Asumsi dan Pilpres

Siang tadi, dalam perjalanan pulang sewaktu menjemput si bungsu, seorang pengendara motor di belakang saya terus membunyikan klakson. Saya jadi kesal dibuatnya, ‘di jalan yang padat melambat enak saja ia meminta jalan’ begitu pikir saya. Saat kami bersisian, bapak pengendara motor bilang: “itu jaketmu jatuh, bahaya kalau masuk ke roda” sembari menunjuk jaket si bungsu yang menjuntai dekat roda. Si bungsu memang melepas jaket dan tak sadar kalau jaketnya jatuh. Kami bisa celaka andai saja jaket itu masuk ke roda. Untunglah ada bapak itu yang mengingatkan.

Ternyata saya berburuk-sangka pada bapak itu. Saya berasumsi bahwa ia sedang meminta jalan di tengah macetnya lalu lintas. Asumsi muncul karena persepsi saya bahwa orang-orang  yang membunyikan klakson adalah orang-orang yang tergesa dan kemudian meminta keistimewaan dengan diberi jalan. Perilaku ini yang saya temui setiap harinya di jalanan dan membawa saya pada asumsi dan buruk sangka pada bapak itu. 

Hari ini saya kembali belajar. Kejadian tadi secara tidak langsung mengingatkan saya kembali pada pesan Karl May, yang bunyinya kira-kira begini: segala kebencian (dan peperangan) berawal dari sebuah asumsi. Betapa berbahayanya sebuah keputusan yang berasal dari asumsi dan persepsi yang tidak kita pastikan kebenarannya. Berpikir jernih dan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi haruslah kita lakukan.

Cek dan ricek pun menjadi sebuah keharusan. Terlebih saat menjelang pilpres ini. Betapa banyak status, dan tautan berita di media sosial, tentang dua pasangan capres – cawapres. Sayangnya, lebih banyak yang saling menjelekkan. Jika kita tak pandai memilah dan menelaah status dan tautan berita itu, kita akan mudah terhasut dan turut menyebarkan kebohongan. Di era digital ini, informasi sangat mudah dibuat dan disebarkan melalui internet. Siapapun bisa memproduksi dan menyebarkan berita, gambar dan meme tanpa merasa harus mengikuti kaidah jurnalistik yang ketat.  

Jangan sampai kita ikut menyebarkan kebencian hanya karena capres pilihan kita. Berbeda itu biasa, jangan musuhan karena beda pilihan.

 

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.