Belajar dari Pannikiang, Negeri Kelelawar dan Mangrove

Tahun 2007 nama sebuah pulau di Barru menyita perhatian dan menjadi pembicaraan warga Sulsel. Serupa Maryam, seorang gadis melahirkan tanpa pernah menikah. Kasmira, nama gadis itu, mengaku tak pernah melakukan hubungan intim sebelumnya. Anaknya pun lahir dengan keajaiban berupa lafaz Allah di beberapa bagian tubuhnya. Berbondong-bondong orang datang ke pulau itu untuk menyaksikan keajaiban itu. Nama pulau itu Pannikiang.

Pannikiang sendiri berarti ‘tempat kelelawar’ dalam Bahasa Bugis. Pulau yang merupakan sebuah dusun yang secara administrasi masuk Desa Madello, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru ini memang terkenal sebagai habitat kelelawar. Selain kelelawar dan cerita tentang Kasmira dan anaknya, pulau ini memiliki keajaiban yang juga patut mendapat perhatian lebih. Keajaiban itu berupa kepadatan dan keanekaragaman jenis mangrove yang tumbuh di pulau seluas 94.5 ha. Luas tutupan mangrove di Pulau Pannikiang mencapai 86,31 Ha hektar yang meliputi 91,00 % lahan di pulau ini.

Keajaiban inilah yang menjadi dasar bagi Yayasan Hutan Biru, lebih dikenal sebagai Blue Forests, mengajak sejumlah blogger, fotografer dan jurnalis berkunjung ke pulau Pannikiang ini dalam kegiatan Edutrip, 23 Juli 2016. Di pulau ini peserta kegiatan EduTrip, yang merupakan rangkaian International Mangrove Day yang bertemakan Future Mangrove: From Grey To Green ini, belajar langsung dengan mengamati dan mendapatkan pengetahuan dari masyarakat dan fasilitator Blue Forests tentang bagaimana pentingnya mangrove bagi kelangsungan hidup kita.

Pulau Pannikiang yang berjarak sekira satu mil dari daratan Barru ini 30 jenis mangrove, 17 jenis adalah mangrove sejati yaitu; Sonneratia alba, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, Avicennia marina, Ceriops decandra, Ceriops tagal, Lumnitzera racemosa, Aegiceras corniculatum, Excoecaria agallocha, Xylocarpus granatum, Xylocarpus moluccensis, dan 13 jenis mangrove asosiasi. Jumlah ini lebih dari setengah jenis mangrove sejati di Sulawesi yang berjumlah 32 jenis.  Untuk seluruh Indonesia tercatat terdapat 43 jenis mangrove sejati.

“Pulau Pannikiang adalah hutan referensi mangrove terbaik di Sulawesi Selatan,” Aksan Nur Imran, ketua panitia EduTrip mengungkapkan salah satu alasan mengadakan kegiatan yang diikuti oleh 70an peserta. Selain itu, melalui kegiatan ini Aksan berharap para peserta semakin memahami arti penting mangrove dan pelestariannya lalu menyebarkannya ke khalayak dan masyarakat umum.

Peserta EduTrip yang diadakan oleh Blue Forests menyusuri hutan mangrove melalui jembatan di Pulau Pannikiang

Peserta EduTrip yang diadakan oleh Blue Forests menyusuri hutan mangrove melalui jembatan di Pulau Pannikiang

Mangrove sangat penting artinya bagi kehidupan, utamanya di daerah pesisir. Vegetasi ini berperan dalam melindungi daerah pantai dan memelihara keanekaragaman hayati. Mangrove, menurut  Abu Nawar, melindungi mereka dari angin dan ombak yang datang dari arah pantai. “Mangrove itu pelindung kampung dari angin barat dan ombak. Kalau musim barat besar sekali itu ombak tapi di sini tenang ji. Tidak ada ombak.” ungkap kepala dusun ini.

Abu Nawar yang juga Imam Masjid ini mengungkapkan dulunya masyarakat memanfaatkan kayu mangrove sebagai kayu bakar dan arang yang hasilnya mereka jual ke daratan. Setelah adanya larangan penebangan mangrove dari Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Barru, penduduk pulau tak lagi menebang mangrove dan bergantung pada hasil tangkapan. “Tidak ada mi yang tebang mangrove. Tinggal sedikit juga yang bikin arang. Itu juga ambil dari kayu-kayu yang hanyutji” kata lelaki kelahiran Pannikiang berusia 59 tahun ini.

Pekerjaan utama penduduk pulau yang berpenghuni kurang lebih 70an jiwa (26 KK) ini adalah nelayan penangkap ikan dan cumi. Umumnya mereka melaut untuk menangkap ikan dan cumi selama berhari-hari. Itulah kenapa pulau ini sering kali terlihat sepi. Saat kami berkunjung, deretan rumah panggung warga lebih banyak yang terlihat kosong dan terkunci. Belasan rumah gubuk milik pelaut Mandar yang biasanya menghuni pulau ini pun terlihat kosong. Mereka biasanya datang ke pulau ini antara bulan Oktober hingga bulan Mei saat musim penangkapan ikan. Di luar bulan-bulan itu, mereka kembali ke kampung asal mereka.

Kedatangan nelayan dari Mandar ini tentu tak lepas dari bagusnya ekosistem di perairan sekitar pulau ini. Tidak mengherankan jika perairan sekitar Pannikiang masih memiliki ekosistem perikanan yang bagus. Lebatnya hutan mangrove di pulau ini memungkinkan hal itu terjadi. Di hutan mangrove perputaran rantai makanan berjalan terus, ikan memijah, udang, kepiting, keberlangsungan berbagai spesies hewan laut bermula dari tempat ini.

Hal ini tentu membawa dampak positif pada perekonomian warga pulau Pannikiang. “Biasanya kami menangkap sunu atau kerapu. Bulan Desember dan Januari harga kerapu bisa mencapai 800 ribu per ekor” ungkap Pak Abu Nawar. Dampak ini pun mengundang nelayan dari daratan Barru untuk memarkir kapal bagang di sekitar pulau seperti yang kami lihat saat berada di pulau ini.

Masih banyak lagi manfaat dari adanya hutan mangrove bagi kehidupan manusia. Antara lain adalah kemampuannya untuk menyerap karbon yang lebih 5 (lima) kali besar dari hutan di daratan. Kemampuan menyerap karbon ini mampu membantu mengurangi laju pemanasan global. Akar mangrove juga dapat mempercepat penguraian limbah organik yang terbawa ke wilayah pantai. Selain itu, hutan mangrove juga dapat membantu mempercepat proses penguraian bahan kimia yang mencemari laut seperti minyak dan diterjen, dan juga menjernihkan air serta menyaring sifat asin dari air laut.

Tak hanya bagi manusia, hutan mangrove pun menjadi habitat beragam hewan-hewan. Selain kelelawar, Pannikiang juga memiliki 20 spesies burung dari 16 familia. Di pulau yang bisa ditempuh dengan perahu bermotor selama sekira 30 menit ini bisa dijumpai satu jenis burung endemik Sulawesi seperti Pelatuk Sulawesi (Mulleripicus fulvus) dan beberapa jenis burung yang merupakan burung dilindungi seperti yaitu cekakak suci (Todirampus sancta), burung madu sriganti (Nectarinia jugularis), burung madu sepah raja (Aetophyga siparaja), burung kacamata (Zopterops sp), dan burung madu bakau (Nectarinia calcostetha).

Besarnya manfaat mangrove pada kehidupan, sayangnya terancam tak bisa dinikmati oleh anak cucu kita. Setiap tahun terjadi penurunan luas hutan mangrove dengan skala yang tidak kecil. Luas hutan mangrove Indonesia yang dulunya berkisar 4 juta ha kini tersisa 2.9 juta ha. Blue Forests memperkirakan terjadi kita kehilangan 52.000 ha hutan mangrove setiap tahunnya. Untuk Sulsel sendiri, kini tersisa 70.000an ha dari dulunya seluas 200.000an ha.

Penurunan jumlah luas hutan mangrove itu terjadi karena beberapa sebab. Penyebab utamanya adalah perubahan fungsi hutan mangrove menjadi lahan tambak. Padahal, sejatinya produktifitas tambak hanya bertahan paling lama lima sampai enam tahun. Setelah itu tak bisa dimanfaatkan lagi. Penyebab lainnya adalah karena pembangunan wilayah pesisir perkotaan yang mengorbankan hutan mangrove.

Kondisi hasil penanaman kembali Mangrove di Bawa Salo Barru

Kondisi hasil penanaman kembali Mangrove di Bawa Salo Barru

Upaya pemerintah dalam mengembalikan keberadaan hutan mangrove bukannya tidak ada. Sayangnya, banyak program yang tidak berhasil. Berulang kali kita mendengar program dengan nama bombastis semisal; ‘Penanaman Sejuta Mangrove’ namun hasilnya tak tampak di mata kita. “Banyak program yang asal tanam tanpa memperhatikan jenis mangrove yang cocok di lahan tertentu atau bahkan banyak yang ditanam di atas genangan air.” Ungkap Suwardi, salah satu fasilitator kegiatan. Penanaman mangrove dengan pola ini seringkali berakhir dengan kegagalan. Kalau tidak tumbuh secara kerdil, malahan mangrove tak berhasil tumbuh sama sekali seperti yang terlihat pada Desa Bawa Salo, Barru.

Sejatinya, mangrove bisa tumbuh alami apabila ekosistem di sekitarnya bagus. Hal inilah yang diterapkan oleh Blue Forests di Tanakeke, Takalar. Dengan pembenahan hidrologi yaitu saluran air di sekitar kawasan mangrove, Blue Forests bersama masyarakat berhasil merehabilitasi lahan seluas 532 ha tambak terlantar dan mengembalikan ekosistem mangrove mereka yang hilang. Pelibatan masyarakat ini sangat penting mengingat karena merekalah yang mengenali alam sekitar mereka.

Melestarikan keajaiban pulau Pannikiang menjadi tugas kita semua pihak. Mungkin bisa dimulai dengan menjadikan pulau ini sebagai kawasan konservasi sehingga keberadaannya semakin terjadi. Dengan status itu, pulau Pannikiang bisa pula dikembangkan menjadi kawasan ekowisata dimana kita bisa belajar sekaligus rekreasi. Tentu saja dengan melibatkan semua pihak terkait, termasuk warga Pannikiang.

Happy International Mangrove Day. Future Mangrove: From Grey To Green

Happy International Mangrove Day.
Future Mangrove: From Grey To Green

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment