebungkus nasi yang saya sodorkan tanpa menjawab pertanyaan tadi. Tak bertanya lebih jauh, saya pun berlalu. Memberi kesempatan padanya untuk menikmati makan malam.

Bagi sebagian besar orang, sebungkus nasi mungkin nilainya tak seberapa. Namun bagi orang di luar sana, sebungkus nasi sangat berarti untuk menyambung hidup mereka. Mereka, orang-orang yang tidur beratap langit dan tidur di jalanan kota. Juga, mereka yang masih bekerja saat orang lain mulai lelap dalam mimpi, demi sesuap nasi di malam hari.

Adalah seorang teman yang me-mention saya tentang ide yang ia ingin laksanakan bersama temannya. Ia mengadopsi ide seorang Danang Nugroho yaitu berbagi nasi bungkus pada orang-orang yang membutuhkan. Tanpa meminta persetujuannya, ide itu langsung saya lemparkan di salah satu akun media sosial saya yaitu twitter. Respon teman-teman dan followers saya ternyata sangat positif. Mereka mendukung ide sederhana itu dan siap berpartisipasi.

Ide itu kami wujudkan keesokan harinya. Berbekal amunisi (sebutan nasi bungkus) sebanyak 44 bungkus nasi, kami berempat menyusuri jalan-jalan kota Makassar. Tak sampai satu jam, amunisi kami habis. Betapa masih banyak orang yang tak beruntung di kota ini. Sembari berbagi, saya juga mengabarkan apa yang kami lakukan melalui akun twitter.

Apa yang kami lakukan ini menuai respon dari banyak pihak. Malam kedua jumlah partisipan dan amunisi yang kami pun bertambah.  Teman-teman dari sebuah fans klub sepakbola menyatakan ingin berpartisipasi. Belasan orang berkendara mobil dan motor menyusuri jalan-jalan di Makassar membagikan 70-an nasi bungkus.

Tanggapan dan dukungan yang kami dapatkan melalui media sosial semakin membuat kami percaya diri. Kami mulai merasa yakin bahwa masih sangat banyak orangdi kota kami yang memiliki kepedulian pada sesama. Teman yang menginisiasi kegiatan ini yakin untuk memberi nama pada kegiatan ini yaitu Berbagi Nasi Makassar, mengadopsi nama Berbagi Nasi Indonesia yang terlebih dahulu hadir di Bandung.

Gerakan ini pun memberanikan diri hadir di dunia maya dengan akun twitter @berbaginasiMKS. Melalui akun ini,  virus berbagi melalui sebungkus nasi kemudian menyebar ke mana-mana. Setelah empat malam berturut-turut berbagi dengan respon yang semakin hari semakin bagus, akhirnya kami memutuskan untuk menetapkan jadwal rutin yaitu setiap Sabtu malam. Pemilihan waktu ini untuk mewadahi teman-teman yang ingin ikut berbagi tapi terkendala waktu kerja. Juga, untuk mewadahi para jomblo yang ingin menikmati malam minggu  dengan kegiatan bermanfaat.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi berperan penting dalam perkembangan gerakan ini. Melalui hadirnya perangkat-perangkat smartphone membuat informasi tentang gerakan ini mudah menyebar. Virus gerakan berbagi ini menyebar dengan cepat dan mempertemukan banyak orang yang memiliki kepedulian yang sama.

Melalui media sosial semacam twitter dan fb secara tidak langsung, semua pejuang nasi menjadi duta Berbaginasi saat mengabarkan melalui gambar-gambar kegiatan berbagi. Hal ini menjadi salah satu kekuatan dan jawaban mengapa gerakan ini bisa bertahan dan bahkan terus bertumbuh. Selalu saja ada pejuang nasi baru yang hadir di setiap momen berbagi. Donatur, sebagai nyawa gerakan ini, selalu ada sehingga gerakan ini bisa terus berlangsung.

Melihat perkembangan gerakan dengan semakin banyaknya yang ingin bergabung dan untuk menyesuaikan kondisi yang kami temui, akhirnya teman-teman memutuskan untuk menjadikan kegiatan rutin setiap sabtu malam tanpa pernah absen sekalipun. Ada juga berbagi sarapan setiap hari Minggu pertama setiap bulannya dan juga berbagi tengah malam plus pengobatan pada pekan ke empat setiap bulannya.

Selain berbagi nasi, gerakan ini juga membentuk Tim Tanggap Bencana yang turun setiap ada bencana, semisal kebakaran dan banjir. Senjata utama tim ini tetaplah nasi bungkus dan kebutuhan lainnya yang dibutuhkan para korban. Biasanya, sebelum turun mereka berkordinasi dengan tim-tim tanggap bencana lainnya seperti Palang Merah Indonesia untuk mengetahui kondisi lokasi dan korban bencana.

Gerakan Berbagi Nasi Makassar ini juga selalu berkolaborasi dengan komunitas-komunitas lainnya di Makassar. Semakin masifnya penggunaan smartphone dan gadget yang disertai penyebaran informasi yang sangat mudah dan cepat, mendukung pertumbuhan komunitas-komunitas dengan berbagai latar.

Komunitas-komunitas semakin mudah melakukan kordinasi dengan anggota-anggotanya melalui aplikasi-aplikasi media sosial yang memungkinkan percakapan banyak orang semacam LINE dan Whatsapp. Pergerakan semakin mudah dan dinamis, kendala miskomunikasi pun menjadi berkurang. Sebuah ide bisa dengan cepat dieksekusi setelah dibahas di grup.

Menariknya, komunitas-komunitas di Makassar ini memiliki kepedulian yang tinggi terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka. Mereka pun tanggap akan bencana-bencana yang terjadi, selain tentu saja melakukan kegiatan-kegiatan sesuai minat dan latar belakang komunitas mereka. Tanpa memandang latar komunitas yang berbeda, mereka bahu-membahu menggalang solidaritas untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Salah satunya ketika banjir besar melanda Makassar dan beberapa daerah di Sulawesi-Selatan, bisa dibaca di Komunitas dan Banjir di Makassar.

Berbaginasimks korantempo

Sebungkus nasi adalah sebuah sarana komunikasi sarat makna. Melalui sebungkus nasi kami turut merasakan penderitaan orang lain. Sebungkus nasi mengajarkan kami untuk mencintai orang-orang di sekitar yang selama ini kami abaikan. Sebungkus nasi memang tak akan mampu mengubah nasib orang-orang yang kurang beruntung itu. Namun, dengan berbagi, teman-teman @berbaginasimks percaya hal itu bisa mengasah kepekaan dan memanusiakan kami sebagai manusia.

 

Catatan:

Untuk bergabung dengan BerbagiNasi Makassar sangat mudah.  Cukup datang pada saat ada kegiatan, membawa nasi bungkus secukupnya, atau datang membantu membagikan nasi yg sudah terkumpul. Boleh boleh juga melalui donasi berupa uang.

Info lengkap tentang BerbagiNasi Makassar bisa melalui;

  1. Twitter @berbaginasiMKS
  2. FB Berbagi Nasi Makassar
  3. Website berbaginasimakassar.com

Related Posts

About The Author

4 Comments

Add Comment