Apparalang: Si Cantik Yang Jerawatan

Rumusan hidup itu tak rumit, kenyataan yang tak serupa dengan harapan itu akan menghasilkan kekecewaan. Seperti saat kamu menjumpai seorang gadis cantik tanpa cacat dalam media sosial namun ternyata wajahnya penuh jerawat saat bertemu langsung. Pun, dengan Apparalang

Seperti itulah yang saya rasa sesaat setelah melihat jajaran mobil dan motor yang terparkir di area hutan yang baru saja dibuka. Saya menaksir ada puluhan mobil dan ratusan motor di area parkiran itu. Tak jauh berjalan dari area parkir, saya bertemu seorang teman. “Sangat susah cari spot untuk sekadar berfoto kak, terlalu banyak orang” katanya.

Apparalang adalah sebuah tebing dengan pemandangan menakjubkan, tak kalah oleh tebing – tebing Raja Ampat. Biru laut berpadu dengan keteduhan bak telaga, menjanjikan pemandangan memukau bagi orang – orang yang mencari ketenangan.

antrian kendaraan di 'pintu masuk' Apparalang

antrian kendaraan di ‘pintu masuk’ Apparalang

Apparalang, baru 2 (dua) bulan lalu nama ini wara – wiri di media sosial. Saya pertama kali melihat foto tentangnya adalah di grup Facebook Makassar Backpacker, sebuah komunitas pejalan. Setelah itu, foto – foto keindahan Apparalang kemudian tersebar di hampir semua media sosial yang saya ikuti, utamanya Instagram dan Twitter.

Sejatinya, kawasan wisata yang berjarak 60 km dari ibukota Bulukumba atau 20 menit dari Tanjung Bira ini baru dibuka pada awal tahun 2015. Adalah H. Amiruddin, anggota DPRD Bulukumba yang membuka kawasan ini menjadi destinasi wisata. H. Amiruddin adalah anggota dewan yang berasal dari Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, lokasi Apparalang berada.

Kawasan wisata ini baru ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik lokal mau pun mancanegara, tak lebih dari sebulan lalu atau awal Maret 2015. Saat itu, Ibu Murni, seorang ibu penjual makanan dan minuman ringan bisa memperoleh pemasukan paling tidak 500rb perhari. “Dulu, hanya ada 10 penjual jadi bisa dapat banyak” ungkapnya. Sekarang, sudah ada 50an penjual dan pendapatan Ibu Murni pun menurun menjadi 200 – 300ribuan perhari.

Ibu Murni dan 2 anaknya. Ibu Murni adalah 1 dari 50an warga Desa Ara yang berjualan di Apparalang

Ibu Murni dan 2 anaknya. Ibu Murni adalah 1 dari 50an warga Desa Ara yang berjualan di Apparalang

Ibu Murni yang ditemani 2 (dua) anaknya berjualan ini mengaku tak mengeluarkan biaya untuk berjualan di Apparalang. “Pak Haji Amiruddin tak memungut bayaran pada penjual. Ndak tahu nanti” ungkap Ibu yang juga warga Desa Ara. Hampir semua penjual di Apparalang ini adalah warga Desa Apparalang, desa yang sama dengan H. Amiruddin berasal.

Tak ada angka yang pasti berapa pengunjung perhari, tapi sebagai gambaran, pada akhir pekan pemasukan untuk wc berkisar 800 ribu hingga 1 juta rupiah. “Dua minggu lalu, pemasukan wc mencapai 2 juta pada hari Sabtu – Minggu” ungkap Sultan, penjaga wc. Sultan mengaku memeroleh 30% dari pemasukan itu, sementara 70% ia serahkan pada H. Kapo, pemilik wc.

Jika biaya sekali menggunakan wc adalah 2000 rupiah per orang, berarti ada sekira 400 orang yang menggunakan wc di akhir pekan. Artinya apa? Paling tidak ada 400 orang yang mengunjungi Apparalang pada akhir pekan. Itu angka minimal mengingat tak semua pengunjung menggunakan wc. Angka itu bisa menjadi 2 (dua) kali lipat jika kita beranggapan bahwa hanya 1 dari 2 pengunjung yang menggunakan wc. Angka itu bisa berlipat – lipat jika angka perbandingan semakin besar. Cukup kalikan 400 orang dengan angka pembandingnya.

Parkiran Motor Apparalang

Parkiran Motor Apparalang

Gambaran lain betapa Apparalang ini sangat ramai dikunjungi adalah jumlah kendaraan yang datang. Di hari kerja, ratusan motor dan puluhan mobil memadati parkiran yang hanya berupa tanah lapang. “Hari biasa, ada 10 – 20an mobil dan ratusan motor. Kalau akhir pekan, paling sedikit 60an mobil dan ribuan pengunjung” ungkap Mulyadi, lelaki yang dipercaya oleh H. Amiruddin untuk mengelola Apparalang.

Kawasan wisata Apparalang ini belum mendapat sentuhan dari pemerintah. Untuk perbaikan infrastruktur, seperti jalanan untuk memudahkan akses pengunjung, biayanya diambil dari ‘uang masuk’ pengunjung. “Untuk mobil, terserah bapak mau bayar berapa, 20rb atau 30rb. Ini untuk biaya perbaikan jalan,” kata Mulyadi saat kami memasuki kawasan Appalarang.

Petunjuk arah seadanya di Desa Ara menuju Apparalang

Petunjuk arah seadanya di Desa Ara menuju Apparalang

Akses menuju Appalarang memang belumlah mulus. Selepas dari Desa Ara, berdasarkan petunjuk sederhana berjarak 2 (dua) km, jalan yang dilalui belum ada yang beraspal. Sebagian besar masih berupa jalan tanah dan beberapa bagian sudah dibeton. Di beberapa bagian, pengunjung harus melalui jalan setapak yang hanya bisa untuk 1 (satu) mobil. Beberapa kali mobil yang saya tumpangi harus mundur dan menepi agar mobil dari arah lain bisa lewat. Untuk mencapainya, pengunjung harus menggunakan kendaraan pribadi sebab belum ada angkutan umum.

Jalan setapak menuju Apparalang dari Desa Ara

Jalan setapak menuju Apparalang

Sungguh, Apparalang adalah sebuah destinasi yang menjanjikan pemandangan memukau dan menenangkan hati. Dengan catatan, datanglah ke sana pada hari biasa. Pada akhir pekan, segala ketenangan itu hilang dan menjelma menjadi lautan tongsis. Apparalang serupa gadis cantik yang wajahnya dipenuhi jerawat.

Baca Juga: Menziarahi Makam Datuk Di Tiro Bulukumba, Penyebar Islam di Tanah Sulawesi

Catatan: dalam perjalanan ini saya mengunjungi beberapa spot wisata di Kecamatan Bontohari, Bulukumba. Termasuk satu spot yang belum diketahui banyak orang. Tulisan tentang spot – spot wisata itu akan menyusul.

Related Posts

About The Author

6 Comments

Add Comment