Belajar Bersama Mahasiswa Asing

Tanggal 28 – 29 Maret kemarin, Kelas Kepo mendapat kehormatan untuk mengisi Workshop Penulisan Artikel Untuk Mahasiswa Asing. Adalah Kantor Urusan Internasional Universitas Muhammadiyah yang mengadakan kegiatan dan mengundang kami.

Siang itu, jam digital di ponsel sudah menunjukkan Pukul 11.48 Wita. Saya bergegas mandi di kamar hotel. Malamnya, bersama tim, saya melewatkan malam di kamar sebuah hotel demi mengejar tenggat waktu proposal untuk satu klien. Untunglah saya sempat meluangkan waktu tidur satu jam lebih di malam harinya. Mandi air hangat lumayan bisa menyegarkan badan setelah bekerja semalaman.

Saya tiba di ruangan workshop tepat saat istirahat makan siang dimulai. Setelah bertanya ke sana ke mari, akhirnya saya bisa menemukan ruangan pelatihan. Kampus Unismuh ini memang agak asing bagi saya. Ini pertama kali saya memasuki kampus yang pernah tersohor sebagai kampus yang melahirkan mahasiswa – mahasiswa dan demonstran militan.

Ruangan Kantor Urusan Internasional Unismuh, tempat pelaksanaan workshop, tak begitu luas. Tak lebih dari 5 x 5 meter persegi. Peserta, panitia dan pemateri yaitu Daeng Ipul dan Kak Iyan duduk mengelilingi meja yang disusun persegi empat mengikuti bentuk ruangan. Satu meja hanya cukup untuk 3 – 5 orang. Mereka sedang menikmati santap siang yang disediakan panitia.

Saya mengedarkan pandang. Pada orang – orang yang sebelumnya tak saya kenal. Hanya ada dua wajah yang bisa saya tebak sebagai mahasiswa asing. Satu perempuan berwajah oriental dan satu perempuan lagi berwajah timur – tengah. Selebihnya, tampak seperti wajah – wajah orang Indonesia pada umumnya.

Barulah setelah melihat daftar nama peserta saya yakin bahwa mereka benar – benar mahasiswa asing. Ada Yasmina (Aljazair), Momoka (Jepang), Robert Mau Mpa atau Omar (Papua Nugini), Yuki (Vietnam), Azurea Useng, Tameese Kuning, Torik Long, Aseema Samae, Nisrin Maming (Thailand) dan Herah Wati Binti Tahir (Malaysia). Sekilas hanya Yasmina dan Momoka yang secara fisik berbeda, selebihnya sulit membedakan mereka dengan mahasiswa Unismuh yang saya jumpai sebelumnya.

Sejatinya, kami berempat; saya, Daeng Ipul, Kak Iyan dan Ombal, diundang untuk berbagi pengetahuan pada mereka, mahasiswa asing yang sedang menimba ilmu di Unismuh. Pada kenyataannya, adalah kami yang justru banyak belajar dari workshop ini. Membawakan materi di hadapan mahasiswa asing adalah pengalaman pertama bagi kami semua.

Kendala utama tentu saja adalah soal bahasa. Meski semua peserta sudah mulai fasih dan memahami Bahasa Indonesia, tetap saja kami kesulitan memaparkan materi pada mereka. Kosa kata Bahasa Indonesia peserta yang minim menjadi salah satu masalah tersendiri. Mau tak mau, kami harus pandai memilih kata yang kami pergunakan. Itu pun masih ada saja kata – kata yang mereka belum pahami.

Daeng Ipul misalnya, ketika membawakan materi Bagaimana Menulis Yang Baik, harus mencari cara agar peserta memahami kata ‘wawasan’, ‘kokoh’ dan ‘lahan’. Bisa jadi, kata – kata yang sangat umum bagi kita sangat umum, tapi bagi mereka adalah sesuatu yang asing. Tak pernah mereka baca atau dengarkan sebelumnya.

Kendala lainnya adalah para peserta belum memahami penempatan imbuhan pada Bahasa Indonesia. Misalnya, ada yang menuliskan kalimat seperti ini: “Unismuh diletakkan di Jalan Alauddin” yang seharusnya memakai kata terletak. Ada juga yang menuliskan “Unismuh Makassar memperbangunkan tahun 1962” yang maksudnya adalah ‘dibangun’.

Kesalahan – kesalahan ini tentu saja bisa kami maklumi mengingat mereka bukan penutur apalagi penulis Bahasa Indonesia. Orang Indonesia pun masih sering melakukan kesalahan saat menulis kan? Justru, kendala dan kesalahan – kesalahan kecil ini yang membuat kelas lebih hidup dan seru. Para peserta tergelak sendiri begitu mengetahui kekeliruan mereka.

Di balik kendala bahasa yang mereka hadapi, para peserta workshop ini memiliki kemampuan daya serap yang bagus pada materi. Hal ini terlihat dari praktik dari materi fotografi yang dibawakan oleh Ombal dan materi videografi ponsel oleh Kak Iyan. Mereka mampu menerapkan materi yang mereka dapatkan dan menghasilkan foto dan video yang bagus.

Pun dengan materi media sosial yang sedianya saya bawakan. Melihat kendala bahasa yang mereka miliki, saya terpaksa membuat ulang materi yang sebelumnya sudah saya kirimkan ke panitia. Sedianya, saya ingin berbagi tentang bagaimana berbagi ide melalui blog dan etika media sosial. Sayangnya, tak satu pun dari peserta yang memiliki blog. Saya kemudian fokus pada bagaimana etika di media sosial. Hal ini menjadi penting mengingat semakin banyaknya korban kriminalisasi karena status media sosial.

Di Vietnam dan Thailand sendiri, negara asal peserta workshop, kasus serupa juga terjadi. . Di Vietnam sendiri, media – media arus utama dikuasai oleh negara, netizen kemudian memilih internet sebagai wadah untuk melakukan kritik pada pemerintah. Nguyen Huu Vinh, seorang blogger ternama dari Vietnam, dijatuhi hukuman 5 (lima) tahun penjara atas dakwaan menyalahgunakan kebebasan demokrasi.

Sementara di Thailand, seorang buruh ditangkap hanya karena status FB. Pria bernama Thanakorn Siripaiboon ditangkap kepolisian lantaran menulis status di Facebook yang bernada menghina terhadap seekor anjing peliharaan raja bernama Tongdaeng. Thanakorn juga didakwa telah menyebarkan berita dugaan korupsi dalam pembangunan monumen untuk Raja Thailand. Akibat perbuatannya yang dianggap menghina dan menghasut publik lewat jejaring sosial itu, ia terancam hukuman 37 tahun penjara.

Saat membawakan materi, saya meminta mereka menuliskan status tentang kegiatan yang sedang mereka ikuti. Ternyata, sebagian besar dari mereka tak begitu aktif di media sosial meski hampir semua mengaku memiliki akun facebook. Herah Wati (asal Malaysia) misalnya, ia mengaku hanya memiliki akun instagram tapi sudah lama tak menggunakannya.

Herah pun meminta agar ia dibolehkan untuk menulis di selembar kertas saja. Meski materinya adalah tentang media sosial, saya kemudian mengiyakan mengingat tujuan utama workshop ini adalah melatih mereka menulis dalam Bahasa Indonesia. Peserta lain kemudian mengikuti apa yang dilakukan Herah, menuliskan di selembar kertas lalu meminta kami mengoreksinya sebelum mereka pindahkan ke media sosial yang mereka miliki. Hasilnya?

Mereka adalah para pembelajar cepat. Terlihat dari apa yang mereka tuliskan. Membaca sekilas apa yang mereka tuliskan akan membuat kita merasa bahwa yang menuliskannya adalah penutur asli Bahasa Indonesia.

Sehari setelah workshop, saya mencoba mengintip timeline facebook salah seorang peserta, Aseema Samae. Sungguh menggembirakan melihat status panjang yang ia tulis dalam Bahasa Indonesia padahal status – status sebelumnya masih menggunakan bahasa dan aksara negara asalnya, Thailand.

Status salah satu peserta workshop.

Status salah satu peserta workshop.

Melihat Aseema, sekilas kita akan mengira dia mahasiswa Unismuh asal Indonesia dan bukan mahasiswa asing. Aseema, yang meminta dipanggil Mimi, nama yang ia dapatkan sejak berada di Indonesia. Mimi bersama 4 (empat) mahasiswa asal Thailand yang kuliah di Unismuh berasal dari Thailand bagian selatan.

Di Makassar sendiri, menurut Mimi, setidaknya ada 30 mahasiswa asal Thailand, selain di Unismuh selebihnya berkuliah di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Ada 3 (tiga) provinsi di Thailand bagian selatan yang berpenduduk mayoritas Muslim yaitu Pattani, Yala dan Narattiwat. Secara geografis Thailand selatan lebih dekat ke Malaysia dan penduduknya pun merupakan keturunan Melayu dan mayoritas menganut agama Islam.

Pengalaman dua hari ini mengajarkan beberapa hal pada saya dan teman – teman lain. Membawakan materi pada peserta yang memiliki kemampuan bahasa yang minim tidaklah semudah berbagi pada mereka yang merupakan penutur asli. Belum lagi pengetahuan – pengetahuan lain yang kami dapatkan dari peserta workshop.

Terima kasih untuk Kantor Urusan Internasional Unismuh yang telah mengundang Kelas Kepo untuk berbagi dengan mahasiswa asing Unismuh. Semoga ke depan, kita bisa bekerjasama lagi.

Related Posts

About The Author

Add Comment