Aparat Berjoget, Salahkah?

Dua hari terakhir di timeline twitter saya beredar gambar sekumpulan anggota Polisi Wanita (Polwan) dan Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) sedang berjoget di bawah Flyover Makassar. Tak hanya satu gambar, ada beberapa gambar dengan sudut pengambilan yang berbeda. Mereka berjoget ketika beberapa kelompok mahasiswa berdemonstrasi di Hari Anti Korupsi. Berbagai reaksi bermunculan atas gambar itu. Lebih banyak tanggapan negatif.

Aparat Berjoget, Salahkah

Lalu salahkah ketika aparat-aparat itu berjoget? Sangat salah! Saat teman-teman rela kami meninggalkan bangku kuliah demi menuntut para koruptor di negeri ini dihukum seberat-beratnya, mereka para aparat malah berjoget? Sinting! Dimana otak mereka? Kami yang sudah bersiap menghadapi mereka dengan segala resikonya, eh mereka malah berjoget. Jawaban itu akan muncul jika pertanyaan di atas diajukan pada saya beberapa tahun lalu saat masih berstatus mahasiswa, yang kadang turun ke jalan.

Jawaban berbeda akan saya kemukakan jika pertanyaan itu diajukan pada saya sekarang. Apa yang salah jika aparat itu berjoget? Apakah saat berjoget mereka mengolok-olok demonstran? Saya kira tidak. Tak ada gambar yang menunjukkan itu. Gambar-gambar yang diunggah netizen hanya menunjukkan perempuan-perempuan manis yang tersenyum saat berjoget.

Saya mencoba melihatnya dan memahaminya dari sudut pandang lain. Aparat-aparat itu juga manusia. Mereka juga memiliki masalah yang mungkin sama dengan masalah yang kita hadapi sehari-hari. Perempuan-perempuan itu juga tentu memikirkan bagaimana membeli kebutuhan sehari-hari, alat make-up dan kecantikan misalnya. Bagi yang masih lajang, bisa saja mereka sedang cemburu pada pacarnya yang ia curigai selingkuh atau masalah asmara lainnya.

Sebagian di antara mereka mungkin sudah berkeluarga dan punya banyak masalah dalam keluarga. Bisa jadi pikiran mereka sedang kacau memikirkan bagaimana mengatur keuangan keluarga di tengah naiknya beberapa harga kebutuhan hidup akibat kenaikan bahan bakar minyak. Mungkin juga di antara mereka ada yang pusing bagaimana menutupi biaya sekolah anak-anak mereka di tengah tingginya beban hidup yang mereka alami.

Tak menutup kemungkinan di antara mereka ada yang sedang stress menghadapi tekanan masalah pribadi atau keluarga. Dengan kondisi demikian mereka kemudian harus menghadapi demonstran yang terkadang provokatif memancing emosi. Saat stress, emosi seseorang gampang terpancing. Jika emosi kedua pihak, aparat dan demonstran terpancing, kita bisa menebak arah akhir aksi demonstrasi. Bentrok yang tidak jarang mengakibatkan korban luka hingga tewas.

Masih segar dalam ingatan bagaimana brutalnya aparat saat memasuki kampus Universitas Negeri Makassar dan memukuli jurnalis yang sedang bertugas. Juga bagaimana bentrok di kampus Universitas Muslim Indonesia yang mengakibatkan meninggalnya Muhammad Arif, seorang warga yang berada di pihak mahasiswa saat demonstrasi berlangsung.

Dua kejadian di atas adalah bukti bagaimana tidak profesionalnya aparat dalam menghadapi demonstran. Mereka yang seharusnya mengayomi malah bertindak sebaliknya. Salah satu penyebabnya bisa jadi karena mereka tidak memiliki kecerdasan emosional yang bagus. Mereka tidak mampu mengolah emosi sehingga mengedepankan kekerasan dalam menangani demonstran. Salah? Tentu saja iya. Tapi beban kesalahan itu harus dibebankan pada pimpinan mereka. Mereka hanyalah operator lapangan yang melaksanakan perintah atasan.

Aparat kepolisian dan TNI haruslah punya bekal kemampuan mengelola emosi yang baik sehingga mampu menangani demonstran secara persuasif. Jika semua personil kepolisian dan TNI memiliki kemampuan ini, kita tak perlu khawatir lagi akan ada korban saat aksi-aksi demonstrasi berlangsung. Orang tua di rumah tak perlu lagi cemas memikirkan anaknya yang turun ke jalan meneriakkan tuntutan mereka.

Pimpinan Polwan dan Kowad yang bertugas mengawal aksi demonstrasi Hari Anti Korupsi tanggal 9 Desember kemarin mungkin sudah belajar dari pengalaman demonstrasi-demonstrasi yang berujung ricuh beberapa saat lalu. Anak buah mereka, Polwan dan Kowad itu, biar bagaimana pun adalah manusia yang punya perasaan dan emosi.

Menghadapi demonstrasi tentu bukanlah hal mudah dan menyenangkan bagi mereka. Emosi mereka perlu dikelola dengan baik. Berjoget, mungkin salah satu cara mereka untuk melepaskan penat dan stress yang mereka alami karena berbagai persoalan di luar tugas mereka. Seusai berjoget, perasaan mereka tentu lebih lega dan bisa mengelola emosi dengan baik dan tak mudah terpancing saat berhadapan dengan demonstran. Kita tentu akan mengutuk aparat jika tak mampu mengontrol emosi dan kemudian berlaku anarkistis pada mahasiswa dan demonstran.

Jika alasan ini yang mendasari para aparat itu berjoget, tentu bukan hal yang salah bukan?

Related Posts

About The Author

4 Comments

Add Comment