#10ThnBaKTI: Arie Kriting dan Presiden Dari Timur

“Kita sudah pernah punya presiden perempuan, tapi kita belum pernah punya presiden dari timur” begitu pernyataan Arie Kriting di depan ratusan undangan perayaan ulang tahun Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia.

Arie Kriting Melawan Stigma (foto: @akbermks)

Arie Kriting Melawan Stigma (foto: @akbermks)

Arie Kriting sedang tidak orasi atau berkampanye, ia juga sedang tidak melawak. Komedian lulusan Stand Up Comedi Indonesia (SUCI) 3 ini sedang memaparkan presentasinya. Arie, yang lahir di Wakatobi ini diundang oleh BaKTI untuk berbagi cerita. BaKTI mengundangnya karena komedian ini kerap mengusung isu-isu pembangunan yang sedang dihadapi oleh masyarakat Kawasan Timur Indonesia. Lawakan Arie memang khas, ia sering menyindir berbagai ketimpangan yang terjadi di KTI. Juga bagaimana stigma-stigma negatif seperti; kuat makan, kasar, pemberang dan keras yang terlanjur melekat pada masyarakat KTI. Stigma inilah yang menjadi perhatian Arie dalam presentasinya yang berjudul Melawan Stigma Dengan Komedi. Arie bercerita bagaimana pengalamannya saat masa-masa orientasi mahasiswa baru di kampusnya. Setiap tahun, ia dan teman-temannya yang berasal dari timur selalu dikumpulkan untuk menjalani seleksi kepanitian seksi keamanan. Tentu karena stigma bahwa orang-orang timur itu kuat dan keras, cocok sebagai tenaga keamanan. “Saat terjadi tawuran, kami-kami yang berkulit hitam dan keriting ini yang disuruh maju” Arie melanjutkan ceritanya tentang stigma tadi. Orang-orang timur dianggap kuat berkelahi karena kuat makan, “padahal kan tingkat kekurangan gizi justru paling tinggi di Kawasan Timur Indonesia. Masa kita yang kurang gizi yang disuruh maju?” sindir Arie. Arie yang kerap membawakan materi-materi sarat kritik sosial ini ingin melawan stigma-stigma melalui komedi. Menurutnya, sarana komedi akan jauh lebih efektif dibanding dengan berdemonstrasi. Dengan lelucon Arie yakin aspirasinya akan lebih didengar dibanding ketika ia bersuara di jalanan. “Komedi adalah jembatan komunikasi yang efektif”, terang Arie lalu dengan bercanda ia mengungkapkan bahwa ia memilih jadi komedian biar lebih terkenal. Bagi Arie, masyarakat Indonesia bagian timur adalah masyarakat tangguh menghadapi segala kekurangan. Dengan komedi, ia merasa bebas membahas hal-hal serius semacam ketimpangan pembangunan di Indonesia bagian timur. “Bayangkan jika kita membahas hal menyedihkan, dengan cara menyedihkan juga, maka semakin terpuruklah kita”, kata Arie lalu memberi contoh sebuah lelucon tentang minimnya prasarana kesehatan di sebuah desa di Papua. Melalui lelucon itu ia mencontohkan bagaimana orang-orang Papua mampu mengubah kesedihan menjadi sebuah hal yang mampu mereka tertawakan. Orang-orang Papua menanggapi segala masalah dengan lelucon yang disebut dengan mop, kumpulan lelucon yang sarat sindiran. Tradisi mop ini selalu hadir dalam pertemuan orang-orang Papua. Komedian yang menjadi juara ke 3 pada SUCI season 3 ini juga meminta beberapa undangan untuk mengucapkan ‘satu, dua, tiga’, lalu melanjutkan ceritanya. “Selama keliling Indonesia timur, saya tak pernah menjumpai ada orang timur yang menghitung dengan cara seperti yang ada di tivi-tivi” lanjut Arie. Yang ia maksud adalah pengucapan ‘satu dua tigaaa’ dengan intonasi yang panjang pada suku kata terakhir. Media, menurut Arie, berperan penting dalam penyebaran stigma-stigma negatif yang kemudian dipercayai oleh generasi penerus di timur Indonesia. Untuk itulah ia melawan melalui medium yang ia pilih yaitu komedi. Komika yang sudah membintangi dua film ini mengambil contoh Bill Cosby. Komedian berkulit hitam ini juga mencoba menetralisir stigma buruk pada warga Afro-Amerika melalui stand up comedy. “Cosby sangat menghindari makian dan umpatan dalam materinya karena itu sangat identik dengan warga kulit hitam” terang Arie. Dalam The Cosby Show, film seri yang sangat hits di era 80an ini, Bill Cosby mengangkat kisah keluarga Dr. Huxtable, sebuah keluarga menengah atas Afro-Amerika. Melalui situation comedy ini, Bill Cosby ingin mengikis stempel bahwa keluarga kulit hitam itu miskin dan bodoh. Kisah-kisah The Cosby Show ini merupakan adaptasi dari materi-materi stand up yang ia ambil dari apa yang terjadi dalam keluarganya sendiri. Upaya Bill Cosby berhasil, itu terlihat 25 tahun kemudian ketika warga Amerika memilih Barack Obama, presiden pertama dari kulit hitam. Arie pun menyandingkan foto Bill Cosby dan Barack Obama dalam slide presentasenya. Slide berikutnya membuat undangan tertawa ketika melihat Arie menyandingkan dirinya sebagai komedian dan Noverius Nggili sebagai presiden Indonesia 25 tahun kemudian. “25 tahun ke depan, kita harus punya presiden dari timur” tegas Arie yang disambut tepuk tangan para undangan.

Arie Kriting dan Presiden Dari Timur [foto: @infoBaKTI]

Arie Kriting dan Presiden Dari Timur [foto: @infoBaKTI]

Lalu siapa Noverius Nggili yang Arie maksud? Ia adalah kordinator Geng Motor iMuT, Kupang, NTT, yang  menjadi salah satu pembicara yang diundang oleh BaKTI untuk berbagi kisah praktik cerdas dalam perayaan ulang tahun ke 10 BaKTI ini. 

Baca juga Noverius Nggili, Presiden Geng Motor Imut

[tulisan ini bagian pertama dari dua tulisan tentang #10ThnBaKTI]

Related Posts

About The Author

4 Comments

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.