5 Sebab Kita Mudah Percaya Hoax

Kita sedang berada dalam era di mana informasi datang bagai air bah. Parahnya lagi, sebagian besar, media tak lagi mementingkan akurasi berita. Jika tak jeli, kita akan mudah percaya hoax.

Di antara terjangan arus informasi dan berita yang begitu deras, kita terjebak di dalamnya. Padahal, belum tentu semua berita itu sesuai fakta atau memenuhi kaidah-kaidah pemberitaan. Jika tak bijak menyikapinya kita akan dengan mudahnya menelan mentah-mentah informasi yang datang dan dengan begitu saja mudah percaya hoax alias berita palsu.

 

Berikut ini ada 5 Sebab Kita Mudah Percaya Hoax

  1. Ketertarikan

Secara psikologis, kita akan membuka atau membaca apa yang kita suka dan mengabaikan hal sebaliknya. Kita cenderung melakukan selective attention atau perhatian selektif yaitu memilah dan memilih salah satu sumber informasi yang kita rasa paling penting atau dekat dengan kita dan mengabaikan yang lainnya. Faktor-faktor yang memengaruhi perhatian selektif adalah harapan, stimulus, dan nilai-nilai yang kita percayai.

Ambil contoh begini; kita pendukung Ahok atau sebaliknya. Kalau kita pendukung Ahok maka kita cenderung membaca berita-berita yang memuji kinerja Ahok dan mengabaikan serta tak mau membaca berita-berita berisi kritikan atau hal-hal negatif tentang dia. Pun sebaliknya jika kita pembenci Ahok. Kita hanya akan percaya dan mau membaca berita-berita tentang keburukan Ahok dan menutup mata bahwa gubernur DKI Jakarta yang lagi cuti itu juga punya prestasi atau hal positif. Kita lupa kalau dia juga manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan.

  1. Algoritma Google dan Facebook

Ada yang pernah membuka toko daring (online shop) untuk mencari sesuatu? Katakanlah tas, lalu ketika membuka membuka facebook atau situs berita dan gambar tas dalam toko daring tersebut muncul di bilik iklan Facebook atau situs yang kita buka. Itu kerjaan Om Google dan tim-nya Mark. Algoritma Google dan Facebook selalu memunculkan apa yang sering kita buka atau baca. Jadi tak perlu heran jika tas (atau barang yang kita cari di toko daring) akan terus menghantui dan mendorong kita untuk membelinya.

Begitu pun dalam hal berita dan informasi. Algoritma Google dan Facebook akan menggiring kita untuk membuka dan membaca berita yang kita ‘inginkan’. Google dan Facebook membaca kecenderungan berita apa yang sering kita buka lalu menyajikan berita atau informasi sejenis ketika menggunakan mesin pencari mereka.

Kembali ke contoh soal Ahok tadi, jika kita pendukung Ahok dan cenderung membuka dan membaca berita hal-hal baik saja tentangnya. Sebaliknya, kita akan mencari berita yang menunjukkan kejelekan Ahok karena kita adalah pembencinya.

  1. Bias Konfirmasi (Confirmation Bias)

Hal ini mendorong terjadinya bias konfirmasi atau bias confirmation yaitu kecenderungan seseorang untuk mencari bukti-bukti yang mendukung pendapat atau kepercayaannya serta mengabaikan bukti-bukti yang menyatakan sebaliknya.

Lebih jauh lagi, bias konfirmasi (dan perhatian selektif) ini membuat kita hanya mau membaca apa yang kita percayai dan kita dukung. Belum lagi algoritma Google dan Facebook yang saya bilang tadi, hanya akan memunculkan berita atau informasi senada yang biasa kita buka dan baca.

Bias konfirmasi dan perhatian selektif ini kemudian menjadikan berita-berita yang kita santap menjadi tak berimbang. Hanya melihat satu sisi atau sudut pandang tertentu saja.

  1. Akses Informasi Yang Terbatas

Informasi yang hanya satu sisi atau dari satu pihak saja membuat kita mudah percaya hoax karena kita tak lagi merasa perlu melakukan tabayyun atau klarifikasi. Seseorang bisa jadi memercayai berita yang mengandung fitnah dan kebencian atau berita hoax bukan karena orang itu mudah dibohongi tapi lebih pada keterbatasan informasi yang sampai padanya.

5 Sebab Kita Mudah Percaya Hoax - lelakibugis

5 Sebab Kita Mudah Percaya Hoax

  1. Tingkat Popularitas Informasi

Informasi tak berimbang yang datang terus menerus dari banyak orang, -yang sekeyakinan dengan kita, bisa membuat kita jadi menganggap informasi itu benar adanya. Semakin banyak yang menyebarkan sebuah informasi atau berita maka semakin mudah kita percaya bahwa berita itu adalah sebuah kebenaran dan membuat kita menutup mata pada klarifikasi pada berita tersebut. Kita jadi mudah percaya hoax padahal bikinan pengejar rupiah dari klik dan share kita pada beritanya.

 

Dampaknya Apa?

Berita-berita dan informasi yang tak berimbang dan kemungkinan sebagian besar adalah hoax itu akan mendorong kita ke titik ekstrem. Jadi jangan heran kalau ada yang mendukung Ahok secara berlebihan atau sebaliknya, membenci Ahok dengan membabi-buta. Kita akhirnya sibuk saling menyalahkan dan menyerang satu sama lain bahkan kepada saudara atau teman sendiri yang berbeda pendapat. Tanpa kita sadari perpecahan ada di depan mata. Pada akhirnya, kita akan kehilangan saudara dan teman hanya karena beda pendapat.

Sementara itu para penyebar hoax tertawa melihat saldonya terus bertambah. Septiaji Eko Nugroho dari Komunitas Masyarakat Anti Fitnah menyebutkan bahwa para penyebar hoax ini bisa meraup uang sebesar 600 juta hingga 700 juta dari Google Adsense. Itu karena masih banyak di antara kita yang mudah percaya hoax yang mereka sebarkan.

So? Pintar-pintarlah dalam menerima dan membagikan berita atau informasi. Jangan mau ditipu pakai hoax 😀

Related Posts

About The Author

Add Comment