Balada Robert Albert dan Fyodor Dostoyevsky

Entah apa yang ada dalam benak Robert Rene Albert ketika mengetahui jika kerangka tim PSM Makassar yang telah disiapkannya, harus direvisi karena aturan.

PSSI lewat operator liga mengeluarkan dekrit: Semua tim Liga 1, wajib memainkan tiga orang pemain usia di bawah 23 tahun (U-23). Tak tanggung, ketiga pemain U-23, wajib dijadikan starter—turun sejak menit awal—minimal 45 menit. Robert pun dibuat ketar-ketir, sebab dia merasa sudah klop dengan formasi yang telah disiapkannya.

Sebuah langkah revolusioner dipahat oleh Edi Rahmayadi, tatkala baru beberapa saat duduk di kursi tertinggi PSSI. Tuntutan untuk memperbaiki persepakbolaan Indonesia, dijawab dengan mewajibkan semua tim Liga 1 memaksimalkan pemain muda, seperti yang telah dijelaskan di atas. Masalahnya, aturan ini dikeluarkan saat kick off Liga 1 tinggal menghitung hari. Beragam kecaman datang silih berganti. Belum lagi kebijakan untuk membatasi pemain berusia 35 tahun, membuat banyak pemain ‘berumur’ tersingkir dari tim. Atas nama perbaikan cum pembinaan pemain muda, hal ini mau tak mau harus dimaklumkan.

Omong-omong soal pemain ‘berumur’, sejak musim lalu (2016) PSM Makassar memang banyak menggunakan pemain muda. Maka batasan pemain usia di atas 35 tahun tersebut, tak jadi masalah bagi tim Ayam Jantan dari Timur.

Hal yang membuat Robert gusar, justru datang dari regulasi pemain U-23. Andai saja aturan ini sudah diputuskan sebelum musim lalu berakhir, tentu saja pria asal Belanda tersebut tak melepas Muchlis Hadi dan Maldini Pali yang notabene tergolong pemain U-23. Manajemen PSM yang tahun ini menargetkan juara, sudah kepalang tanggung mendaratkan pemain bintang yang usianya tak lagi masuk kategori U-23. Singkatnya, Juku Eja sudah merampungkan formasi dan taktikal sebelum regulasi ‘dadakan’ tersebut diputuskan.

Berjudi, mungkin jadi kata yang tepat saat Robert memutuskan untuk menurunkan Asnawi Mangkualam serta M. Arfan secara bersamaan. Ketika PSM dilimpahi gelandang-gelandang kualitas nomor wahid di Indonesia seperti, Rizky Pellu, Syamsul Haeruddin, hingga Ardan Aras, justru yang ditampilkan adalah dua ‘bocah ingusan’. Masalahnya, lini tengah merupakan titik sentral permainan. Bisa saja eks arsitek Arema itu, memainkan pemain U-23 lain yang tidak bermain di posisi sentral. Tetapi, Robert tetaplah Robert.

Pelatih jenius itu berani berjudi di laga perdana Liga 1, melawan Persela Lamongan, dengan memercayakan duet Asnawi dan Arfan sebagai jenderal lapangan tengah.

Situasi dan keputusan yang diambil Robert, juga pernah dialami oleh seorang penulis besar dunia, Fyodor Dostoyevsky. Kala itu, Dostoyevsky yang sudah kehabisan seluruh hartanya karena terlilit hutang di meja judi, memutuskan untuk kembali berjudi. Namun, berjudi yang disebut terakhir bukan dalam arti sebenarnya. Penulis asal Rusia tersebut meminta agar penerbit mau membayarkan hutang-hutang judinya terlebih dahulu. Konsekuensinya, Dostoyevsky menulis sebuah buku sebagai bayarannya pada penerbit yang melunasi hutangnya. Sebuah langkah yang berani memang.

Dalam situasi terjepit, baik Dostoyevsky maupun Robert, sama-sama mampu mengambil keputusan tepat.

“Tuhan bersama para pemberani.” Begitu kalimat yang kerap didengungkan para pendaki gunung. Keberanian Dostoyevsky mengambil keputusan, terbukti menuai hasil yang memuaskan. Buku yang ditulisnya, The Gambler, laris manis di pasaran. Pun dengan Robert. Keputusannya untuk memainkan Asnawi dan M. Arfan, terbukti berhasil. Posisi puncak klasemen Liga 1 yang kini diduduki Pasukan Ramang, tak lepas dari peran kedua pemain muda tersebut.

Baca Juga: Di Makassar, Ramang Masih dan Akan Terus Hidup

***

Skuat PSM Makassar di Liga 1 Gojek Traveloka | foto bola.rakyatku.com

Tak sekali dua Robert mengambil keputusan yang mencengangkan. Saat Piala Presiden 2017 dihelat, Pria yang identik dengan tas pinggang ini, memilih untuk tidak bermukim di Bandung (tuan rumah Piala Presiden) selama kompetisi berlangsung. Dia memutuskan untuk berangkat sehari jelang pertandingan dihelat. Perlu diketahui pula jika Robert membagi timnya menjadi dua-di mana tiap tim mendapat kesempatan bertanding di Piala Presiden. Kebijakan yang membuat banyak pendukung PSM, menggelengkan kepala. Terlebih dalam dua laga awal, Pasukan Ramang menuai kekalahan.

Jika kita lebih awas dalam menganalisa kebijakan Robert Rene Albert, sesungguhnya pelatih yang pernah mempersembahkan gelar juara ISL untuk tim Arema ini, sangatlah jenius dan cerdas. Dia memperhitungkan betul mulai dari kondisi pemain hingga persoalan ekonomi. Satu hal lagi yang patut kita catat, Robert jadi pelatih yang hingga kini terus konsisten angkat suara perihal kondisi sepakbola Indonesia. Mulai dari wasit, peraturan, hingga sarana pertandingan, tak luput dari pengamatannya. Sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh seorang profesional tulen. Orang yang tak melihat sepakbola sekadar menang-kalah.

Kemampuan Robert Rene Albert mengatasi krisis memang jempolan. Bila saja sejak awal kompetisi musim lalu, dia telah menukangi PSM, bisa jadi hasil akhirnya akan berbeda. Sayangnya, PSM diwariskan saat posisinya terbenam di zona degradasi.

Krisis lain bisa dilihat saat PSM menjamu Pusamania Borneo, beberapa waktu yang lalu. Saat Asnawi, Reva Adi, serta Ridwan Tawainella tak bisa tampil, praktis PSM krisis pemain U-23. Hebatnya, alumnus akademi sepakbola Ajax tersebut, berhasil menyulap Nurhidayat, pemain U-23 PSM yang baru pulang dari Timnas U-19, untuk bermain di posisi gelandang tengah. Padahal Nurhidayat merupakan pemain belakang. Lebih jauh lagi, pada pertandingan itu, Nurhidayat terpilih jadi man of the match. Saat krisis, Robert masih sempat-sempatnya melahirkan bintang baru.

Jika Fyodor Dostoyevsky yang kala krisis mampu membuat The Gambler untuk mengembalikan kekayaannya. Maka, Robert Rene Albert yang sejak awal musim dipaksa berjudi, akan mengembalikan kejayaan PSM Makassar.

oleh: Ibnu Shadra

***

foto: ligaolahraga.com

Catatan:

tulisan ini adalah kiriman seseorang yang mengaku bernama Ibnu Shadra. Awalnya, saya menolak untuk memuat di blog ini. Saya menyarankan ia membuat blog tapi ia tak mau. “Saya baru belajar menulis, belum pede punya blog” katanya. Ia memaksa saya menampilkan tulisannya di blog ini. Juga berjanji akan rajin menulis dan mengirimkannya ke saya. Jadilah, tulisan itu bisa teman-teman nikmati.

Related Posts

About The Author

Add Comment