Monthly Archives: June 2012

di Talung, Bawakaraeng, sesaat sebelum turun ke Lembah Ramma'

Berjalanlah, Kenali Dan Cintai Indonesia

Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya.
Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan
dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.
[Soe Hok Gie]

 

Pertengahan Juni lalu, seorang sahabat menelpon saya. Senang juga rasanya mendapat telpon darinya. Sudah lama komunikasi kami terputus karena kesibukan masing-masing. Kini dia mencari hidup di ibukota, sedang saya bekerja di Kecamatan Kajang, Kab. Bulukumba, salah satu daerah terpencil di kaki Pulau Sulawesi.
Sahabat tersebut menelpon untuk mengajak saya naik gunung lagi. Tanpa berpikir panjang, saya langsung mengiyakan ajakan kawan itu. Setahun terakhir, saya lebih banyak mengunjungi pulau-pulau cantik nan eksotis di sekitar Sulawesi. Melalui laman web-nya, pada 08 Februari 2012 National Geographic merilis ada 13.466 pulau di Indonesia. Bukan 17.508 pulau sebagaimana selama ini menjadi acuan berbagai pihak di dalam dan luar negeri. Jumlah itu diketahui berdasarkan survei geografi dan toponimi yang berakhir pada tahun 2010 dan telah dilaporkan kepada Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
Saya berkesempatan mengunjungi Taman Wisata Takabonerate pada November 2011, Pulau Samalona lalu gugusan Kepulauan Spermonde pada Mei tahun ini. Menikmati secuil keindahan surga yang dimiliki Indonesia. Begitu banyak keindahan bertaburan di gugusan kepulauan dan daratan negara tercinta kita. Sungguh sayang, jika kita lebih memilih menghabiskan uang dengan berwisata ke luar negeri tanpa menikmati apa yang kita miliki terlebih dahulu. Meski, tentu saja membutuhkan waktu yang sangat panjang jika ingin meresapi seluruh surga yang disajikan negeri ini.
Namun, bagi Afdal Hakim, waktu dan dana bukan halangan untuk mewujudkan rasa cintanya pada Indonesia. Adal, panggilan akrab pejalan berusia 26 tahun itu hanya butuh restu ibu untuk mewujudkan mimpinya: mengenal Indonesia lebih dekat. ”Dari kecil saya menghormati merah putih, kalau tidak melihat sendiri Indonesia itu seperti apa, rugi saya”, ungkap pemuda asal Minangkabau ini.

Adal tdk sekadar menikmati alam Papua tapi juga ikut merasakan kehidupan masyarakatnya, termasuk memakai koteka. (koleksi pribadi)

Melihat langsung bumi pertiwi dari dekat dan merasakan sambutan anak negeri yang hangat menyadarkan Adal bahwa orang Papua adalah orang yang tulus, hangat dan bersahabat, tidak seperti apa yang tampak dalam kotak kaca kita yang gemar menampilkan gambar perang antar suku. Selama setahun ia mengelilingi 14 kabupaten di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat tak sekalipun ia menerima penolakan.

“Orang Papua itu baik-baik, asal kita juga baik dan sopan”, ungkapnya pada sebuah kesempatan berteman secangkir kopi Wamena. Saya mengamininya saat itu, meski hanya sebulan saya pernah merasakan kehangatan dari orang-orang Papua di tengah dinginnya Lembah Baliem. Pada tahun 2006 dalam rangka penelitian, saya berkesempatan mengunjungi Kab. Jayawijaya yang beribukota di Wamena, kota kecil yang tepat berada di tengah-tengah Pulau Papua.
Melalui beberapa penelitian pula saya mengenal dan bersentuhan langsung dengan tanah air dan rakyat Indonesia. Dari beberapa daerah yang saya kunjungi, gambaran masyarakat Indonesia serupa dengan apa yang Adal paparkan mengenai orang-orang Papua. Tak peduli suku apapun, kehangatan dan siap menerima siapa saja dengan tangan terbuka dan keindahan alam serta kekayaan budaya adalah hal yang paling Indonesia.
Berbeda dengan apa yang sering televisi tampilkan, orang-orang Indonesia di pelosok-pelosok negeri adalah orang-orang yang tulus dan ramah. Meski, pada beberapa bagian Indonesia, biasanya di perkotaan, hal-hal tersebut mulai tergerus oleh tuntutan dan tekanan hidup yang tinggi, tetap saja hal-hal tersebut selalu menimbulkan kerinduan untuk merasakan dan meresapinya secara langsung.
Kerinduan itulah yang membuat saya langsung mengiyakan ajakan sahabat tadi. Naik gunung untuk mengenalkan anak, dari sahabat yang menelpon, pada alam dan masyarakat Indonesia lebih awal. Anak sahabat itu baru berusia 2.5 tahun. Tanpa memerhatikan kondisi fisik yang tak lagi tangguh untuk naik gunung, kerinduan itu menjadi pemicu semangat dan pemacu tenaga. Juga untuk mengulang kisah konyol kami 13 tahun silam saat masih berstatus mahasiswa baru.
Saat itu, kami berempat mendaki gunung Bawakaraeng tanpa persiapan dan peralatan memadai. Bekal saya hanya satu, semangat yang muncul setelah membaca Catatan Seorang Demonstran – Soe Hok Gie. Ketiga teman saya masih jauh lebih baik, mereka masih segar setelah mengikuti pelatihan dan pendidikan dasar pada kegiatan ekstra kurikuler yang mereka ikuti seperti Korps Pencinta Alam Unhas dan Unit Kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam Edelweis Fak. Sastra Unhas.

di Talung, Bawakaraeng, sesaat sebelum turun ke Lembah Ramma'

Hasilnya, pendakian kami saat itu tentu saja mengecewakan. Kami tak berhasil mencapai puncak gunung Bawakaraeng. Pendakian itu berakhir pada pos lima. Hujan dan peralatan minim membuyarkan keinginan kami untuk sampai puncak. Tanpa tenda dan sleeping bag, jadilah kami bermalam di pos lima dengan hanya mengandalkan terpal sebagai penahan hujan. Untuk menghangatkan badan, kami tidur bertumpuk bergantian dan saling memeluk satu sama lain. Untunglah kami bisa bertahan saat itu dan tidak mengalami hal buruk, tapi meninggalkan kesan yang amat mendalam; keramahan dan ketulusan penduduk di kaki Gunung Bawakaraeng dan keindahan alam Desa Lembanna.
Pengalaman pertama itu mengendap dalam ingatan dan mendorong keinginan-keinginan untuk mengenal lebih jauh Indonesia. Saya kemudian melakukan perjalanan-perjalanan ke gunung, penyusuran gua dan mengunjungi pulau-pulau Indonesia. Dalam setiap perjalanan saya menemui hal yang sama; keindahan alam, keberagaman budaya dan keramahan Indonesia.
Saya merasa sangat beruntung bisa menginjakkan kaki di sebaran surga bernama Indonesia. Perjalanan-perjalanan itu pula yang menumbuhkan kecintaan pada negeri ini. Kecintaan itu kemudian membuat saya merasa perlu mengabarkan apa yang saya temui, rasa dan dengarkan kepada orang lain melalui ranah media sosial berupa tulisan di blog atau kicauan di twitter. Aktivitas di media sosial yang kini bisa dilakukan meski berada di daerah pelosok dan sulit terjangkau sekalipun karena adanya provider yang juga paling Indonesia, Telkomsel.

 

 


Pre Event Festival Rajutan Indonesia

PRESS RELEASE PRA-EVENT FESTIVAL RAJUTAN INDONESIA

 

Festival Rajutan Indonesia (FRI) merupakan event rajutan Indonesia terbesar yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Juni dan Juli. Kegiatan ini diadakan sejak tahun 2009 dan melibatkan para perajut dan pengrajin dari seluruh Indonesia, juga dukungan komunitas atau personal yang peduli terhadap kegiatan atau aktivitas kreativitas di Indonesia.

Tahun ini, Festival Rajutan Indonesia 2012 mengusung tema “Merajut Persahabatan”. Dipusatkan di Bandung yakni Balubur Town Square pada 30 Juni hingga 1 Juli 2012. Meskipun berpusat di Bandung, tapi Festival Rajutan Indonesia 2012 juga dimeriahkan di berbagai kota dari Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Batam, Palembang, Lampung, Jabodetabek, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Blitar, Pontianak, Banjarmasin, Manado, dan Makassar.

Ini adalah tahun pertama kota Makassar mengikuti kegiatan pra-event Festival Rajutan Indonesia 2012 dengan melibatkan pengrajin-pengrajin rajutan dan kerajinan tangan lainnya sebagai semangat awal membangun kreativitas serta mempopulerkan kerajinan buatan tangan (handmade).

Quiqui’, nama lain Komunitas Perajut Makassar terbentuk pada September 2011. Komunitas ini berproses secara independen dan mandiri. Belajar dan berbagi pengalaman secara terbuka dan tanpa batas usia. Tahun 2012, Quiqui’ mulai berkembang dan menjadi perbincangan di beberapa komunitas lain hingga meramaikan hampir seluruh stasiun radio di Kota Makassar. “Publikasi itu sangat membantu komunitas dalam menkampanyekan penggunaan barang buatan tangan (handmade) dan menekan predikat konsumtif pada masyarakat Makassar,” kata Fitriani A. Dalay, salah satu perajut dan anggota komunitas.

Menariknya, Quiqui’ tak sekadar merajut dan merenda. Komunitas ini juga menunjukkan kepedulian terhadap isu-isu sosial seperti gender, pendidikan seks, dan kesehatan reproduksi.

Pada pra-event Festival Rajutan Indonesia 2012, Quiqui’ akan membuat Yarn Bombing atau Bom Benang. Yarn Bombing merupakan salah satu jenis seni mural yang menampilkan warna-warni benang yang telah dirajut atau direnda dan ditampilkan dengan cantik di fasilitas umum atau benda-benda yang dapat dilihat secara terbuka oleh masyarakat. Konsep ini (Yarn Bombing) baru pertama kali akan diperkenalkan dan diselenggarakan di Makassar, mungkin juga di Indonesia.

Yarn Bombing akan menyelimuti salah satu pohon mangga besar yang berdiri tegak di halaman Kampung Buku yang terletak di Jalan Abdullah Daeng Sirua nomor 192 E. Selain pohon, rumah beserta beberapa perabot juga akan dihias dengan rajutan bunga-bunga dan hiasan lainnya dalam bentuk rajutan.

Selain Yarn Bombing, Quiqui’ juga menyiapkan beberapa agenda lain yakni: Pelatihan Dasar Merajut, Pelatihan Dasar Merenda, Workshop Kreasi Cake Flanel, Workshop Pocket Book, Workshop Pembuatan Bros dari Kain Satin, Workshop menyulam, Pelatihan Lanjutan Merajut, Pelatihan Lanjutan Merenda, Workshop Yubiami, Diskusi Kesehatan Reproduksi dan Workshop Pemeriksaan Payudara Mandiri, Pameran Karya dan Pasar Handmade.

Menurut Sartika Nasmar, merajut memberi banyak manfaat kepada seseorang yang gemar melakukannya. Untuk kesehatan tubuh baik fisik maupun psikis. Merajut juga digunakan untuk terapi kesabaran dan konsentrasi serta melatih seseorang mengatasi keseimbangan emosi. Dalam bidang kesehatan pun, merajut dapat membantu proses pemulihan penyakit kronis seperti kanker, trauma otak, dan anak penderita Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD), yaitu gangguan prilaku yang ditandai dengan gangguan konsentrasi, impulsif, dan hiperaktif.

“Merajut bahkan bisa digunakan untuk yoga dan terapi kesehatan,” jelas Sartika Nasmar.

Selain itu, pada Festival Rajutan Indonesia ini, Quiqui’ berharap masyarakat akan lebih mencintai kerajinan tangan. Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan rajutan, membuat tempat minum anak sekolah, tempat pensil, dompet kecil, hingga tas sekolah. Ini tentu akan mengurangi pengeluaran setiap bulan.

Pra-event Festival Rajutan Indonesia wilayah Makassar akan berlangsung pada tanggal 23 – 24 Juni 2012 di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua No. 192 E, Kompleks BTN CV Dewi (tepat samping Kantor Lurah Pandang), Kota Makassar.

 

TENTANG KAMI

Komunitas Perajut Makassar Quiqui’ adalah komunitas non profit yang membuat perkumpulan berdasarkan hobi yang sama yakni merajut. Terbentuk pada September 2011. Quiqui’ merupakan komunitas yang bersifat cair dan terbuka pada siapa saja yang ingin bergabung serta belajar bersama mengenai merajut.

Contact Person :

Fitriani A. Dalay : 081543477117

alamat baru bakti

BaKTI Pindah Rumah

Mulai Juli 2012, Yayasan BaKTI akan pindah alamat ke:

Jl. Mappanyuki No. 32
Makassar 90125

No telepon:
+62 411 832228 dan +62 411 833383

No Fax:
+62 411 852416

 

Sejak didirikan pada tahun 2004, Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) memusatkan perhatian pada:

-          Saling berbagi pengetahuan/pelajaran daerah mengenai pemerintahan, pelayanan publik dan pengurangan kemiskinan

-          Menjembatani dan membangun jaringan di antara para tokoh reformasi di daerah

-          Mempersiapkan wadah bagi tokoh reformasi untuk dapat saling berbagi keberhasilan dan mendorong perubahan lebih lanjut

BaKTI (sebagai salah satu komponen Kantor Pendukung Kawasan Timur Indonesia atau dikenal dengan SOfEI) diadministrasi oleh Bank Dunia sejak pembentukannya. Pada tahun 2009, untuk memperkuat rasa memiliki masyarakat daerah dan untuk memantapkan arah dalam pelaksanaan kegiatannya, BaKTI kemudian menjadi Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia atau Yayasan BaKTI. Peralihan menjadi yayasan memenuhi aspirasi para staf dan pemangku kepentingan di daerah, yang memang hadir sejak awal.

BaKTI adalah sebuah organisasi yang mengumpulkan dan menyebarkan informasi tentang seluruh program pembangunan dan bantuan untuk pembangunan Kawasan Timur Indonesia.

Praktik cerdas (smart practices) menjadi landasan bagi BaKTI dalam bekerja. Menawarkan solusi cerdas merupakan langkah yang lebih efektif ketimbang menghadirkan sejumlah teori dan rencana pembangunan yang rumit dan sulit diterapkan. Begitu banyak kegiatan skala desa dan kampung yang berhasil dilakukan dengan mengatasi kendala, dilakukan dengan pendekatan yang unik inovatif dan kreatif. Kesemuanya dapat menjadi inspirasi untuk mendorong perubahan Kawasan Timur Indonesia ke arah yang lebih baik.

Apa yang BaKTI lakukan?

Mendukung aktor pembangunan untuk berkolaborasi dan mengharmonisasi berbagai inisiatif:
BaKTI melakukan koordinasi dan harmonisasi program-program pembangunan, menyediakan layanan information help desk dan fasilitas publik seperti ruang pertemuan dan perpustakaan. Mendorong aktor-aktor pembangunan untuk saling belajar satu sama lain dan bebagi pengetahuan untuk meningkatkan kualitas program pembangunan.
BaKTI memproduksi majalah BaKTINews, mengelola portal pembangunan KTI www.batukar.info, melaksanakan pelatihan knowledge sharing, dan menyelenggarakan diskusi reguler Praktik Cerdas dan kebijakan pembangunan.

Menyediakan media dan membangun mekanisme agar aktor pembangunan dapat memberi hasil dan input terhadap agenda pembangunan
BaKTI menjadi sekretariat bagi Forum Kawasan Timur Indonesia (Forum KTI). Forum KTI ini bersifat independen dan terbuka yang secara aktif mendorong dan mengembangkan kemitraan para pihak serta mendorong inovasi sosial dalam menjawab tantangan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia.
Forum KTI berfungsi menjalin hubungan multi-pihak dan memfasilitasi upaya berbagi pengalaman dalam menciptakan perubahan positif dan solusi cerdas dalam mengatasi berbagi masalah pembangunan Kawasan Timur Indonesia.
Anggota Forum KTI berasal dari unsur pemerintah, legislatif, akademisi, organisasi non pemerintah, dan sektor swasta yang terlibat dalam pembangunan di 12 provinsi di wilayah Papua, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sulawesi.
Dalam Forum KTI juga terdapat dua sub-forum, yakni Forum Kepala BAPPEDA se-KTI yang beranggotakan 12 kepala BAPPEDA Proinsi se-KTI dan Jaringan Peneliti Kawasan Timur Indonesia yang beranggotakan para peneliti dari perguruan tinggi dan badan penelitian.

Memberi dukungan terhadap program pembangunan
BaKTI menyediakan layanan pengelolaan pengetahuan dalam isu desentralisasi dan pengelolaan keuangan publik dan mendukung revitalisasi sektor pengetahuan untuk kebijakan pembangunan.

senja di spermonde

Spermonde 1: Ada Eda di Barrang Lompo

Tangan Tuhan ada di mana-mana, hadir dalam wujud teman. Saya meyakini hal itu sejak jaman kuliah.  Terkadang, saya menginap di kampus selama seminggu tanpa uang sesen pun tapi masih bisa makan dan merokok. Semua berkat pengejawantahan tangan Tuhan berupa teman. Mereka hadir menawarkan pertolongan, entah melalui traktiran tulus atau bermotif curhat, juga tawaran kerjaan lepas yang menghasilkan uang.

Begitu pun dengan surga, Tuhan menaburkannya di mana-mana. Tinggal bagaimana kita menjelajahi bumi ciptaannya. Tak perlu menjadi kaya untuk bisa mencari surga-surga itu. Cukup dengan memperbanyak teman, lalu keberuntungan pun akan selalu menyertai.  Saya sangat beruntung bisa menginjakkan kaki pada beberapa surga yang ada di Pulau Sulawesi. November 2011 saya berkesempatan menikmati Takabonerate, tanpa mengeluarkan biaya alias gratis.

Awalnya, saya tak terpilih mewakili Anging Mammiri sebagai peserta melalui mekanisme yang sudah ditentukan komunitas. Saat itu, harapan untuk menikmati keindahan laut Spermonde melalui kegiatan Press Tour and Marine Excursion itu pun sirna. Padahal keinginan tuk mengikuti kegiatan yang digagas oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Sulsel dan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia Sulsel ini sangat besar. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan keindahan deretan gugusan kepulauan Spermonde dengan mengundang jurnalis media cetak dan televisi serta blogger dalam hal ini Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri.

Keberuntungan  kembali menaungi. Seorang teman mengirimi saya sms menanyakan kesediaan ikut menjadi peserta Press Tour and Marine Excursion di gugusan Kepulauan Spermonde yang digelar 18 – 20 Mei. Saya diminta menggantikan teman untuk mewakili Koshmedia tama, perusahaan yang menjadi rekanan DisBudPar Sulsel.

Sore, sekira pukul 15:30 bersama Ipul Dg Gassing, Mamie Lily, dan Iqko Beruang yang mewakili Anging Mammiri, saya dan Mustamar dari Koshmediatama tiba di Pelabuhan Kayangan yang berada tepat di depan Benteng Rotterdam. Kapal Muat Penumpang (KMP) Novita Sari sudah menunggu kami. Pukul 16:21 Novita Sari membawa 31 peserta dan belasan instruktur diving beserta kru. Kapal berkapasitas 100 orang ini sehari-harinya adalah kapal penumpang reguler rute Makassar – Barrang Lompo dan pulau sekitarnya.

Pulau Samalona adalah tujuan pertama kami. Pulau yang berpenghuni tujuh KK ini adalah salah satu pulau dari 130an pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Spermonde yang membentang dari Kab. Takalar hingga Pare-Pare ini. Samalona adalah pulau yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Perjalanan hanya membutuhkan waktu sekira 30 menit dengan speed boat.

Novita Sari tak bersandar di dermaga, kami hanya melakukan sight seeing di pulau yg juga sering dikunjungi oleh para penyelam untuk snorkling dan diving ini. Pantai pasir putih dan biota laut menjadi daya tarik yang memikat untuk berkunjung ke pulau ini. Selain keindahan laut dan karang-karangnya, pulau ini juga menyimpan bukti sejarah. Di perairan Pulau Samalona, kita dapat menemukan jejak jejak kapal perang sisa peninggalan pada Perang Dunia II.

Setelah puas memandangi Samalona dari atas kapal, perjalanan kami berlanjut menuju Pulau Barrang Lompo yang berjarak 13 km dari Makassar dan dapat ditempuh dengan transportasi reguler dengan kapal motor, biayanya Rp. 10.000,- per orang sekali jalan.  Menjelang magrib kami tiba di dermaga Barrang Lompo. Pulau yang termasuk wilayah Kecamatan Ujung Tanah, Makassar ini menjadi pilihan bersandar untuk makan malam rombongan, juga untuk menunggu ombak dan angin reda.

Saya, Iqko dan Mus kemudian memilih mengitari pulau yang berpenghuni  4000an jiwa ini. Kami menyusuri jalan setapak yang terbuat dari paving block. Belum berapa jauh perjalanan, kami sudah menjumpai setidaknya lima motor baru tanpa plat. Indikasi tingkat kesejahteraan masyarakat yang dapat terlihat jelas. Belum lagi bentuk rumah-rumah penduduk yang kami lalui memberi gambaran bahwa sebagian besar penduduk pulau seluas 19 ha ini tergolong sejahtera.

Kami juga menjumpai  setidaknya tiga arena bilyard. Tempat berkumpul anak muda ini biasanya berbentuk tanah kosong yang diberi dinding dari tenda warung atau bekas spanduk dan baliho dengan satu atau dua meja bilyar. Tak hanya usia remaja yang terlihat bermain, tapi juga usia sekolah dasar.

Salah satu sarana tempat berkumpul anak muda terbaru di pulau ini adalah hadirnya kafe. Setidaknya ada dua kafe; Kafe Ona dan Kafe Eda. Kafe Ona ini hanyalah sebuah tempat makan biasa yang dibuka di teras salah satu rumah penduduk. Malam itu kafe ini tutup, hanya spanduk yang berisi daftar menu yang menjadi penanda tempat ini adalah kafe.

foto: IqkoBeruang

Kafe lainnya adalah Kafe Eda. Tempat kumpul anak muda ini tergolong baru, buka pada februari 2012. Adalah Sahabuddin, seorang penduduk asli Barrang Lompo yang mencoba peruntungan dengan memanfaatkan lahan seluas 10×15 meter kepunyaannya. Kini, lelaki yang masih melanjutkan pekerjaannya sebagai pedagang minyak dan garam ini bisa mendapatkan keuntungan berkisar Rp. 75.000,- hingga Rp. 200.000,- setiap malam. “Kalau malam biasa, pemasukannya seratus lima puluh ribu, paling ramai kalo malam minggu. Sampai empat ratus ribu. Nah untungnya, setengah dari pemasukan.” Ungkap lelaki yang berusia 42 tahun ini. Bisa dibayangkan bagamaimana ramainya pengunjung kafe yang biasa dilayani oleh Eda, putri Sahabuddin. Secara berkelakar,  kami menduga salah satu daya tarik kafe ini adalah gadis manis bernama Eda itu.

Beralas pasir putih dan berdinding baliho dan spanduk bekas, kafe ini mengarah tepat ke laut arah barat. Saya membayangkan lanskap yang menyajikan pemandangan senja yang menarik. Tentu menyenangkan jika duduk bermalas-malasan di kafe ini sembari membaca buku dan ditemani segelas teh hangat, menunggu terbenamnya matahari. Sayang, kami tiba di sini pada malam hari.

Pulau ini bisa menjadi salah satu pilihan rekreasi bagi warga Makassar atau luar daerah. Selain sarana transportasi reguler sudah tersedia, fasilitas umum juga sudah cukup memadai. Untuk akomodasi, pengunjung bisa memanfaatkan penginapan milik “Marine Field Stasiun Universitas Hasanuddin”. Bisa juga menyewa kamar yang disediakan H. Daring, pemilik Novita Sari. Untuk semalam, ia menawarkan Rp. 50.000 per kamar yang bisa ditempati hingga empat orang.

Beberapa spot di perairan pulau ini menarik bagi pecinta bawah laut. Sekitar dermaga adalah salah satu titik snorkling dengan kehidupan ikan dan karang yang masih terjaga meski pada beberapa titik karang-karang sudah hancur akibat penjarahan yang tidak ramah lingkungan. Selain pemandangan bawah laut, pulau ini juga menawarkan wisata sejarah dan budaya berupa makam-makam tua dari abad ke XIX.

Selepas menyantap makan malam di Kafe Eda, kami memutuskan untuk kembali ke dermaga dan naik ke Novita Sari. Menjelang pukul 00:00, angin dan ombak sudah mulai reda. Dan, kami siap untuk petualangan yang lebih seru…