ASSIKALAIBINENG, POLITIK SEKS LELAKI BUGIS

Baru-baru saja sebuah buku yang berjudul, Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis yang ditulis oleh kawan saya, Muhlis Hadrawi menyedot perhatian publik.

Buku ini memuat tentang tata cara berhubungan seks, mulai dari lakuan hingga doa-doa yang seharusnya dilafalkan. Buku tersebut mencuplik beberapa naskah lontaraq yang telah diketahui merekam kearifan lokal masyarakat Sulawesi-Selatan.

Naskah lontaraq yang dimuat dalam buku tersebut sebagai sebuah teks tentu terbuka untuk ditafsirkan, sehingga menghindari otoritas pemaknaan teks tersebut.

Demikian juga bahwa sebuah teks dalam dirinya tidaklah mengandung netralitas dan tentu memiliki kepentingan yang karenanya juga memuat sebuah ideologi tertentu. Tulisan ini hendak memperlihatkan ideologi apa yang bersemayan di balik teks assikalaibineng tersebut.

Seks dan Budaya Patriarki

Dalam hampir keseluruhan isi naskah memperlihatkan bagaimana pola relasi antara laki laki- dan perempuan dibangun. Laki-laki ditempatkan pada posisi yang superior sedangkan perempuan diletakkan pada posisi inferior.

Hal tersebut misalnya dapat kita lihat pada salah satu alinea di teks B “�.Mupakkitai mata atimmu ita al�mu A/Muita lapaleng Ba-I makkunraimmu��”, (Tatapkanlah mata hatimu, lihatlah dirimu Alif dan lihat huruf Ba istrimu).

Teks tersebut dalam pandangan penulis sangat subordinatif. Laki-laki menjadi yang pertama dan perempuan menjadi yang kedua. Bagi masyarakat yang memaknai secara harfiah tentu menjadikannya dasar legitimasi kekuasaan laki � laki terhadap perempuan laiknya sebuah kompetisi yang pertama tentu lebih unggul dibanding yang kedua.

Pada sepanjang naskah tidak ada sebuah konstruksi yang menempatkan perempuan menjadi Alif dan laki-laki menjadi Ba. Tentu hal tersebut bukan hal yang disengaja melainkan hal tersebut merupakan sebuah strategi teks untuk menempatkan relasi laki-laki dan perempuan.

Teks Assikalaibineng ini penulis lihat tidak sensitif gender karenanya sangat bias gender. Mitos superioritas laki-laki dibangun melalui teks-teks semacam ini.

Pandangan kaum strukturalis yang melihat bahwa posisi Alif dan Ba tidak harus dilihat dalam semangat kompetisi tetapi sebagai jalinan elemen yang membentuk sebuah struktur sehingga tidak ada yang lebih superior di antaranya tak dapat diterima. Kelemahan kaum strukturalis yang tidak melihat bahwa terdapat kekuasaan yang tidak tampak (metafisik) yang mengarahkan orang berpikir dikotomis.

Sebut saja tangan kanan dan tangan kiri memang secara substansi menjadi satu kesatuan fungsional yang tak dapat dipisahkan, namun ketika orang diharuskan memilih maka orang cenderung memilih tangan kanan karena kanan selalu berasosiasi dengan hal-hal yang positif sedangakan sebaliknya kiri biasanya berasosiasi dengan hal-hal yang negatif.

Baca Juga: Jika Lima Menit Terasa Kurang [ASSIKALAIBINENG]

Demikianlah analogi pemosisian laki-laki sebagai alif dan perempuan sebagai ba penulis lihat sebagai pandangan yang mensubordinasi perempuan dan menempatkannya ke dalam ruang yang inferior. Penulis mencurigai jalinan teks-teks semacam inilah yang mengonstruksi masyarakat Bugis-Makassar mensubordinasi perempuan dan menjadi dasar budaya patriarki dalam masyarakat kita.

Secara terstruktur, perempuan ditempatkan dalam posisi yang pasif dalam teks assikalaibineng ini. Hal tersebut dapat kita lihat bagaimana kuasa laki-laki makkarawa (menyentuh) sedangankan perempuan sebagai pihak yang ikarawa (disentuh), laki-laki yang mencium, membaringkan, meniup ubun-ubun dst, sedangkan perempuan sebagai pihak yang dicium, dibaringkan dan ditiup ubun-ubunnya. Laki-laki digambarkan sebagai pihak yang sangat aktif dalam berhubungan seks sementara perempuan sebagai pihak yang pasif.

Penggambaran semacam ini merupakan refleksi dari realitas masyarakat kita yang melihat perempuan sebagai objek dari kehendak laki-laki. Selain sebagai penggambaran realitas, pemahaman seperti tersebut mengonstruksi masyarakat untuk menerimanya sebagai sebuah kewajaran, alamiah sehingga tidak perlu dikritik dan dicurigai sebagai wacana penguasaan laki-laki terhadap perempuan.

Dikotomi aktif-pasif dalam penggambaran hubungan seksual laki-laki dan perempuan tersebut membawa implikasi lebih luas dalam ranah kehidupan yang lain. Pihak yang aktif tentulah berasosiasi kepada hal yang penuh semangat, kerja keras dan lain semacamnya sehingga laki-laki tampil menjadi perwira dalam pertarungan di ruang publik.

Sementara itu pihak yang pasif dalam hal ini perempuan berasosiasi dengan kelembutan, kesabaran dan lain semacamnya sehingga ditempatkanlah dalam ranah privat rumah tangga. Karena itu tidaklah mengherankan jika perempuan sedikit mengalami “kegagapan” jika harus bertarung diruang publik karena mereka telah terbiasa dengan konstruksi pihak yang pasif bahkan dalam berhubungan seks.

Karena itu tampaknya dimasa yang akan datang, mengaharapkan perempuan tampil setara dengan laki-laki pada sektor publik harusalh dimulai dengan mendemokratisasi kehidupan seks di rumah tangga sebagai ranah kontestasi terkecil.

Baca Juga: Istilah Seks Bugis

Seks dan Disiplin Tubuh

Dalam teks Assikalaibineng ini juga digambarkan beberapa tata aturan sebelum dan sesudah melakukan hubungan seks. Sebelum memulai disyaratkan untuk mengambil air wudu, lalu membaca doa, “laa tadrikul absara wahuwa yadrikuh laa absaru wahuwa lisainul habiir” sembilan kali lalu dilanjutkan membaca, “kulhuwallahu” tiga kali dan seterusnya.

Foucoult dalam bukunya The History of Sexuality berusaha membongkar apa yang disebut “hipotesis represif”. Salah satu yang disebut represif adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk melakukan kontrol atas tubuh dengan dalih disiplin.

Tata aturan berhubungan seks yang demikian runtut dalam teks assikalaibineng penulis lihat sebagai upaya pendisiplinan tubuh yang dilakukan oleh rezim-rezim pengklaim kebenaran. Upaya tersebut dilakukan untuk mengontrol masyarakat agar patuh terhadap kuasa. Siapa yang punya kuasa adalah yang punya pengetahuan.

Dalam konteks tersebut, mungkin para bangsawanlah yang memiliki kuasa karena merekalah yang memiliki pengetahuan tersebut atau juga para orang tua yang memiliki kuasa karena merekalah yang mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang hal tersebut.

Upaya mendisiplinkan tubuh dalam berhubungan seks merupakan sebuah cara dalam menggapai peradaban karena peradaban berarti displin dan disiplin pada gilirannya menyatakan kontrol atas inner drives. Kekuasaan yang mendisiplinkan tubuh tersebut menjelma menjadi kekuatan pengekang ( constraining force).

Dalam hal tersebut Foucoult melihat bahwa tidak seharusnya kekuasaan mengekang kesenangan, karena itu seksualitas tidak difahami semata-mata sebagai sebuah dorongan yang harus dikekang.

Yang terjadi haruslah sebaliknya dimana aktifitas seksual dilihat sebagai “ruang transfer yang penuh sesak bagi relasi-relasi kuasa, sehingga melalui energi besar yang dihasilkannya seksualitas dapat dijadikan sebagai fokus kontrol sosial.

Pendisiplinan tubuh dalam berhubungan seks berkaitan erat dengan mitos “kenikmatan”. Sesuatu yang dilakukan dengan sangat disiplin didorong oleh hasrat pencapaian kenikmatan yang boleh jadi kenikmaan tersebut hanyalah ilusi.

Roland Barthes melihat mitos sebagai perluasan makna denotasi dan melampaui konotasi. “Kenikmatan” yang secara denotatif dapat dicapai melalui praktik persetubuhan biasa berkembang maknanya dan cenderung menjadi ilusi ketika harus mengikuti tahapan-tahapan yang disyaratkan dalam teks assikalaibineng. Pada tahap inilah kemudian kenikmatan seksual tersebut menjadi mitos.

Mitos seks dalam assikalaibineng pada satu sisinya juga menafikan perkembangan seksualitas masyarakat modern. Perkembangan masyarakat modern yang menjadi heteroseksual, biseksual, lesbian dsb tidak mendapatkan tempat dalam kitab persetubuhan bugis ini.

Ini mungkin berarti bahwa realitas seksual selain yang dipaparkan dalam teks dianggap tidak wajar alias menyimpang. Pandangan tersebut lagi-lagi memosisikan diri sebagai pengklaim absolut realitas kebenaran, padahal secara jujur dewasa ini hadir juga realitas-realitas seksual lain yang suaranya sayup-sayup terdengar.

Pandangan posmodern menghendaki diakuinya realitas-realitas lain yang dianggap berbeda karena dasar pluralisme adalah penghormatan dan pengakuan terhadap sesuatu yang lain. Merayakan kemajemukan seksual harus kita lakukan dengan tidak mencoba mendominasi wacana seksual sebagai satu-staunya realitas yang absah.

Penggambaran hubungan seksual seperti yang dipaparkan dalam naskah assikalaibineng harus diterima dalam kerangka bukan sebuah realitas tunggal dan mutlak dan paling benar melainkan sebagai salah satu bagian dari realitas-realitas seksual lain yang kehadirannya saling menghargai.

Baca Juga: Mengukur Kejantanan dari Hembusan Nafas [Kamasutra Versi Bugis]

Demokrasi seksual

Anthoni Giddens dalam bukunya Transformation of intimacy mencatat adanya perubahan sikap perempuan dalam kehidupan seksual mereka. Perempuan dewasa ini telah mengalami banyak penyadaran tentang perlunya kesetaraan dalam hubungan seksual.

Kasus kekerasan seksual dalam rumah tangga yang muncul dimana korbannya kebanyakan perempuan menjadi isyarat bahwa perempuan mulai berani untuk membuka ruang privat mereka yang semula dianggap tabu.

Demokratisasi ruang privat sekarang menjadi imperatif bagi masyarakat untuk menghasilkan kesetaraan di ruang publik. Dalam konteks seksual, demokratisasi dimaksudkan untuk menciptakan keadaan dimana orang dapat mengembangkan potensi dan mengekspresikan hasrat mereka.

Jadi jika pada teks assikalaibineng peremepuan cenderung menjadi obyek karena pasif, perempuan menjadi objek yang diraba, dicium dibaringkan dst bisa juga dibalik agar ada suasana seksual yang juga memberikan kesempatan kepada perempuan untuk memegang, meraba, mencium pasangannya tanpa ada stigma tak beretika dan semacamnya.

Untuk mewujudkan demokratisasi dalam kehidupan seksual, pasangan harus saling berdialog agar saling memahami keinginan. Ilusi kenikmatan seksual yang seharusnya dicapai dalam hubungan seksual harus digeser paradigmanya menjadi penerimaan keadaan pasangan apa adanya. Hubungan yang tulus, komitmen menjadi kata kunci untuk memulai saling terima antar pasangan.

Oleh karena itu, hubungan seksual terjadi antar pasangan terjalin berdasarkan konteks pasangan tersebut. Kenikmatan seksual terjadi jika terjadinya situasi kesalingterimaan antar pasangan, tidak ada yang mendominasi dan tidak ada yang lebih di antara pasangan. Dengan dasar itulah relasi laki-laki dan perempuan dapat terbangun dengan setara.

Oleh :Wahyuddin (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas)

sumber http://www. fajar.co.id/index.php?act=news&id=56733

Related Posts

About The Author

Add Comment