5 Perempuan Hebat Bugis – Makassar

 

  1. Opu Daeng Risadju

Opu Daeng Risadju adalah pejuang wanita asal Sulawesi Selatan yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. Nama Opu Daeng Risaju ketika kecil adalah Famajjah. Ia dilahirkan di Palopo pada tahun 1880, dari hasil perkawinan antara Opu Daeng Mawellu dengan Muhammad Abdullah to Barengseng. Nama Opu Daeng Risaju merupakan symbol kebangsawanan kerajaan Luwu.

Opu Daeng Risadju, salah satu perempuan hebat Bugis - Makassar (foto: pahlawancenter.com)

Opu Daeng Risadju, salah satu perempuan hebat Bugis – Makassar (foto: pahlawancenter.com)

Opu Daeng Risadju yang merupakan pelopor partai Sarikat Islam yang menentang kolonialisme Belanda. Dia terkenal dengan kalimatnya bahwa “Kalau hanya karena adanya darah bangsawan mengalir dalam tubuhku sehingga saya harus meninggalkan partaiku dan berhenti melakukan gerakanku, irislah dadaku dan keluarkanlah darah bangsawan itu dari dalam tubuhku, supaya datu dan hadat tidak terhina kalau saya diperlakukan tidak sepantasnya.”

Pada tahun 1927, Opu Daeng Risadju memulai karir organisasi politik dengan menjadi anggota Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) cabang Pare-Pare. Opu kemudian terpilih sebagai ketua PSII Wilayah Tanah Luwu Daerah Palopo pada tanggal 14 Januari 1930. Dalam masa kepemimpinannya di PSII, Opu berjuang dengan agama sebagai landasannya.

Dukungan dari rakyat yang sangat besar pada Opu Daeng Risadju membuat pihak Belanda mulai menahan Opu agar tidak melanjutkan perjuangannya di PSII. Pihak Belanda menganggap Opu menghasut rakyat dan melakukan tindakan provolatif agar rakyat tidak lagi percaya kepada pemerintah. Akhirnya, Opu diadili dan dicabut gelar kebangsawanannya. Tidak hanya itu, tekanan juga diberikan kepada suami dan pihak keluarga Opu agar menghentikan kegiatannya di PSII. Setelah berbagai ancaman dari pihak Belanda untuk Opu agar ia menghentikan kegiatan di PSII, Opu akhirnya dipenjara selama 14 bulan pada tahun 1934.

Opu kembali aktif pada masa Revolusi. Opu dan pemuda Sulawesi Selatan berjuang melawan NICA yang kembali ingin menjajah Indonesia. Karena keberaniannya dalam melawan NICA, Opu menjadi buronan nomor satu selama NICA di Sulawesi Selatan. Akhirnya Opu pun tertangkap di Lantoro sehingga ia dibawa ke Watampone dengan berjalan 40 km. Akibat penyiksaan dari Belanda dan Ketua Ditrik Bajo saat itu, ia menjadi tuli dan dijadikan tahanan luar. Opu wafat pada tanggal 10 Februari 1964. Ia dimakamkan di pekuburan raja-raja Lokkoe di Palopo.

 

  1. Emmy Saelan

Emmy Saelan dilahirkan di Makassar pada 15 oktober 1924, sebagai putri sulung dari tujuh bersaudara. Salah seorang adiknya, Maulwi Saelan, adalah tokoh pejuang dan pernah menjadi pengawal setia Bung Karno. Emmy Saelan adalah salah satu perempuan hebat Bugis – Makassar dan pejuang wanita Indonesia. Meskipun ia anggota palang merah, tetapi ia selalu berpakaian ala laki-laki dan memilih bertempur di garis depan.

Pada tanggal 5 April 1946, Gubernur Sam Ratulangi, bersama dengan pembantu-pembantunya ditangkap oleh Belanda. Dr. Sam Ratulangi adalah pejabat Gubernur yang ditunjuk Bung Karno untuk provinsi Sulawesi. Berita penangkapan Ratulangi mendapat protes. Salah satunya adalah perawat-perawat putri di Rumah Sakit Katolik ‘Stella Maris’. Mereka melakukan pemogokan umum untuk memprotes penangkapan tersebut. Salah satu tokoh penggerak aksi pemogokan ini adalah Emmy Saelan.

Emmy Saelan gugur pada sebuah tanggal 23 Januari 1947, saat memimpin sekitar 40 orang pasukan bertempur dengan Belanda. Pertempuran terjadi dalam jarak yang sangat dekat. Seluruh anak buah Emmy gugur dalam pertempuran itu. Tinggal Emmy sendirian. Pasukan Belanda mendekat dan memerintahkan Emmy menyerah tetapi ia menolak dan terus melawan. Senjata yang dia miliki tinggal granat, maka dilemparkanlah granat itu ke pasukan Belanda. Pasukan Belanda pun bergelimpangan, tetapi Emmy turut gugur dalam pertempuran jarak dekat itu.

 

  1. Andi Siti Nurhani Sapada

Andi Siti Nurhani Sapada lahir di Parepare, Sulawesi Selatan 25 Juni 1929. Dia termasuk wanita keturunan bangsawan. Ayahnya, Andi Makasau Parenregi Lawalo, adalah bangsawan Bugis bergelar Datu Suppa Toa. Ibunya, Rachmatiah Daeng Baji adalah bangsawan Makassar, putri dari Karaeng Sonda, Raja Bontonompo.

Tahun 1962, salah satu perempuan hebat Bugis – Makassar ini mendirikan Institut Kesenian Sulawesi (IKS) untuk menawarkan pendidikan seni kepada putra-putri Indonesia agar lebih mengenal seni tari empat kelompok etnis di Sulawesi Selatan (Makassar, Bugis, Toraja, Mandar) serta mengatur dan menggelar beragam pertunjukan, khususnya tari dan musik daerah.

Melalui lembaga ini pula, Nani mencipta dan menggali tari-tari tradisional. Banyak tari yang semula sudah terkubur, lantaran bubarnya kerajaan-kerajaan, digali dan digubah sampai menjadi tari yang berestetika tinggi. Belasan tari tradisional Sulawesi Selatan yang sarat makna, lahir dari kerja keras dan permenungannya yang dalam.

 

Selamat Hari Ibu, Perempuan – Perempuan hebat di mana pun kalian berada.

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment