5 Alasan Makassar Menolak Reklamasi Losari

Alasan Menolak Reklamasi – Pantai Losari Makassar pernah mendapat gelar sebagai restoran terpanjang di dunia.

Tidak tanggung – tanggung panjangnya hampir mencapai 2 (dua kilometer). Membentang sepanjang Jl. Penghibur, dari depan rumah jabatan walikota Makassar sampai pada Kafe Pier 52. Terhitung ratusan kafe gerobak berjejer di sana. Ada yang menjajakan makanan semisal nasi dan mie goreng, ada pula yang menyajikan minuman kopi dan aneka jus buah. Tentu ada pula penjual Pisang Epe’ yang identik dengan Losari.  Pada masa itu, tahun 1980 – 90an, Losari adalah pilihan utama warga Ujung Pandang (nama lama Makassar) untuk menikmati suasana sore hingga malam hari.

Memasuki dekade 2000an, atas nama pembangunan Anjungan Losari, ratusan gerobak penjaja makanan itu tersingkir. Mereka dikumpulkan di kawasan Laguna, samping kiri jalan masuk Tanjung Metro sekarang. Kawasan Laguna ini dulunya dikenal Taman Gajah karena di taman itu terdapat sebuah patung gajah, selain wahana bermain lainnya. Warga Makassar yang besar di tahun 80an pasti sangat akrab dengan Taman Gajah ini. Tahun 2000an Taman Gajah tersingkir, tergantikan oleh ratusan kafe yang juga tersingkir karena Anjungan Losari.

Kini, lautan depan Anjungan Losari itu sedang ditimbuni untuk sebuah proyek megah bernama Center Point of Indonesia (CPI). Proyek megah itu sedang menimbun lautan dan nantinya akan menanam bangunan – bangunan mewah. Menjadi penghalang pandang pada salah satu senja terindah yang ada di dunia.

Proyek CPI adalah sebuah upaya pembangunan yang mengabaikan, bahkan merenggut banyak hak warga Makassar dan Sulsel. Untuk itu, perlu upaya untuk melakukan penolakan. Setidaknya, ada 5 (lima) alasan kenapa warga Makassar harus menolak reklamasi Losari.

Losari Kini Losari Nanti

  1. Senja Losari Tak Lagi Gratis

Senja Losari adalah salah satu senja terindah yang ada di dunia. Pengakuan ini berasal dari banyak orang yang pernah menyaksikannya langsung. Keindahan senja Losari itu masih bisa kita nikmati sekarang di Anjungan Losari. Tapi, itu sekarang. Tak lama lagi kita tak bisa menikmatinya secara gratis. Beberapa tahun ke depan, jika kita tak menolak reklamasi, semburat jingga keemasan bola matahari yang terbenam itu akan terhalang oleh deretan gedung – gedung bertingkat.

Berapa banyak anak muda Makassar yang pernah ‘menembak’ gebetan di depan senja Losari? Berapa banyak pasangan muda – mudi yang menikmati masa – masa kasmaran dan pacaran berteman semilir anging mammiri di salah satu ikon  Kota Daeng itu?

Beberapa tahun ke depan ketika bangunan – bangunan mewah berdiri mau tak mau anak – anak muda Makassar harus mencari tempat lain untuk menikmati suasana matahari tenggelam. Pun, orang – orang yang ingin menemui kembali kenangan mereka tak akan lagi memiliki tempat kembali.

  1. Reklamasi Merampas Hak Hidup Rakyat Kecil

Setidaknya, saat ini ada beberapa proyek reklamasi yang sedang berlangsung di Indonesia. Selain reklamasi Losari, sebut saja misalnya reklamasi Tanjung Banoa dan Teluk Jakarta yang menuai penolakan. Di luar itu, ada banyak proyek reklamasi yang sedang berlangsung tanpa mendapat sorotan media padahal memiliki dampak buruk bagi masyarakat, khususnya nelayan sekitar lokasi reklamasi.

Berdasarkan data Aliansi Selamatkan Pesisir (ASP), yang mengutip dari Pusat Data dan Informasi Kiara (Juni 2013), reklamasi Makassar menyebabkan 4690 jiwa nelayan harus tergusur. Untuk reklamasi di kota lain silakan liat gambar.

seberapa besar reklamasi menggusur nelayan

Mereka tidak hanya tercerabut dari tempat tinggal mereka tapi juga harus kehilangan mata pencaharian. Edy  Kurniawan dari ASP menyebutkan dulunya para nelayan itu menghasilkan 300 rb – 1.8 juta per bulan. Kini, anak – anak mereka pun harus putus sekolah karena ketiadaan biaya. Penghasilan para nelayan berkurang drastis, bahkan hilang sama sekali. Bayangkan bagaimana nasib generasi nelayan ke depan jika mereka kehilangan mata pencaharian.

Penggusuran nelayan di pesisir Makassar ini tentu juga akan berpengaruh pada warga Makassar. Jumlah nelayan akan semakin berkurang. Nelayan yang tersisa akan semakin jauh mencari ikan. Tentu akan menyebabkan harga ikan menjadi mahal dari sebelumnya.

  1. CPI Hanya Untuk Orang – Orang Berduit.

Proyek CPI atau Citra Land City The Waterfront CBD Losari – Makassar versi Ciputra, tentu bukan untuk semua warga Makassar. Hanya orang – orang berduit alias kaum menengah ke atas lah yang mampu memiliki akses ke kawasan seluas 157 ha itu.

Meski belum terbangun, tim – tim sales marketing mulai bergerilya menawarkan properti CPI. Ada yang dengan cara mengirimkan penawaran melalui email, ada pula yang bahkan memajangnya di salah satu toko daring (online shop). Harga dalam penawaran itu menyebutkan, untuk bangunan rumah toko (ruko), paling murah sebesar 3 miliar rupiah. Harga yang tentu saja tak terjangkau untuk para nelayan yang tergusur. Jangankan membeli, membayangkan memiliki properti senilai itu mungkin tak pernah terlintas di kepala mereka.

Dengan harga properti sebesar itu, bisa dibayangkan dari kalangan mana yang nantinya yang akan berada di kawasan itu. Keberadaan orang – orang berbaju lusuh dan bersandal jepit tentu akan mengganggu kenyamanan para pemilik properti.  Kaum – kaum berdasi dan bertubuh wangi penghuni kawasan itu mungkin akan mengirimkan pandangan dan tatapan tak bersahabat pada mereka yang tak seharusnya berada di sana.

  1. Makassar Rawan Banjir dan Kerusakan Lingkungan.

Hujan yang turun satu – dua jam saja sudah membawa genangan air, kalau tak mau menyebut kata banjir. Nah, reklamasi ini akan membuat daerah resapan di pesisir Makassar akan semakin berkuang. Bahaya banjir tentu akan menunggu di depan mata.

Penimbunan pesisir juga akan merusak terumbu karang dan lamun, tak hanya di sekitar lokasi penimbunan tapi juga hingga ke pulau – pulau lain di kawasan Spermonde. Tentu ini akan membawa dampak yang sangat besar pada kerusakan lingkungan.

Penimbunan untuk reklamasi itu tentu saja membutuhkan banyak tanah galian. Bisa dibayangkan bagaimana kerusakan lingkungan pada wilayah tempat pengambilan tanah timbunan itu di Gowa dan Takalar. Kerusakan lingkungan lainnya karena reklamasi tampak pada gambar di bawah.

Kenapa Kita Harus Menolak Reklamasi? Ini Dampak Buruk Reklamasi Makassar

Kenapa Kita Harus Menolak Reklamasi? Ini Dampak Buruk Reklamasi Makassar

  1. Reklamasi Melanggar Hak Publik

Menurut Mahkamah Konstitusi, wilayah pesisir adalah wilayah publik yang tidak dapat dimiliki secara pribadi apalagi diperjualbelikan. Wilayah publik haruslah digunakan untuk kepentingan orang banyak.

Menikmati matahari terbenam secara gratis adalah salah satu hak publik yang terampas oleh proyek reklamasi Makassar. Keindahan matahari yang pulang ke peraduan itu nantinya hanya akan bisa dinikmati segelintir orang dari balik jendela bangunan – bangunan dengan harga miliaran. Itu salah satu alasan untuk menolak reklamasi Makassar.

Anak – anak muda yang hanya bermodalkan sandal jepit tentu tak bisa lagi mengajak gebetan mereka ke sana. Menyatakan cinta tak lagi gratis..

Punya gebetan dan belum menyatakan cinta? Sebisa mungkin ajaklah dia ke Losari sebelum proyek CPI berdiri. Atau, bergabunglah dengan Aliansi Selamatkan Pesisir untuk Makassar Menolak Reklamasi. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik Facebook Makassar Tolak Reklamasi.

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment